MUHAMMADIYAH DI PERSIMPANGAN TRADISI DAN MODERNITAS
Penulis : Dwi Yuliatin Sholiah, SKM
Dosen Pengampu Mata Kuliah : Dr. Muh. Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A.
“Muhammadiyah berdiri bukan untuk memusuhi tradisi dan bukan untuk larut dalam modernitas, melainkan menuntun keduanya dengan nilai Islam.”
- Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya yang sangat kaya. Adat istiadat dan tradisi budaya hidup berdampingan dengan agama sebagai identitas masyarakat. Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah telah menunjukkan tujuan gerakan sosial-keagamaannya, yaitu purifikasidan modernisasi. Pendekatan purifikasi dimaksudkan untuk mengembalikan praktik keagamaan kepada sumber-sumber Islam, sedangkan modernisasi merupakan bentuk adaptasi terhadap zaman.
Agama dan budaya adalah dua hal yang saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat. Agama berfungsi sebagai pedoman moral dan spiritual, sedangkan budaya merupakan hasil pemikiran dan kebiasaan manusia dalam kehidupan sosial. Di Indonesia dengan beragam suku dan tradisi, hubungan antar agama budaya sering menimbulkan perbedaan sudut pandang, terutama antara upaya menjaga tradisi dan keinginan untuk memurnikan ajaran agama.
- Konsep Agama dan Kebudayaan dalam Perspektif Muhammadiyah
Agama dipahami sebagai wahyu Ilahi yang kebenarannya bersifat tetap dan berlaku bagi setiap manusia. Sedangkan budaya adalah kebiasaan atau cara hidup masyarakat yang bisa berbeda-beda di setiap Daerah dan berubah sesuai perkembangan zaman, serta kondisi sosial ekonomi dan politik. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran agama biasanya dijalankan melalui kebiasaan dan tradisi masyarakat, sehingga agama dan budaya sering saling berhubungan.
- Sikap Muhammadiyah terhadap Budaya Lokal
Muhammadiyah tidak menolak budaya secara keseluruhan, melainkan melalui seleksi kritis. Budaya bertentangan dengan budaya tauhid, seperti praktik mistis dan ritual yang mengandung unsur syirik. Sebaliknya, budaya yang bersifat sosial dan etis dapat diterima bahkan dikembangkan. Contohnya, dalam Pendidikan dan seni, Muhammadiyah memanfaatkan budaya modern untuk dakwah.
- Jalan Tengah antara Tradisi dan Modernitas
Sikap Muhammadiyah bisa dipahami sebagai jalan tengah antara kelompok yang terlalu mempertahankan tradisi lama dan kelompok yang terlalu bebas menerima budaya modern. Muhammadiyah berusaha tetap menjaga ajaran Islam agar tetap murni, namun tidak menutup diri terhadap perubahan dan perkembangan zaman.
- Contoh Interaksi Tajdid Muhammadiyah dengan Budaya Lokal
- Tradisi Pernikahan
Di berbagai Daerah, adat pernikahan seperti adat Jawa, Minangkabau, Bugis, hingga Papua tetap dilaksanakan. Namun, Muhammadiyah melakukan penyaringan terhadap unsur-unsur adat yang berpotensi bertentangan dengan tauhid, seperti ritual meminta berkah kepada roh leluhur atau praktik simbolis yang dianggap tidak sejalan dengan.
- Pengurusan Jenazah
Dalam hal pengurusan jenazah, Muhammadiyah mengikuti prinsip sunnah seperti memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan sesuai tuntunan Nabi. Namun demikian, nilai sosial budaya seperti gotong royong, saling membantu keluarga duka, dan tradisi berkumpul memberikan dukungan emosional tetap dipertahankan.
- Tantangan Gerakan Tajdid dalam Konteks Budaya
- Kesalahpahaman bahwa Muhammadiyah Anti-Budaya
- Benturan dengan Praktik Adat yang Mengakar
- Tekanan Budaya Global yang Sekular dan Konsumtif
- Rendahnya Literasi Keagamaan dan Kebudayaan di Kalangan Generasi Muda
- Penutup
Dalam pandangan Muhammadiyah, hubungan antara agama dan budaya disikapi secara selektif. Agama berperan sebagai pedoman nilai yang mengarahkan budaya, sedangkan budaya menjadi wadah untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Pendekatan ini sangat cocok dengan kondisi masyarakat di Indonesia karena kehidupan beragama tetap terjaga kemurnian akidahnya, namun tetap mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman secara terbuka dan maju.
