Dari Tabonji, Tanam Padi di Kota untuk Biayai Kuliah

0
Para mahasiswa didampingi orangtua sesaat menunjukkan hasil tanam mereka di Mangga Dua Kelapa Lima (1)

Para mahasiswa didampingi orangtua sesaat menunjukkan hasil tanam mereka di Mangga Dua Kelapa Lima. Foto: PSP/ERS

Merauke, PSP – Proficiat. Sekolompok anak – anak dari Kampung Tuam Distrik Tabonji, berstatus mahasiswa berdomisili di Mangga Dua Kelapa Lima tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mereka bercocok tanam untuk kelangsungan kuliah.

Didampingi para orang tua, mereka memanfaatkan lahan milik salah satu perusahaan di Merauke untuk bercocok tanam seperti menanam padi, umbi-umbian, tebu, pisang dan masih banyak lagi.

Untuk menemui mereka, harus melalui jalan tanah diujung Mangga Dua.

Saat ditemui media ini, Sabtu (8/8) mereka tampak sudah membungkus dengan karung  hasil panen mereka berupa beras untuk dijual. Tak disangka, 200 Kilogram beras yang terlihat bersih putih tanpa patahan langsung dibeli Wakil Ketua II DPRD Merauke Dominikus Ulukyanan,S.Pd.

Ketua Kelompok Tani Ruambo 1, Paskalis Wamudiwa mengatakan disini ada 6 kelompok yang terbagi mulai dari perikanan lama sampai SMP Gudang Arang. Kelompok kami baru dibentuk dengan nama Ruambo 1. Di SP juga ada teman lain, satu kali panen biasanya mencapai 15 ton perkelompok kalau padi tumbuh dengan baik..

Namun, kata Paskalis, sejak berinisiatif bercocok tanam sejak 2011 silam. Para mahasiswa yang juga tinggal disekitaran tempat bercocok tanam, sering merasa kesulitan baik mengenai pupuk, mesin giling, air dan pelita untuk penerangan jika gelap tiba.

“Kami menanam padi tanpa pupuk dilahan seluas 5 hektar. Ketika musim tanam, kami tanam, kadang hama menjadi musuh. Tahun ini hama juga menyerang tapi tidak ada yang membantu menyemprot. Kami juga sudah minta bantu ke dinas tapi tidak ada respon. Menggiling pun secara manual,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Kelompok Tani Ruambo 1 Yohanes Marepa yang juga seorang mahasiswa aktif mengaku, untuk hasil panen padi, dijamin kualitas baik karena tidak menggunakan pupuk.

“Kami memang kesulitanan di pemasaran. Dari sisi kualitas secara kasat mata kami jamin. Kami pernah saingan dengan beras di SP 5, Wasur dan Semangga kami dinilai yang terbaik. Dilihat dari sisi kadar air. Mereka menyebut beras ini teman dari beras jenis Putri Thailand,” kata Yohanes.

Untuk lahan yang dipakai, tambah Yohanes, sedianya masih meminjam lahan ke salah satu perusahaan di Merauke.

“Kami pinjam pakai tempat , kami berdomisili disini. Tapi dari hasil menanam ini, kami mencoba melanjutkan kuliah, dan memenuhi kebutuhan,” kata Yohanes.

Ditempat yang sama, Dominikus Ulukyanan mengatakan, kelompok tani dari Distrik Tabonji Kampung Tuam menjadi bukti bahwa anak – anak Papua bisa berusaha memenuhi semua keperluan hidup.

“Wilayah Mangga Dua bukan hanya tempat anak – anak texas, tidak demikian karena diujung sini ada anak – anak yang inspiratif.

Saya beli beras ini bukan karena saya tidak ada beras, tapi saya ingin memberikan motivasi. Pejabat pun sebaiknya bisa beli beras hasil tanam mereka,” pesan Domin.

Domin mengatakan, tengah berkomunikasi dengan PLN untuk pengadaan listrik bagi para mahasiswa dan keluarga. “Disini harus ada listriik, kita akan komunikasikan. Kami pun akan upayakan mesin giling,” ucap Domin. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *