Sekolah Keluhkan Aktivitas Depot Air Galon, Pengusaha Galon: Tidak Pernah Ada Laporan kepada Kami

0
Depot air galon yang berhadapan dengan gedung kelas SMAN 1 Merauke

Depot air galon yang berhadapan dengan gedung kelas SMAN 1 Merauke. Foto: PSP/WEND

Merauke, PSP – Kepala Sekolah Menenggah Atas (SMA) Negeri 1 Merauke mengeluhkan atas aktifitas usaha depot pengisian air galon yang berada di jalan pendidikan, tepat diseberang jalan gudang kelas SMAN 1 Merauke.

Kepala SMAN 1 Merauke, Sergius Wasmsiwor, mengaku persoalan ini sudah dikeluhkan oleh para guru sejak sekolah dipimpin oleh kepala sekolah sebelumnya. Menurutnya, dahulu persoalan ini telah disampaikan, namun belum juga ada jalan keluarnya.

“Kendala yang dihadapai hari ini ternyata bukan hari ini, ternyata persoalan ini sudah lama, terjadi pada saat kepala sekolah sebelumnya. Menginggat semua aktivitas disitu sangat menggangu kenyamanan belajar mengajar SMA 1. Karena disaat mereka mencucui galon, kan dia bunyi. Kedua, mereka putar lagu juga, kemudian aktivitas mobil juga menanganggu orang tau yang hendak menjemput,” kata Sergius kepada Papua Selatan Pos, di Ruang kerjanya, Kamis (19/11/2020).

Namun demikian, pihaknya mengaku belum berkomunikasi secara langsung dengan pihak pengusaha air galon, dan baru akan mengirimkan surat. Ia berharap nantinya pemerintah daerah bisa turut memediasi, sehingga ditemukan jalan keluar dari permasalahan ini.

“Komunikasi dilakukan oleh pimpinan sebelumnya, tetapi tidak membuahkan hasil. Saya juga belum kesana, tetapi hari ini juga saya melalui surat. Dengan harapan strategi komunikasi yang saya bangun ini bisa membuahkan hasil. Karena, saya sebagai bagian dari pemerintah merasa bertangung jawab dalam pendidikan ini harus kita sukseskan dengan tidak mendapat ganguan dari manapun,” tukasnya.

Selain itu, Sergius menegaskan, apabila tidak ditemukan jalan keluar, maka pihaknya akan menutup kegiatan belajar mengajar sampai waktu yang tidak ditentukan. 

“Langkah selanjutnya kita akan lihat, kalau ini tidak membuahkan hasil, kita akan menutup kegiatan belajar mengajar dulu, dengan tujuan supaya pemerintah daerah Merauke berkoordinasi kembali,” tegasnya.

Sementara itu, pemilik usaha galon, Slamet Hariyono mengaku sama sekali tidak tahu persoalan ini. Pasalanya, pihak sekolah sama sekali belum pernah memberikan surat atau berkomunikasi dan menyampaikan keluhannya. “Karena ini tidak ada komunikasi saja. Sebagai pihak pengusaha kan tidak tau keluhan sebelah (sekolah) apa kan tidak tahu. Kalau kita tahu keluhannya sebelah mugkin kita bisa perbaiki, tapi kan ngak ada. Kalau dari awal kita tahu, mungkin kita bisa pindahkan alat kemana kah. Kita juga ngak ingin anak-anak terganggu, persoalannya anak saya belajar disitu juga. Ini karena ngk ada surat, Saya juga ngak sampai kepikiran mau menganggu aktifitas belajar mengajar. Saya juga berdosa kalau sampai saya menganggu, saya juga mengerti, saya juga manusia,” ujar Slamet kepada Papua Selatan Pos saat ditemui di kediamannya, Kamis (19/11). [WEND-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *