Menuntaskan Kemiskinan Ekstrem

0
Rafly Parenta Bano

Rafly Parenta Bano

Oleh: Rafly Parenta Bano, M.E.K.K (Statistisi Ahli Muda, Badan Pusat Statistik)

Salah satu agenda utama pemerintah di tahun 2022 adalah menuntaskan kemiskinan ekstrem. Pasalnya, berdasarkan data BPS, per tahun 2021 sekitar 10,86 juta penduduk Indonesia atau 4,8% merupakan penduduk miskin ekstrem. Disebut penduduk miskin ekstrem karena kesejahteraan penduduk di bawah garis kemiskinan ekstrem yang setara dengan US$1,9 PPP. Presiden Jokowi pun tak tanggung-tanggung, tancap gas dan menginstruksikan agar para menteri dan jajarannya menuntaskan kemiskinan ekstrem pada tahun 2024. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana menuntaskannya dalam kurun waktu 3 tahun saja?

Pertama-tama, kita perlu mengulik persoalan kemiskinan ekstrem ini hingga ke dasar. Pada umumnya, karakteristik penduduk miskin adalah cenderung membuat banyak keputusan yang buruk. Kita dapat melihat data dan fenomena sosial yang ada. Hutang mereka banyak, tabungan sedikit, menjadi perokok berat, jarang berolahraga, mabuk-mabukan, dan makan makanan tak sehat. Perilaku-perilaku ini menyusahkan mereka sendiri dan semakin memperdalam kemiskinan. Lantas mengapa?

Mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher pernah mengungkapkan kemiskinan sebagai suatu cacat kepribadian atau dengan kata lain: kurangnya karakter.

Sebagian besar dari kita juga mungkin memiliki persepsi yang sama. Sebagian berpendapat bahwa orang miskin harus bertanggung jawab atas kesalahan mereka sendiri. Sebagian lagi merasa harus membantu orang miskin dalam pengambilan keputusan, dan sebagainya. Intinya, sebagian besar berangkat dari dasar asumsi yang sama yaitu ada yang salah dengan orang miskin. Dan kita berpikir seandainya kita bisa mengubah mereka, bisa mengajarkan bagaimana menjalani hidup, dan andai saja mereka mau mendengar. 

Namun ternyata, pikiran demikian itu keliru. Perspektif kita selama ini mengenai orang miskin dan status kemiskinannya terlampau bias. Pokok permasalahan mereka sesungguhnya adalah karena mereka kekurangan uang.

Anandi Mani, seorang ekonom perempuan dalam jurnalnya yang berjudul Poverty Impedes Cognitive Function mengatakan bahwa hanya karena kekurangan uang maka orang miskin cenderung membuat keputusan yang lebih buruk. Kekurangan uang meningkatkan beban kognitif yang mendepresiasi fokus dan kemampuan. Anandi mengamati para petani tebu di India dan menemukan bahwa kinerja mereka jauh lebih buruk sebelum panen daripada setelah panen. Nilai tes IQ mereka jauh lebih buruk sebelum panen. Dengan kata lain, hidup dalam kemiskinan mengakibatkan kemampuan kognitif petani menurun sekitar 14 poin. Sebagai gambaran, penurunan sebesar itu sama dengan kondisi ketika tidak tidur semalaman, atau sedang berada di bawah pengaruh alkohol.

Fenomena ini dikenal dengan scarcity mentality (mentalitas kelangkaan). Perilaku manusia menjadi berbeda jika mereka merasa sesuatu itu langka. Tak penting sesuatu itu apa. Apakah itu waktu, uang maupun makanan.

Ini sama seperti ketika kita memiliki pekerjaan yang menumpuk. Beban pekerjaan yang menumpuk itu akan mengalihkan fokus kita ke hal-hal yang bersifat jangka pendek. Sehingga perspektif jangka panjang menjadi terbengkalai. Ilustrasinya seperti komputer baru dengan spesifikasi tinggi yang menjalankan 10 program berat sekaligus. Komputer itu akan melambat dan bermasalah, dan pada akhirnya berhenti bekerja. Tentunya, bukan karena komputer itu jelek, tapi karena banyaknya tugas yang dikerjakan sekaligus. Orang miskin punya masalah yang sama. Mereka membuat keputusan bodoh bukan karena mereka bodoh, tapi dengan situasi hidup yang demikian, siapa pun akan membuat keputusan bodoh. 

Inilah salah satu pemicu, mengapa program-program anti-kemiskinan tidak berjalan. Investasi di bidang pendidikan seringkali tidak efektif. Sebab, kemiskinan bukan karena kurang pengetahuan saja. Jangan salah sangka, bukan berarti orang miskin tak belajar apa pun, mereka bahkan tentu bisa menjadi lebih bijak. Artinya, pendidikan saja tidak cukup. Profesor Eldar Shafir pernah berkata itu sama seperti mengajari seseorang berenang kemudian melemparkannya ke lautan badai.

Pertanyaan besarnya: Apa yang bisa dilakukan? Nah, mengapa kita tak mengubah konteks kehidupan orang miskin? Kembali lagi ke analogi komputer sebelumnya: Mengapa justru sibuk mengutak-atik perangkat lunaknya sementara masalahnya bisa dipecahkan dengan memasang memori tambahan? Dengan kata lain, solusi membasmi kemiskinan adalah dengan membagikan lebih banyak uang kepada orang miskin. Gagasannya sederhana: jaminan pendapatan dasar.

Apa itu? Mudah saja. Tunjangan bulanan yang cukup untuk membelanjakan kebutuhan pokok: makanan, rumah dan pendidikan. Tunjangan ini sejatinya tak bersyarat. Tak peduli apa pun pekerjaan orang miskin dan tak peduli mereka mau menghabiskan untuk apa. Karena prinsipnya pendapatan dasar bukanlah bantuan, tetapi hak.

Di Meksiko, melalui program Prospera, setiap keluarga miskin menerima tunjangan anak rata-rata $40-60 per bulan untuk menjamin nutrisi anak-anak mereka. Mereka menghabiskan lebih banyak uang untuk mengonsumsi protein dan buah-buahan dan sayuran yang meningkatkan kesehatan seluruh keluarga dan memotong hari libur kerja karena sakit. Anak-anak yang tidak pergi ke sekolah dalam keadaan lapar menjadi berprestasi dan lebih kecil kemungkinannya untuk gagal. Lain halnya di Afrika Selatan, bantuan sosial memiliki efek langsung pada anak-anak. Anak-anak cenderung memiliki gizi yang lebih baik dan lebih cenderung tidak putus sekolah dibandingkan kondisi ketika tidak menerima bantuan.

Masalah terbesar bagi penduduk miskin adalah mereka kekurangan uang tunai. Inilah realitas di negara-negara berkembang. Masih banyak orang memiliki begitu sedikit uang sehingga mereka tidak mampu membeli makanan yang lebih baik untuk anggota keluarga mereka, menyekolahkan anak-anak mereka, atau mencari pekerjaan. Kemiskinan bukan karena kurangnya motivasi. Karena, orang-orang dengan sedikit uang cenderung menghabiskan hari-hari mereka secara aktif dan mencoba mencari jalan keluar dari kemiskinan. Kemiskinan juga bukan karena kurangnya pendidikan dan pengetahuan. Karena mereka tahu apa yang mereka butuhkan dan mengelola uang mereka dengan sangat baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *