Hadiri Kongres Perempuan Papua Selatan, MRP Papua Selatan Prihatin 2 Hal ini
Kongres kesatu asosiasi perempuan asli Papua Selatan.
Merauke, PSP – Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan, Damianus Katayu, memberikan apresiasi mendalam terhadap terselenggaranya Kongres Pertama Asosiasi Perempuan Asli Papua Selatan. Dalam sambutannya, Katayu menyebut momentum ini sebagai buah dari perjuangan panjang perempuan-perempuan Papua Selatan dalam memperjuangkan ruang dan peran mereka.
“Ini sebuah perjuangan yang panjang, perempuan-perempuan Papua Selatan,” kata Katayu membuka sambutannya. Ia mengaitkan perjalanan gerakan perempuan di Indonesia dengan sejarah panjang emansipasi yang dimulai sejak era Kartini.
Menurutnya, perjuangan perempuan Papua untuk dapat mengisi ruang publik termasuk dalam ranah politik, pembangunan, dan ekonomi bukan sesuatu yang terjadi secara instan.
“Di Papua, perjuangan untuk perempuan bisa mengisi ruang-ruang publik, dalam ranah politik, pembangunan, ekonomi, ini butuh perjuangan panjang. Karena kita tersandera adat istiadat budaya yang masih mengikat kita,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan kehadiran perempuan-perempuan tangguh hari ini menjadi bukti perubahan itu sedang terjadi. “Kita punya mama-mama Papua yang berjualan di pasar untuk membesarkan kita. Mereka adalah kekuatan besar yang menjaga kehidupan.” tandasnya.
Katayu menyampaikan dua keprihatinan utama yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius. Pertama, tersisihnya mama-mama Papua di pasar akibat berbagai tantangan ekonomi dan persaingan tidak seimbang.
Kedua, minimnya keterwakilan perempuan Papua di parlemen, yang berdampak pada lemahnya suara perempuan dalam pengambilan kebijakan.
Ia mengapresiasi gagasan yang sebelumnya dimulai oleh Lembaga Advokasi Perempuan (El-AdPer) yang mengumpulkan perempuan-perempuan di Merauke untuk merumuskan model gerakan bersama. “Gagasan ini muncul dan didorong oleh El-AdPer… Sekarang gagasan itu tidak hilang, tetapi terus berjalan,” tegasnya. Katayu mendorong perempuan Papua Selatan untuk terus bangkit dan mengambil peran strategis sebagai mitra dalam berbagai bidang. “Sekarang perempuan tidak menjadi pesaing, tetapi menjadi mitra yang baik untuk perempuan-perempuan lain, untuk duduk bersama di ruang publik, demokrasi, maupun pembangunan.” pungkas dia. [ERS-NAL]
