Sulit Memasarkan, Pelaku UMKM Kurangi Produksi
Pelaku usaha pengolahan ikan Hasnah di Binaloka.Foto: PSP/ERS
Merauke, PSP – Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) produk pengolahan ikan di Binaloka terpaksa mengurangi produksi olahan dikarenakan sulitnya memasarkan produk olahan yang dibuat. Kini pelaku usaha pengolahan ikan pun hanya memproduksi olahan ikan tidak mencapai 20 kilogram perbulan.
Ikan pun diolah menjadi bakso, abon, krupuk, pilus, terasi, naget, dan empek-empek.
“Dulu memang sempat ada organisasi Sinet dari Australia yang membantu kami untuk memasarkan ke Ambon. Tapi itu berkontrak hanya 2 tahun, dari tahun 2017 sampai 2019, setelah itu tidak ada lagi,” ujar salah satu Pelaku UMKM Pengolahan Ikan di Binaloka, Hasnah di kediamannya belum lama ini.
Sejak membuat usaha pengolahan ikan tahun 2013, Hasnah mengaku, bisa mengeluarkan ikan olahan mencapai 200 Kilogram perbulan.
“Kalau sekarang benar – benar macet ditambah adanya pandemi begini tambah susah, kami hanya mengolah 20 kilo ikan selama 2 bulan, itupun kadang tidak habis,” kata Hasnah.
Hasnah mengatakan, saat ini tetap mengolah ikan menjadi produk jadi. Namun, dipasarkan hanya sebatas di kota Merauke. “Sekarang kami tetap olah , itupun kalau ada yang pesan diwilayah kota,” katanya.
Dia melanjutkan, peluang untuk mengirimkan produk olahan keluar saat ini terkendala di biaya cargo yang mahal.
“Semisalnya ada yang berminat dengan produk kami, kami juga merasa berat di biaya cargo, karena biaya cargo sekarang kan mahal. Jadi tidak sebanding dengan harga yang harus dijual keluar,” ujar Hasnah. Ditambahkan Hasnah, mau tidak mau mengolah ikan menjadi produk jadi sedianya akan tetap dipertahankan meski pun sulitnya pemasaran. “Ya mau tidak mau harus tetap kami laksanakan mengolah, siapa tau ada yang berminta kami siap membuat,” pungkasnya. [ERS-NAL]
