24 Juni 2024

Kebijakan Peralian Penyerapan dari Beras ke Gabah

0

Bupati saat mengawal pengiriman beras ke Jayapura dan Timika. Foto: PSP/WEND

Bupati Optimis Ada Solusi Pemerintah untuk Petani

Merauke,PSP-Kebijakan peralihan penyerapan Bulog dari beras ke gabah kering, memunculkan  polemik di tengah masyarakat khususnya para petani. Meski dinilai oleh sebagaian kalangan bahwa kebijakan tersebut tidak berpihak kepada petani, namun sisi lain ada dampak positif yang memberikan kemanfaatan bagi petani.

Menanggapi hal itu, Bupati Merauke, Frederikus Gebze, SE, M.Si optimis pasti ada solusi yang dilakukan pemerintah kepada para petani. Pasalnya, setiap kebijakan yang diambil pasti ada kurang dan lebihnya.

Baca Juga : Bulog Optimis Peralihan Kebijakan Penyerapan Beras ke Gabah, Menguntungkan Petani

“Itu nanti kajian yang teknis, saya tidak terlalu ahli. Tapi saya yakin ada solusinya, kan dulu kita ambil berasnya, kalau sekarang kan terbalik, kita ambil gabahnya. Jadi tinggal mutar aja, nanti kan bisa diatur. Saya yakin ada harapan. Karena ini kebijakan nasional yang harus dianalisis, sehingga kita percaya, plus minusnya pasti ada,” kata Bupati Freddy kepada wartawan di di gudang Bulog Merauke, Sabtu (18/4).

Menurut Bupati, hal tersebut hanya masalah tehnis. Nantinya akan ada kajian yang lebih mendalam antara Bulog, Dinas Pertanian dan Mitra mengenai mekanisme pengelolaannya. Jika sebelumnya dengan mekanisme pembelian beras, petani hanya bisa menjual beras dengan harga sekitar Rp 7.200 ribuan perkilo dan bergantung pada kualitas panen yang variatif. Akan tetapi, dengan kebijakan baru ini, seluruh hasil panen nantinya bisa terbeli.

Baca Juga : 3000 Ton Beras Merauke Siap Digeser ke Jayapura dan Argapura

“Nanti masalahnya itu kan teknis ya, kajiannya dilakukan oleh mitra dan dinas. Kalau kami berasusmsi dulu petani dapat 100 karung setelah digiling, kalau kualitasnya rendah petani dapat 50 karung, dengan harga beras Rp 7.200 an. Tetapi kalau dengan gabah, berapa pun hasil panenanya, itu bisa diserap gabahnya. Karena berdasarkan kajian kami, kalau 100 karung gabah bisa terjual, setengah dari hasil yang dia dapatkan. Kalau tidak bisa terbeli akhirnya menumpuk di belakang rumah, ini sangat disayangkan,” ungkapnya.

Meski demikian beberapa petani banyak yang mengeluhkan dengan kebijakan pembelian gabah, petani tidak lagi bisa memperoleh dedak dan menir sebagai bahan pakan ternak. Bupati Freddy yakin bahwa nantinya akan ada solusi yang bisa ditemukan untuk menjawab permasalah ini. “kita akan segera membentuk tim untuk menganalisa dampak baik buruknya. Tim yang dibentuk akan turun lapangan memberikan gambaran,” pungkasnya. [WEND-RH]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *