Bangkitkan Komoditi Karet, Petani Butuh Penampung Resmi
Egenius Beljai
Merauke, PSP – Komoditi karet di Merauke telah ada sejak jaman Belanda. Sebagian besar perkebunan karet Merauke tersebar di Distrik Elikobel dan Jagebob. Hasil dari komoditi karet tersebut cukup mengangkat ekonomi para petani karet pada masa itu. Akhirnya pemerintahpun memperluas area perkebunan karet sejalan dengan program transmigrasi.
Tetapi sejak 2003 sampai saat ini, Komoditi karet tidak lagi bisa lagi diandalkan untuk dijadikan pendapatan para petani. Faktor pemasaran menjadi salah satu penyebab komoditi karet di Merauke mati suri. Dengan adanya kesulitan itu, petani karet berharap betul adanya bantuan intensif (sungguh-sungguh) dari pemerintah untuk menghidupkan kembali komoditi karet.
Salah satu Petani karet di Kampung Kweel, Distrik Elikobel, Egenius Beljai mengatakan sejak 2003 tidak ada lagi pengusaha yang mau tampung karet. Akhirnya, ia bersama petani lainnya berhenti menyadap karet tersebut. “ Saat ini kebun karet yang kami miliki sudah jadi hutan. Kami ingin kembali mengolah perkebunan karet tersebut, tetapi belum ada pengusaha atau penampung hasil karet kami,” kata Egenius saat bertandang ke Kantor Redaksi Papua Selatan Pos, Senin, 3/5/2021.
Ia menuturkan maksud kedatangannya ke Kantor Papua Selatan Pos, ingin menyuarakan keinginannya bersama petani lain agar diberikan perhatian dan bantuan oleh pemerintah, agar mereka dapat diberikan solusi untuk kembali mengolah kebun karet tersebut.
“ Kami hanya ingin pemerintah bisa mendatangkan pengusaha atau penampung resmi untuk membeli karet kami, seperti yang tahun-tahun yang dulu. Sempat ditahun 2003 harga karet satu kilonya Rp. 25.000,- ” tutur Egenius yang sudah menjadi petani karet sejak tahun 1961.
Egenius menerangkan bahwa hampir setiap KK (Kepala Keluarga) di Kampungnya memiliki kebun karet. “ Setau saya, kebun karet tersebar di enam Kampung yaitu Bupul, Tanas, Erambo, Poh, Jagebob dan Toray. Hampir semua KK memiliki kebun karet, rata-rata setiap KK memiliki satu hektar,” terang Egenius yang juga Ketua adat di Kampung Kweel.
Egenius mengungkapkannya sejak tidak mengolah kebun karet terpaksa ia dan warga lain berganti pekerjaan. “ Mau tidak mau, untuk menghidupi keluarga, kami menangkap ikan atau berburu rusa,” ujarnya.(NAL-LRM)
