Di Merauke, Kontainer SPIL Dijadikan Gudang Penyimpanan Barang

0
Fuji Hermoko

Fuji Hermoko

Merauke, PSP  – Kondisi Pelabuhan Merauke semakin krodit dan memicu antrean panjang kapal hingga dua pekan. Kontainer milik perusahaan pelayaran bahkan dijadikan gudang penyimpanan barang, sehingga memperparah kepadatan di area pelabuhan.

Keluhan itu disampaikan Branch Manager PT SPIL Cabang Merauke, Fuji Hermoko. Ia menegaskan kondisi pelabuhan yang sesak menjadi salah satu alasan pihaknya menaikkan sejumlah tarif kepada JPT.

“Kami naikkan tarif-tarif itu akibat pelabuhan sudah terlalu penuh, krodit. Kami di pelayaran setengah mati,” tegas Fuji di kantornya baru-baru ini.

Menurutnya, kapal SPIL harus berlayar selama 10 hingga 14 hari dengan biaya bahan bakar yang tidak sedikit. Namun setibanya di Merauke, kapal harus kembali mengantre lama untuk sandar karena lapangan penumpukan penuh.

“Terhambat logistik bukan karena itu saja. Arus barang tidak lancar, kapal kami harus nunggu antre untuk sandar. Lapangan penumpukan penuh. Sekarang kapal berlabuh bisa sampai dua minggu,” ujarnya.

Fuji menyebut kenaikan tarif yang diberlakukan hanya pada komponen kecil. Namun langkah tersebut dinilai tak terhindarkan karena beban operasional terus meningkat akibat keterlambatan dan kemacetan di pelabuhan.

“Kenapa kami naikkan, karena pelabuhan di Merauke sakitnya sudah kronis,” katanya.

Ia juga menyoroti praktik penggunaan kontainer sebagai gudang penyimpanan barang. Menurutnya, hal itu tidak lazim dan berdampak langsung pada sirkulasi logistik.

“Kontainer kami dijadikan gudang. Kami sudah komplain ini ke Pelindo dan KSOP, karena tidak ada sejarah itu kontainer jadi gudang,” tegasnya. Selain itu, Fuji mengungkapkan banyak kontainer dari Merauke yang tiba di Surabaya dalam kondisi robek dan rusak. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *