Pengusaha Harus Stop Datangkan Telur Surabaya
Thomas Kimko di peternakan ayam lokal Merauke. Foto: PSP/ERS
Merauke, PSP – Ketua Asosiasi Ayam Petelur Kabupaten Merauke Thomas Kimko meminta para pengusaha memberhentikan mendatangkan telur asal Surabaya ke Merauke. Sebab, telur produk lokal Merauke saat ini melimpah jumlahnya.
Kimko menjelaskan, produksi telur di Kabupaten Merauke pasca wabah flu burung akhir 2020 lalu kini sudah aman dan hasilnya melimpah. Meskipun harga jual yang terbilang cukup tinggi di pasaran.
Dilanjutkan, melimpahnya telur di Merauke karena masih ada pengusaha yang mendatangkan telur dari Surabaya. Menurut Kimko, produk lokal harus diutamakan jika hasilnya produksinya mampu mengcover kebutuhan daerah.
“Boleh mengambil pasokan dari luar ketika produksi lokal melemah. Jadi jangan keenakan untuk datangkan terus. Jadi saya sebagai ketua asosiasi peternak ayam, ini harus di stop telur Surabaya. Sehingga tidak menyulitkan pemasaran telur lokal,” ujar Kimko kepada wartawan baru – baru ini.
Kimko menyebutkan, di Merauke tercatat sebanyak 20 peternak dengan populasi di atas ribuan. Mengenai harga telur yang kian melonjak, Kimko mengatakan, dipicu biaya produksi yang juga kian melonjak. “Mulai dari sisi bibit, pakan, obat-obatan dan container harganya melambung. Contoh, harga DOC, sebelumnya hanya kisaran Rp 15.000-20.000 saja, menjadi Rp 30.000- 32.000/ekor. Harga pakan, saya kasi contoh untuk ayam DOC rata-rata di Merauke menggunakan pakan dari Charger Pokphand/CP 511. Dulu ini harga Rp 410.000-414.000. Sekarang sudah sampai Rp 430.000-435.000. Kontainer pun sekarang sudah naik. Maka suka tidak suka harga telur terendah Rp 65.000/rak tertinggi Rp 85.000/rak,” kata Kimko. [ERS-NAL]
