MBG Belum Terealisasi di Pedalaman Merauke

0
Murid-murid SD YPPK Kimaam tengah belajar di ruang kelas.

Murid-murid SD YPPK Kimaam tengah belajar di ruang kelas.

Suster Modesta: Padahal anak-anak yang tidak makan itu justru anak-anak di pedalaman.

Merauke, PSP – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belum terealisasi di wilayah pedalaman Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Sejumlah sekolah mengaku sama sekali belum pernah menerima program tersebut.

Sekolah yang tidak tersentuh program MBG di antaranya SD YPPK Kimaam. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa sekolah yang berada di Kampung Domande, Distrik Malind.

Kepala SD YPPK Kimaam, Suster Modesta, mengungkapkan hingga kini pihak sekolah tidak pernah menerima program MBG.

Ia bahkan mempertanyakan apakah sekolah di wilayah pedalaman memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati program nasional tersebut.

“Kami tidak ada mendapat MBG. Apa mungkin kami di pedalaman ini bisa menikmati program itu,” ujarnya saat dihubungi, Senin (2/2).

Suster Modesta menyayangkan pelaksanaan MBG yang menurutnya hanya menyentuh sekolah-sekolah di wilayah perkotaan, sementara anak-anak di pedalaman justru lebih membutuhkan asupan gizi.

“Padahal anak-anak yang tidak makan itu justru anak-anak di pedalaman,” lanjutnya.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi para murid, pihak sekolah selama ini mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan memberikan makanan tambahan berupa bubur kacang hijau satu hingga dua kali dalam sebulan.

“Kami memiliki 363 murid. Sekali atau dua kali sebulan kami berikan makanan tambahan dari dana BOS. Jadi untuk MBG, kami tidak mengenalnya,” jelas Suster Modesta.

Hal senada disampaikan Kepala Kampung Domande, Elias Mahuze. Ia mengatakan di kampungnya terdapat tiga satuan pendidikan, yakni SD, SMP, dan PAUD, namun tidak satu pun yang pernah menerima program MBG.

“Ada tiga sekolah, tidak pernah ada MBG di sekolah itu. Setahu saya hanya ada bubur kacang hijau tiga bulan sekali untuk bidang PAUD,” kata Elias.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait pemerataan pelaksanaan program MBG, khususnya di wilayah pedalaman Papua Selatan yang selama ini dikenal memiliki dengan tingkat kerentanan gizi anak yang tinggi.

Koordinator BGN Wilayah Merauke Khoirun Nisaa mengatakan wilayah terpencil seperti Kimaam dan lainnya sedianya sudah diajukan untuk pembangunan dapur SPPG.

“Kalau untuk saat ini belum ada pembangunan dapur SPPG disana, hanya saja titik itu sudah di SK kan oleh BGN untuk wilayah terpencil,” ujar Nisaa saat dikonfirmasi tadi malam.

Dikatakan belum ada investor yang berkenan mengingat akses yang cukup sulit. “Cuma belum ada investor yang masuk mengingat wilayah terpencil dari sisi akses. Jadi titik itu sudah masuk dalam SK yang sudah diajukan, cuma belum ada investor yang mau membangun,” ujar dia. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *