Fredy Gebze: Kami Tidak Kalah Bertarung, Tapi Kalah ‘Politik’ Nilai
Kedatangan Fregeb disambut hanggat oleh para pendukungnya. Foto: PSP/WEND
Merauke, PSP – Tiba di Bandara Mopah, Rabu (9/9), Bupati Merauke, Frederikus Gebze disambut tangis haru oleh ratusan simpatisan pendukungnya yang telah menanti di terminal kedatangan. Mereka memeluk dan memberikan salam kepada orang nomor satu di Merauke ini. Tampak Fredy Gebze sapaan akrabnya menenangkan para simpatisan dan pendukungnya yang terus menerus meneriakkan namanya.
Tidak sampai disitu, Fredy Gebze kembali disambut ratusan pendukung dan simpatisannya di luar Bandara Mopah. Selanjutnya iring-iringan roda empat dan dua mengarak dari bandara Mopah ke Sekertariat Fregeb di jalan Marind.
Dalam kesempatan itu, Fredy Gebze dihadapan massa pendukung dan simpatisan menilai bahwa dirinya tidak mengalami kekalahan. Ia mengaku bahwa ia hanya kalah dalam politik nilai.
“Kami tidak kalah bertarung, tetapi kami kalah politik nilai. Nilai itu bahkan bisa melunturkan jati diri, identitas keaslian, martabat sebagai anak-anak di negeri ini,” ujar Fredy.
Menurut Fredy Gebze, demokrasi saat ini bernilai sangat mahal. Bahkan untuk bisa membelinya, seringkali kepantingan rakyat diabaikan. Selain itu, dengan mahalnya demokrasi, identitas, jati diri, akan digadaikan demi kekuasaan.

“Kalau demokrasi itu sudah dibeli, dan kemudian dibeli dengan harga yang mahal. Berarti sudah pasti bukan untuk rakyat, sudah pasti tidak untuk rakyat, sudah pasti bukan untuk kepentingan rakyat. Kita jaga demokrasi di tanah kita. Karena demokrasi itu mahal. Saking mahalnya identitas, jadi diri, dan tanah bisa digadaikan demi sebuah demokrasi,” tegasnya.
Kepada para pendukungnya, ia menegaskan bahwa sebagai pemimpin daerah, ia tidak akan mengejar kekuasaan dengan berbagai daya upaya yang pada akhirnya rakyat akan menderita.
“Kalau saya sebagai pimpinan daerah, mau mengejar kekuasaan, maka dampaknya nanti rakyatnya yang menderita. Apa artinya bahwa saya akan melakukan daya upaya dan pemaksaan untuk mengambil sebuah kekuasaan yang itu dari rakyat,” tandasnya.
Dengan kembalinya dirinya ke Merauke, ia merasa menang. Pasalnya, ia merasa tidak mengadaikan dirinya dan tanah ini untuk kembali memperoleh kekuasaan. Menurutnya, seorang pemimpin yang ingin maju kedua kalinya, harus bermodalkan ambisi, dan keangkuhan.
“Saya kembali dengan merasa menang, saya tidak mengadaikan diri saya, tidak menggadaikan tanah ini untuk mendapat kekuasaan. Makanya saya menang, kalau mau jujur, namanya seorang pimpinan untuk maju kedua kali, pasti dia harus ambisi, egois, sombong,” tambahnya.
Selain itu, ia menilai bahwa tidak ada seorang pemimpin yang sempurna bisa memimpin dengan baik dengan waktu yang singkat. Bahkan dari awal mula negeri ini berdiri, hingga kini kemiskinan tetap saja terjadi.
“Memang kita bangun tanah ini, kalau bilang kurang, pasti kurang. Kalau bilang pelayan masih belum, pasti masih belum. Karena tidak ada seorang pimpinan yang bisa sempurna dalam 5 tahun bisa melayani. Zaman Soekarno sampai dengan hari ini, masih tetap ada orang miskin. Itu menandakan, tidak ada seorang pemimpin bisa menyelesaikan masalah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” ungkapnya. Selanjutnya, ia juga menyampaikan apresiasinya kepada para pasangan calon pemimpin yang telah memenuhi syarat pencalonan dan telah diterima oleh KPUD Merauke. “Saya menyampaikan apresiasi kepada saudara-saudara yang sudah dinyatakan lolos untuk maju sebagai calon pimpinan daerah, saya katakan demokrasi harus kita jaga dan kita lindungi. Karena demokrasi nilainya mahal. Saking mahalnya, orang bisa melakukan dengan berbagai cara,” ujarnya. [WEND-NAL]
