19 Juni 2024

Yacobus: Sebagian besar alumnus STPI Curug telah bekerja

0

Yacobus Mamuyab, S.Pd

Merauke, PSP – Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat, Yacobus Mamuyab, S.Pd memastikan sebagian besar alumni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug telah bekerja sesuai bidangnya di bandar udara.

“Di Curug pada 2016 itu kan 18 orang, yang selesai dengan normal dengan memiliki ijazah sekolah tinggi penerbangan pada 2019 itu 15 orang,” ungkapnya kepada Papua Selatan Pos di ruang kerjanya, belum lama ini.

Yacobus menerangkan, bahwa seluruh alumni STPI Curug 2018 tidak ada yang mengambil program penerbangan. Adapun jurusan yang diambil adalah jurusan teknik untuk melaksanakan dan mengoprasikan beberapa pekerjaan di bandara udara.

“Jurusannya kan berbeda-beda. Dari 15 orang itu, ada jurusan operasi bandar udara (OBU), perbaikan instalasi di bandara, ada juga jurusan yang mengatur lalu lintas udara yang biasa di tower. Yang jelas dari 15 yang selesai itu tidak ada yang jurusan penerbangan atau pilot,” terangnya.

Ia menyebutkan, dari 15 orang, diataranya telah sudah bekerja di Bandar Udara Internasional Hand Nadim Batam. Sebagiannya bekerja di Bandar Udara Mopah Merauke, dan sisanya beberapa orang belum bekerja.

“Dari 15 yang selesai, 3 kebetulan lolos dan diterima oleh bandara di batam, yang terdiri dari 2 anak Papua, satu warga nusantara lain. Mereka 3 mewakili masyarakat Merauke. 12 orang sisanya pada oktober 2019 awal, kami langsung menyurat ke kepala Bandara Mopah, namun memang sebelumnya diantara mereka sudah ada yang diakomodir disana. Sisanya lagi 2 atau 3 orang sepertinya mereka maunya masih dikeluarga, mereka mau menikmati alam dulu, atau mungkin ada kesempatan lain yang mereka tunggu,” sebutnya.

Selain itu, pada 2017, Pemda Merauke juga meberik kesempatan bagi 1 orang mahasiswa untuk belajar di STPI Curug. Namun karena persoalan moral, menjelang tahun terakhir ia belajar, oleh pemda di dipulangkan kembali ke Merauke. “Memang pada 2017 kita juga kirim 1 orang ke Curug, namun karena persoalan moral dan etika, pada 2019, pak bupati minta kami pulangkan. Padahal sudah pada semester akhir dan seharusnya tahun ini sudah harus selesai. Tapi karena ada hal yang memalukan Pemda Merauke, kami bertindak untuk memulangkan dia. Dimana, upacara pengembalian mahasiswa dilakukan dengan saya langsung yang menerima,” ujarnya. [WEND-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *