Kesulitan Premium, Gojek di Ufuk Timur Nusantara Terpaksa Pakai Pertamax

0
Driver gojek di Pangkalan Lapangan Mandala Merauke (2)

Driver gojek di Pangkalan Lapangan Mandala Merauke. Foto: PSP/ERS

Merauke, PSP – Para driver gojek di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua terus bergelut dengan kosongnya Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium. Kesulitan mendapatkan premium yang harganya lebih terjangkau membuat mereka terpaksa mengisi tangki motor menggunakan BBM jenis pertamax maupun pertalite yang harganya diatas angka harga premium.

Susahnya mendapatkan premium, sudah dirasakan para driver gojek sejak tahun 2019 hingga adanya masa pandemi Covid-19 saat ini. Yang mana, estimasi harga penggunaan BBM menjadi tolak ukur pendapatan para driver gojek.

Hal itu disampaikan beberapa driver gojek, Male Yacob Alomau, Mat Salim Yamawi Mahuze dan Pilsani Yuno Maramis saat sesi wawancara dengan wartawan Harian Pagi Papua Selatan Pos baru – baru ini dipangkalan driver gojek Lapangan Mandala Merauke.

Male mengatakan, dari akhir 2019 sampai sekarang pertengahan 2020 BBM jenis premium teramat susah sekali didapat di SPBU -SPBU Merauke.

“Jadi terpaksa diisi pakai pertamax ataupun pertalite. Karena motor dipakai onbit sehingga ada rasa khawatir bagi kami, pertalite pun stoknya sering kosong, jadi kami sering ganti – ganti bahan bakar,” ujar Male.

Male mengestimasikan pendapatan, disaat tersedianya premium di SPBU dulu, dan kesulitan mendapatkan premium sekarang.

“Kalau untuk pertamax sekali isi Rp.30.000 setiap harinya, dengan 10 orderan diwilayah kota yang berarti Rp.100.000 . Estimasi pendapatan sudah tentu semakin menipis, dihitung kasar maka menerima pendapatan bersih Rp.50.000, itu sudah di tekan, biaya makan yang harus makan, belum biaya perawatan motor,” kata Male.

Premium sebenarnya membantu, kata Male, itupun bila premium bisa terpenuhi setiap harinya di Merauke.

“Awal gabung di gojek, premium tidak susah , saya sendiri mengisi Rp.20.000 bisa dipakai selama 2 hari untuk menghantarkan orderan maupun menghantarkan orang di wilayah kota itu, cukup. Pendapatan pun bisa mencapai Rp.80.000 perhari dengan biaya BBM Rp.20.000 selama 2 hari,” tuturnya.

Ditempat yang sama Mat Salim Yamawi Mahuze, mengatakan alangkah baik nya jika premium selalu tersedia dengan kuota yang cukup di Merauke. Karena dari sisi pendapatan, menggunakan BBM premium menguntungkan. “Kalau pakai pertamax dengan orderan saya 5 sampai 6 orderan perhari, memang masih ada sisa pendapatan dipotong biaya BBM. Tapi alangkah baiknya kalau premium ada terus karena pasti membantu karena irit, memang disisi lain menggunakan pertalite dan pertamax ketahanan mesin lebih baik,” kata pria berdarah Marind ini.

Para gojek pun bertanya, apakah benar informasi mengenai premium akan dihapuskan.

Mengenai kekosongan BBM jenis tertentu sering terjadi begitupun ketersediaan BBM premium. Bahkan antrian – antrian panjang masih terjadi di SPBU -SPBU Merauke hingga saat ini.

Bahkan per kemarin 8 Oktober 2020 BBM jenis pertalite dan premium sama sekali tidak ada di SPBU.

Untuk harga BBM jeni premium di Merauke Rp. 6.450, pertalite Rp. 7.850, sedangkan pertamax seharga Rp.9.200, solar Rp.5.150 dan dexlite Rp.9.700.

Mengenai antrian dan kekosongan BBM di Merauke juga sudah pernah dibawakan dalam rapat di DPRD Kabupaten Merauke.

Wakil Ketua II DPRD Merauke, Dominikus Ulukyanan,S.Pd menduga ada penyalahgunaan. Ia juga sempat melontarkan dugaannya terkait seringnya terjadi kekosongan BBM dan antrian di SPBU Merauke.

Kekosongan BBM khusus Premium dan Pertalite dì Merauke akhir – akhir ini ditambah antrian truk pengisi solar membuat banyak masyarakat bertanya – tanya. Kemana minyak – minyak subsidi itu setelah keluar dari Terminal BBM Merauke.

Kèjadian kekosongan Premium dan Pertalite membuat masyarakat tak punya pilihan dengan harus membeli jenis BBM Pertamax yang harganya tidak murah. Apalagi ditengah pendemi Virus Corona saat ini. Membuat masyarakat, seperti angkutan umum, gojek merasa tergerus.

“Ada indikasi kearah penyalahgunaan BBM di Merauke. Karena sedianya Pertamina melepaskan minyak dari terminal sesuai dengan aturan apabila sudah dibayar di Bank, pertamina akan melayani melalui nota. Pertamina hanya melayani nota yang dibayarkandi BRI. Makanya waktu pertemuan sebelum Corona antara dewan dengan pertamina ,mereka bersikeras minta diaudit. Karena ada indikasi kearah penyalahgunaañ,” ujar Domin.

Domin menyebutkan, menurut pantauanya, kios – kios di Merauke juga dibanjiri dengan bensin Premium dan pertalite. “Nah, itu mereka dapat dari mana. Kami minta dan rekomendasikan kepolisian melakukan penyelidikan karena sedianya itu wewenang mereka,”kata Domin.

Menurut Domin juga, keadaan ini harus kembali dibicarakan dengan pertamina. “Ini harus dibicarakan dengan pertamina sekalian, pertamina harus kasi keluar bukti – bukti dia kasi keluar data kepada siapa minyak – minyak itu kepada agen mana saja, dari situ kan bisa dilihat agen mana yang dapat paling banyak. Ini sudah patut dicurigai,” kata Domin.

Tidak hanya itu, Mantan Anggota DPR-RI Merasa Aneh Keadaan BBM di Merauke

Kekosongan Bahan Bakar Minyak (BBM) itupun sempat ditanggapi mantan wakil rakyat DPR-RI Komisi VI yang juga menangani tentang BUMN salah satunya Pertamina yakni Steven Abraham.

Steven Abraham mengatakan, seringnya kosong BBM di Merauke belakangan ini memunculkan sebuah keanehan. Karena, saat ini SPBU Merauke pada pukul 19.30 sudah menutup gerbang.

“Menurut saya pihak pemerintah dan DPR kurang proaktif mengatasi ini dan pertamina seolah menutup mata. Apalagi sekarang mobil dan motor sudah bertambah banyak,” kata Steven.

Steven Abraham menduga, ada yang salah dan ada sebuah penyimpangan yang dilakukan oleh pertamina. Hal itu dikatakan, dari hasil penulusaran saat sedang menjabat menjadi wakil rakyat DPR-RI kala itu.

“Kenapa saya bilang bermain, ada satu pengusaha minyak pertamina yang memiliki BBM full subsidi tapi juga memiliki full non subsidi dan itu gabung di satu tempat. Dalam peraturan itu tidak boleh dan saya juga sudah pernah tegur itu sampai di Jakarta,” beber Steven Abraham.

Steven Abraham menduga, penyimpangan BBM di Merauke terjadi melalui distrubusi.

“Distribusi yang sepertinya bermain,karena di kota minyak sering kosong, tapi mobilitas minyak ke Muting atau ke Bupul misalnya, lancar terus. Nah, kenapa ke SPBU hanya dijatah satu tangki satu hari,” kata dia.

Dikatakan Steven Abraham, yang perlu diselidiki bukan pengepul minyak kecil – kecilan tapi pengecer besar. Yang mana membeli minyak subsidi menjual dengan harga non subsidi ke wilayah dalam. “Kalau mau, mari kita lihat diperusahaan sawit,mereka pakai berapa banyak setiap hari, sewaktu saya masih di komisi enam, saya sudah telusuri itu, cuman belum tuntas,” kata dia.

Menurut data yang didapatkan wartawan media ini dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Merauke, kuota untuk Kabupaten Merauke tahun 2020, BBM jenis premium sebanyak 26.946 Kilo Liter sedangkan untuk BBM jenis solar sebanyak 27.997 Kilo Liter.

Sementara itu, dalam data kuota tahun 2020 itu, SPBU Ahmad Yani menerima premium perbulan sebanyak 400 Kilo Liter, SPBU Parako sebanyak 500 Kilo Liter perbulan. Untuk kuota jenis solar kedua SPBU ini mendapatkan jatah sebanyak 200 kilo liter masing – masingnya. Sedangkan untuk SPBU KMPG Kuper Semangga mendapatkan jatah premium hanya 30 kilo liter setiap bulannya dan solar sebanyak 20 kilo liter. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *