Ironis Serapan Beras Petani oleh Bulog Merauke Baru 8 Persen, Anggota DPR RI Kaget

Merauke, PSP – Anggota DPR RI Sulaeman L. Hamzah mengaku kaget setelah mengetahui penyerapan beras petani oleh Perum Bulog Cabang Merauke hingga Mei 2026 baru mencapai sekitar 8 persen dari target tahunan.
Hal itu disampaikan Sulaeman usai melakukan kunjungan reses ke gudang Bulog Merauke, Jumat (8/5). Dalam pertemuan tersebut, Bulog melaporkan realisasi penyerapan beras petani baru mencapai sekitar 2.200 ton dari target 27.500 ton tahun ini.
“Ya kita kaget juga, tidak biasanya penyerapan seperti itu. Banyak kendala sesungguhnya, karena di lapangan, khususnya sektor pertanian dan produksi gabah, dari waktu ke waktu terjadi pergeseran,” ujar Sulaeman kepada wartawan di gudang Bulog Merauke.
Menurutnya, rendahnya penyerapan tidak terlepas dari banyaknya gagal panen yang dialami petani akibat faktor cuaca ekstrem, termasuk dampak El Nino dan La Nina.
“Sekarang ini kelihatannya banyak juga yang gagal panen. Belum lagi kita menghadapi El Nino dan La Nina yang masih di luar dugaan kita. Karena itu perlu diantisipasi sejak dini dan mudah-mudahan Bulog dengan kesiapan yang ada bisa bekerja lebih maksimal,” katanya.
Selain persoalan produksi, Sulaeman juga menyoroti keterbatasan fasilitas penyimpanan Bulog di wilayah selatan Papua. Ia mengatakan Merauke masih kekurangan gudang, sementara cakupan pelayanan Bulog juga meliputi Kabupaten Mappi, Asmat, Boven Digoel hingga wilayah pegunungan seperti Yahukimo dan Nduga.
Menurutnya, pembangunan gudang baru sangat penting untuk memperkuat stok ketahanan pangan dan memperlancar distribusi logistik ke daerah-daerah terpencil.
“Bulog sebenarnya sudah sangat siap membangun, hanya respons daerah masih agak lambat. Kami berharap pemerintah daerah segera menyiapkan lahan supaya pembangunan gudang bisa segera dilakukan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gudang yang direncanakan dibangun di Kabupaten Mappi memiliki kapasitas sekitar 3.500 ton dan diharapkan menjadi titik distribusi logistik untuk wilayah pegunungan.
“Kalau di Mappi bisa tersedia stok 3.500 ton, pelayanan ke Yahukimo, Nduga, dan wilayah lain di pegunungan akan lebih mudah. Kalau semuanya harus dikirim dari Merauke tentu banyak kendala, mulai dari jarak hingga cuaca,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perum Bulog Cabang Merauke Karennu memastikan pihaknya tetap maksimal menyerap hasil panen petani meski produksi tahun ini menurun drastis akibat cuaca.
“Hingga hari ini kami sudah menyerap sekitar 2.200 ton atau sekitar 8 persen dari target 27.500 ton dan stok 4.200 ton. Memang sangat jauh dibanding biasanya karena curah hujan sejak Desember sampai Mei masih cukup tinggi,” jelas Karennu.
Menurutnya, kondisi cuaca berdampak langsung terhadap hasil panen petani di lapangan. Jika tahun lalu produksi gabah kering panen bisa mencapai sekitar 5 ton per hektare, tahun ini hasil panen turun tajam.
Karennu mencontohkan kondisi petani di Kampung Waninggap Sai, yang menanam sekitar 500 hektare lahan. Dari jumlah itu, sekitar 200 hektare mengalami gagal panen, sedangkan 300 hektare yang berhasil dipanen hanya menghasilkan sekitar 1,5 ton per hektare.
“Ini sangat ironis dan kasihan petani kita. Biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapat,” ujarnya.
Meski demikian, Bulog tetap optimistis penyerapan gabah dapat meningkat pada musim panen berikutnya. Bulog juga memastikan pelayanan pembelian gabah petani tetap dibuka setiap hari, termasuk akhir pekan dan hari libur nasional.
“Kalau petani mau jual, kami tetap layani. Gudang Bulog tetap buka sampai Sabtu dan Minggu. Jadi tidak ada persoalan dari sisi Bulog,” tegasnya. [ERS-NAL]
