21 Februari 2024

Nenek 73 Tahun Ini  Dikenal Lewat Bunga Anggrek Hasil Tangkarannya

0

Blandina Were penangkar bunga anggrek di Kampung Wasur. Foto: PSP/FHS

Merauke, PSP – Nama Blandina Were seorang nenek berumur 73 tahun sudah cukup dikenal di Merauke bahkan hingga luar Papua berkat kecintaannya untuk membudidaya berbagai jenis bunga anggrek. Ia salah satu warga Kampung Wasur yang sudah menggeluti menangkar anggrek sejak tahun 2003 lalu sampai sekarang. Bahkan, keahliannya untuk merawat hingga membuat kawin silang anggrek tak perlu diragukan lagi. Anggrek yang dibudidya di pekarangan rumahnya mulai dari jenis anggrek Yohanes, anggrwk bawang, anggrek tebu, anggrek ungu dan jenis lainnya. Semuanya itu diperoleh dari hutan Kawasan Balai Taman Nasional Wasur. Ada prinsip bagi seorang nenek yang memiliki 30 cucu dari 13  anaknya  yakni pelestarian anggrek agar tidak punah.

“Kalau rawat anggrek ini tidak gampang, ada caranya, baik biar bisa cepat berbunga atau buat kawin silang,” cerita Were, saat berbincang dengan media ini, kemarin.

Tanaman hias miliknya sudah berulang kali dibawa dalam iven festival, baik di Merauke maupun Jayapura. Anggrek Yohanes dan anggrek Tebu, sudah mengharumkan namanya, karena bisa meraih juara.

“Kalau waktu ke Jayapura dua tahun lalu, anggrek Yohanes dan anggrek tebu juara,” katanya.

Anggrek Yohanes, menurutnya, sepanjang merawat anggrek memiliki nilai plus baginya. Lantaran, bunga dari tanaman hias itu bisa diolah menjadi minyak wangi (parfum) dan sudah pernah dicoba.

“Saya sudah pernah masak, aromanya enak sekali,” kata wanita yang berbadan sudah mulai membungkuk dan berambut putih itu.

Meski usianya sudah renta, semangatnya masih berapi-api untuk merawat tanamannya. Bahkan, saat momen Festival Kampung Konstitusi di Wasur, pekan lalu, ia masih turut meramaikan dengan membawa belasan jenis anggrek yang ditangkarnya.

Selain ikut lomba atau festival, ia juga melayani penjualan di rumahnya dengan harga yang bervariasi sesuai dengan jenisnya. Harga mulai Rp 20.000, Rp 50.000 hingga ratusan ribu.  Banyak datang pembeli dan menjualnya kembali di kota bahkan luar Merauke. “Hasilnya untuk biaya kebutuhan sehari-sehari dan anak cucu,” ucapnya dengan rawut wajah sumringah.

Di tengah kesibukannya merawat anggrek, wanita yang murah senyum ini, tak  lupa mengurus kebunnya. Karena ia berprofesi seorang petani juga. Dia harus  membagi waktu untuk mengurus kebun dan tanaman hias setiap harinya, lantaran sama-sama penting. Ibarat menggabungkan hobby dan pekerjaan. [F.Hutasoit]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *