Bulog Serap 3.500 Ton, Saiful: Itu Hanya Bisa serap dari 2 Kampung
Merauke, PSP – Salah satu petani asal Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Saipul Anam menilai, kebijakan Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Drive Merauke yang hanya membeli beras sebanyak 3500 ton, cukup hanya untuk mengakomodasi hasil panen petani dari 2 kampung saja.
Menurutnya, saat ini setiap kampung memiliki ribuan lahan garapan dengan masing-masing hasil panen minimal 2000 ton setiap kali panennya. Sehingga, jika ditotal dari seluruh kampung dibeberapa distrik, maka tidak membawa solusi.
“Oh ngk bisa kalau Cuma 3500 ton. Sekarang lo kalau kita hitung rata-rata setiap kampung luas lahannya sekitar 1000 hektar. Setiap hektarnya tarolah 2 ton beras, jadi total setiap kampung menghasilkan 2000 ton. Berarti itu tidak mencukupi untuk 2 kampung. Sedangkankan misalnya Kampung Kurik 4 panennya 4000 ton. Terus kalau dikali satu distrik total minimal bisa 20 ribu ton, belum distrik-distrik lain,” ungkapnya kepada Papua Selatan Pos di Kurik, Minggu (11/10/2020).
Selain itu, ia menuturkan, setidak-tidaknya, 3500 ton hanya untuk membeli hasil panen rendengan yang sementara ini masih tersisa di pengilingan. Sehingga, ia memastikan hasil panen gadu saat ini belum akan bisa terserap secara maksimal.
“Itung-itungannya kalau penyerapan segitu (3500 ton) kayaknya gilingan juga masih punya stok. Jadi kayaknya itu cuma untuk gabah rendeng (panen musim penghujan). Sedangkan untuk gabah gadu (panen musim panas) belum bisa bergerak. Jadi belum apa-apa kapasitas segitu,” imbuhnya.
Ia berharap, setidaknya ada peran pihak lain yang bisa membantu untuk menyerap dan memasarkan beras petani. “Seharusnya bupatinya yang turun, atau kalau tidak mungkin kirim keluar. Harusnya juga ada pengusaha lain yang masuk. Kalau cuma Dolog, ya ngak mungkin mampu,” ujarnya.
Dengan stok pembelian yang terbatas, Imbuh Saiful, memungkinkan petani tidak memiliki harga nego. Artinya, mau tidak mau, petani akan menjual berapaun harga yang ditetapkan oleh penggilingan.
“Kalau untuk pembelian beras, lucu saja nanti. Karena gilingan sudah punya ukuran (Kapasitas penjualan ke Bulog), akhirnya petani tidak punya harga nego. Jadi mau jual harga berapa terserah gilingan, mau segitu, tidak mau ya sudah. Karena memang kan penyerapannya terbatas,” pungkasnya. [WEND-NAL]
