Tak Keluar Biaya Sepeser Pun, Remaja di Kabupaten Asmat Jalani Operasi Usus Buntu Dengan Gratis Berkat JKN

0
b78400b0-5923-45db-9130-f75f58215fd9

Merauke, Jamkesnews – Pengalaman menjalani operasi untuk pertama kalinya menjadi momen yang tidak terlupakan bagi Rizky Yoga Prasetya (17). Remaja tersebut harus menghadapi kondisi darurat akibat radang usus buntu yang sudah dalam tahap parah. Namun di balik situasi yang menegangkan, ia justru merasakan pelayanan kesehatan yang humanis dan penuh perhatian di RSUD Perpetua J. Safanpo.

Rizky menceritakan bahwa awalnya ia tidak menyangka rasa sakit yang dialami di bagian perut merupakan gejala penyakit serius. Nyeri hebat yang datang secara tiba-tiba menjadi pengalaman pertama yang ia rasakan sepanjang hidupnya.

“Baru pertama kali, saya rasa sakit apalagi di bagian perut yang sesakit itu,” ungkap Rizky. Melihat kondisi tersebut, orang tuanya segera membawanya ke RSUD Perpetua J. Safanpo untuk mendapatkan penanganan medis.

Setibanya di rumah sakit, Rizky langsung menjalani pemeriksaan intensif. Dari hasil diagnosa dokter, diketahui bahwa ia mengalami radang usus buntu yang sudah cukup parah. Bahkan, kondisi tersebut diperburuk dengan adanya perlengketan antara usus buntu dan usus besar.

“Setelah diperiksa ternyata usus buntu dan sudah parah karena usus buntu saya sudah lengket di usus besar,” jelasnya.

Melihat tingkat keparahan kondisi tersebut, tim medis segera mengambil langkah cepat dengan menjadwalkan tindakan operasi dalam waktu singkat. Keputusan tersebut menjadi langkah krusial untuk mencegah risiko komplikasi yang lebih serius, seperti pecahnya usus buntu.

Operasi pun berjalan dengan lancar. Setelah tindakan medis tersebut, Rizky menjalani masa pemulihan dengan rawat inap di rumah sakit. Meski sempat diliputi rasa cemas, pengalaman selama menjalani perawatan justru meninggalkan kesan positif.

Ia mengaku mendapatkan pelayanan yang ramah dan profesional dari seluruh tenaga medis dan petugas rumah sakit. Bahkan, ia merasa tidak mendapatkan perlakuan berbeda meskipun terdaftar sebagai pasien kelas 3.

“Sebagai pengalaman pertama ini baik sekali, di RS petugas ramah-ramah, bahkan saya tidak dibeda-bedakan dengan pasien lainnya walaupun hak kelas saya kelas 3, bahkan sebelum operasi juga terlayani dengan baik,” tuturnya.

Menurut Rizky, pelayanan yang diberikan sejak awal pemeriksaan hingga pasca operasi berjalan dengan baik dan penuh perhatian. Hal tersebut memberikan rasa aman dan nyaman, baik bagi dirinya maupun keluarga yang mendampingi.

Apresiasi terhadap pelayanan kesehatan yang inklusif juga disampaikan oleh Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani. Ia menegaskan bahwa setiap peserta BPJS Kesehatan berhak mendapatkan pelayanan yang setara tanpa diskriminasi, sesuai dengan prinsip jaminan kesehatan nasional.

“BPJS Kesehatan terus berkomitmen memastikan seluruh peserta mendapatkan layanan kesehatan yang adil, berkualitas, dan tanpa diskriminasi, termasuk di wilayah Papua Selatan seperti Kabupaten Asmat. Fasilitas kesehatan mitra kami diharapkan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien, tanpa melihat kelas perawatan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara BPJS Kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan menjadi kunci dalam menghadirkan pelayanan yang merata hingga ke daerah terpencil.

Pengalaman yang dialami Rizky menjadi gambaran nyata bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak selalu bergantung pada kelas perawatan. Di tengah berbagai tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur di wilayah timur Indonesia, RSUD Perpetua J. Safanpo dinilai mampu menghadirkan layanan yang mengedepankan empati dan profesionalisme.

Kasus radang usus buntu sendiri merupakan kondisi medis yang umum terjadi, namun dapat berbahaya jika tidak segera ditangani. Gejala seperti nyeri hebat di perut, terutama di bagian kanan bawah, perlu segera diperiksakan ke tenaga medis untuk menghindari komplikasi serius.

Melalui pengalamannya, Rizky berharap masyarakat dapat lebih peduli terhadap kondisi kesehatan dan tidak menunda untuk berobat jika mengalami gejala yang mencurigakan. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh tenaga medis yang telah membantu proses penyembuhannya.

Kisah ini sekaligus menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan yang ramah, cepat, dan tanpa diskriminasi tetap dapat diwujudkan, bahkan di wilayah terpencil seperti Kabupaten Asmat, Papua Selatan. (TR/an)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *