Jawab Keresahan Warga, Kadis Pendidikan Mappi Tegaskan SMP Satap Dagimon Adalah Solusi Wajib Belajar 13 Tahun

0

Mappi, PSP – Keberadaan SMP Satu Atap (Satap) Kampung Dagimon belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah mencuatnya unggahan di grup Facebook INFO KEJADIAN MAPPI. Menanggapi hal tersebut, Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Dra. Maria Dewi Letsoin, M.Pd, memberikan penjelasan mendalam terkait urgensi dan latar belakang pembangunan sekolah tersebut.Ia menegaskan bahwa, kehadiran SMP Satap Dagimon bukanlah tanpa alasan. Sekolah ini merupakan instrumen kunci dalam percepatan program Wajib Belajar 13 Tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMP, dan 3 tahun SMA/SMK) di wilayah pelosok Mappi.Kondisi geografis Kampung Dagimon dan Soba yang jauh dari akses SMP di pusat kota Kepi menjadi alasan utama pemerintah mengambil langkah ini. Selama ini, jarak seringkali menjadi tembok penghalang bagi anak-anak di kampung tersebut untuk melanjutkan pendidikan.”Tujuan utamanya adalah mendekatkan akses sekolah kepada anak-anak agar tidak putus sekolah karena kendala jarak. Model Satap ini dipilih karena melekat pada fasilitas SD yang sudah ada, sehingga siswa lulusan SD di Dagimon dan Soba bisa langsung melanjutkan ke jenjang SMP tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota,” jelas Kadis Pendidikan melalui via telefon, Selesa (28/4/2026). Kadis Pendidikan menambahkan bahwa metode Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) belum bisa diterapkan di Kabupaten Mappi akibat keterbatasan akses internet. Oleh karena itu, pembangunan fisik sekolah Satap menjadi solusi paling realistis saat ini.Meskipun baru ramai dibicarakan pasca insiden yang menimpa Kepala Sekolah pada Kamis (23/4/2026) lalu, Maria Letsoin menjelaskan bahwa SMP Negeri Dagimon Satap sebenarnya sudah mulai beroperasi sejak tahun lalu. “SD dan TK di sana sudah lama beroperasi, namun untuk SMP baru kita inisiasi tahun lalu. Kami juga menunjuk Ibu Aprilia Letsoin sebagai Plt. Kepala Sekolah karena kompetensinya yang multi-talenta, baik di bidang IT, bahasa, maupun pedagogi, untuk mengawal proses awal ini,” ungkapnya.Dinas Pendidikan juga terus bergerak melakukan sosialisasi kepada orang tua murid dan aparat kampung untuk menjamin keamanan serta kenyamanan proses belajar mengajar.Keberhasilan model Satap di Dagimon, Yatan, dan Koba rencananya akan direplikasi di wilayah lain. Tahun ini, pemerintah menargetkan pembangunan sekolah serupa di Kampung Bamgi, Baitate, Kofar, serta wilayah Rep atau Enem.Meski demikian, pihak dinas pendidikan tidak menampik adanya tantangan besar, terutama terkait ketersediaan lahan permanen dan kekurangan tenaga guru. “Saat ini kami masih berkoordinasi dengan masyarakat untuk mencari lahan permanen yang strategis dan mudah diakses dari arah Soba maupun Dagimon. Kami juga terus berupaya mengatasi kekurangan guru melalui kolaborasi tenaga pendidik SD dan SMP Satap,” tegas Kadis PendidikanMenutup penjelasannya, Kadis Pendidikan menekankan bahwa SMP Negeri Dagimon Satap adalah sekolah resmi yang terdaftar dan operasionalnya telah melalui perencanaan matang bersama masyarakat, bukan inisiatif sembarangan. “Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat, guru, dan aparat kampung. Ini adalah solusi praktis untuk memastikan anak-anak kita tetap sekolah hingga SMA/SMK nantinya,” pungkas Kadis Pendidikan. [RADE-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *