Franky Richard sang Pendonor Darah dari Merauke Usia 70 Tahun, Sudah 113 Kali

0

Merauke, PSP – Di usianya yang telah menginjak 70 tahun, semangat Franky Richard untuk membantu sesama tak pernah surut. Warga kelahiran Jayapura, 6 Desember 1955 itu tercatat di Palang Merah Indonesia (PMI) telah 113 kali mendonorkan darahnya demi menyelamatkan nyawa orang lain.

Perjalanan panjangnya sebagai pendonor darah dimulai sejak masih muda, tak lama setelah lulus dari SMA Negeri Jayapura pada 1976. Saat itu ia tinggal di asrama, dan sering mendapat panggilan ketika Palang Merah Indonesia (PMI) membutuhkan donor darah dengan golongan tertentu.

Hal ini terungkap saat Franky Richard menjadi narasumber dalam Talk Show yang digelar RRI Merauke di kantor PMI Merauke, Jumat (8/5).

Dengan Topik SETETES DARAH UNTUK PAPUA SELATAN SEHAT bersama Narasumber Franky Richard, dr. Sitti Jumiati, M.Kes, Sp. PK selaku Kepala UDD PMI Merauke, Dominikus Ulukyanan, S.Pd., M.A.P selaku Ketua PMI Merauke dan Petrus Mardan selaku Sekretaris PMI Merauke serta dipandu oleh Decy Sambe sebagai moderator.

“Kalau ada kebutuhan darah, kami yang tinggal di asrama dipanggil turun ke PMI. Dari situlah saya mulai donor darah,” ujar Franky kepada wartawan usai Talk Show.

Kebiasaan itu terus berlanjut hingga sekarang. Baginya, donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan panggilan kemanusiaan yang membawa manfaat, tidak hanya bagi penerima donor, tetapi juga bagi kesehatan pendonor sendiri.

Franki memahami masih banyak masyarakat yang takut mendonorkan darah karena khawatir tubuh menjadi lemah atau kekurangan darah. Namun menurutnya, tubuh manusia memiliki kemampuan alami untuk memulihkan diri.

“Tuhan sudah ciptakan tubuh manusia dengan sempurna. Saat darah diambil, tubuh akan memproduksi kembali sel-sel darah merah. Ada regenerasi dalam tubuh kita,” ujarnya.

Ia mengibaratkan donor darah seperti perawatan kendaraan yang rutin mengganti suku cadang agar tetap berjalan baik.

“Kalau kendaraan dirawat dan diganti spare part pada waktunya, pasti jalannya mulus dan tidak gampang mogok,” katanya sambil tersenyum.

Franki mengaku bersyukur hingga kini masih diberikan kesehatan. Dari tujuh bersaudara, kini hanya dirinya yang masih hidup. Ia juga telah membangun keluarga kecil bersama sang istri sejak menikah pada 1984. Pasangan itu kini dikaruniai tiga anak laki-laki dan sembilan cucu.

Selama menjadi pendonor aktif, Franki telah menerima berbagai penghargaan, mulai kategori 10 kali donor, 25 kali, 50 kali hingga 75 kali donor darah yang diberikan pemerintah daerah.

Sementara penghargaan untuk donor ke-100 kali sebenarnya telah direncanakan diberikan oleh Presiden pada 2020. Namun rencana tersebut tertunda akibat pandemi.

“Kalau penghargaan itu kami syukuri saja. Tidak menuntut apa-apa. Yang penting bisa membantu orang,” katanya rendah hati.

Di balik kesederhanaannya sebagai masyarakat biasa, Franki Richard menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama bisa dilakukan siapa saja. Setetes darah yang ia berikan selama puluhan tahun telah menjadi harapan hidup bagi banyak orang.

Ketua PMI Merauke Dominikus Ulukyanan membenarkan bahwa Franky Richard sudah mendonorkan darahnya lebih dari 100 kali lebih.

“Beliau sudah mendonorkan darahnya 100 kali lebih. Hanya saja belum mendapatkan penghargaan harusnya dari Presiden. Harusnya ada beberapa tahap dan nanti coba kami akan cari cara bagaimana supaya Presiden bisa memberikan penghargaan, karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi,” pungkas Dominikus. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *