Penanaman Pohon Dalam Pot Bunga Tandai Pembukaan Sidang MPL 2026
Penanaman pohon dalam pot bunga saat pembukaan sidang MPL 2026
Merauke, PSP – Penanaman pohon dalam pot bunga oleh Ketua Umum Majelis Pekerja Harian (MPH) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) periode 2024–2029, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, menandai pembukaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI Tahun 2026 yang digelar di Gedung Olahraga (GOR) Hiad Sai, Merauke, Papua Selatan, Jumat (30/1).
Pembukaan sidang tersebut turut dihadiri Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian Agama RI, Luksen Jems Mayor, yang mewakili Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI.
Sidang MPL PGI 2026 berlangsung pada 30 Januari hingga 2 Februari 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 105 gereja anggota PGI, 30 PGI wilayah, serta sejumlah lembaga mitra PGI dari dalam dan luar negeri.
Sidang MPL menjadi forum strategis gereja-gereja di Indonesia untuk membahas arah pelayanan, kesaksian iman, serta peran gereja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam sambutan tertulis Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Jeane Marie Tulung, yang dibacakan oleh Luksen Jems Mayor, pemerintah menyampaikan apresiasi kepada PGI dan seluruh sinode anggota atas komitmen menjaga keesaan gereja serta memperkuat peran gereja sebagai mitra strategis pemerintah.
“PGI memiliki peran penting sebagai ruang pemersatu dan mediator dalam menjaga kerukunan internal umat Kristen, terutama di tengah dinamika keberagaman sinode dan lembaga keagamaan Kristen di Indonesia,” ujarnya.
Luksen mengungkapkan, saat ini terdapat 364 sinode gereja dan 368 lembaga keagamaan Kristen yang terdaftar secara resmi. Kondisi tersebut mencerminkan kekayaan ekspresi iman, namun sekaligus menuntut penguatan dialog, rekonsiliasi, serta tata kelola kelembagaan yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Selain penguatan kerukunan internal, pemerintah juga mendorong gereja untuk berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi umat melalui penguatan lembaga filantropi sosial keagamaan Kristen.
Filantropi gereja diharapkan tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga berorientasi pada pemberdayaan berkelanjutan, perlindungan kelompok rentan, serta peningkatan kesejahteraan umat, termasuk di Tanah Papua.
Dirjen Bimas Kristen juga menekankan pentingnya pengarusutamaan ekoteologi di lingkungan gereja. Gereja diharapkan menjadi motor penggerak kesadaran ekologis melalui pendidikan, kebijakan sinodal, serta aksi nyata dalam menjaga ciptaan Tuhan, khususnya di Papua yang memiliki kekayaan alam sekaligus tantangan ekologis yang kompleks.
Pelaksanaan Sidang MPL PGI 2026 di Merauke dinilai memiliki makna strategis dan simbolis. Papua dipandang bukan hanya sebagai wilayah geografis, tetapi juga sebagai ruang teologis dan kemanusiaan yang menegaskan pentingnya keadilan, perdamaian, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
“Gereja di Papua telah dan terus menjadi ruang pengharapan, pendampingan, serta rekonsiliasi. Gereja dipanggil untuk menjadi jembatan perdamaian dan mendorong dialog yang bermartabat demi Papua yang damai dan sejahtera,” lanjutnya.
Sidang MPL PGI 2026 juga dilaksanakan dalam konteks perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Gereja diharapkan turut memastikan bahwa pembangunan nasional dilandasi keadilan sosial, penghormatan hak asasi manusia, serta keberpihakan kepada kelompok rentan dan terpinggirkan. Melalui Sidang MPL PGI 2026 ini, Kementerian Agama berharap lahir rekomendasi strategis dan refleksi teologis yang kontekstual, profetis, dan transformatif, sekaligus memperkuat sinergi antara gereja dan pemerintah dalam melayani bangsa dan negara. [ERS-NAL]
