18 April 2024

Hasil Panen Belum Bisa Maksimal, Petani Tidak Diuntungkan dengan Kebijakan Pembelian Gabah

0

Ilustrasi Gabah

Merauke, PSP – Petani Merasa tidak diuntungkan dengan kebijakan pembelian gabah kering giling (GKG). Pasalnya, jika dihitung-hitung dengan kisaran hasil panen yang relatif rendah, rata-rata petani pada setiap masa panen tidak banyak diuntungkan. Itu jika gabah laku terjual, jika tidak laku lagi seperti pasa penen sebelumnya, maka nasib petani akan semakin buruk.

Ketua Gabungan Kelompak Tani Kampung Muram Sari, Sugeng menyebutkan hitung-hitungan modal tanam dan hasil panen yang realitanya lebih rendah dengan analisa pemerintah dan Bulog yang lebih tinggi.

Advertisements
Advertisements

“Hitungan kami modal menanam total 15.600.000 per hektarnya. Kemudian, kalau tadi 9 ton disampaikan pemerintah, tapi kenyataanya di lapangan tidak seperti itu. Yang terjadi hanya kisaran 6 ton perhektar. Dari gabah basah ke kering itu penuruananya 30-40 persen. Jadi kita punya GKG kisaran cuma 4,2 ton per hektar. Maka persentase hasilnya sangat rendah,” tegas Sugeng pada sesi tanya jawab di Panen Raya, Kampung Muram Sari, Kamis (23/4).

Selain itu, Sugeng mengungkapkan dengan ketentuan GKG yang menyaratkan 3 persen hampa. Menurutnya, petani sangat kesulitan memenuhi itu. Pasalnya, petani tidak memiliki alat sendiri untuk mengurangi hampa sampai 3 persen.

Advertisements
Advertisements

“Kerepotannya kalau kami harus menyediakan GKG dengan hampa 3 persen, itu sangat sulit, kita petani tidak punya alatnya. Bagaimana kita menghilangkan hampa itu, kita yang pake alat combine saja sekitar 15 persen hampanya. Kalau kadar air kita bisalah kasih kurang sampai 14 persen. Tapi kalau hampa sangat kesulitan,” tegasnya.

Advertisements

Selain itu, Sugeng menanyakan kesiapan Bulog dalam kesiapan gudang. Pasalnya, dimusim panen sebelumnya, masalah tidak terserapnya beras adalah karena tidak adanya gudang yang mencukulpi sebagai tempat penampungan beras. Kemudian, jika dibandingkan antara beras dan gabah, volume besar gabah lebih besar, otomatis membutuhkan tempat yang lebih besar lagi.

Advertisements
Advertisements

“Tahun kemaren beras sudah tidak dibeli, karena pengusaha sudah lepas tangan dan menurut pengusaha pengilingan, sudah tidak ada gudang. Yang logis saja, kemarin sudah tidak mampu simpan beras, apalagi sekarang gabah,” paparnya. [WEND-RH]

Advertisements

Advertisements
Advertisements
Advertisements

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *