Staf Khusus Menhub Sedih Dengar Beras Menumpuk di Merauke
Mayjen TNI (Purn) Buyung Lalana
Merauke, PSP – Staf Khusus Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Mayjen TNI (Purn) Buyung Lalana merasa sedih mendengar persoalan penyerapan beras di Merauke. Dimana beras petani Merauke tidak terserap secara maksimal oleh Bulog.
Ia mengibaratkan, persoalan menumpuknya beras di Kabupaten Merauke bagai ‘Tikus Mati Dilumbung Padi’.
Hal itu ia ungkapkan saat melakukan Audiensi Pelayanan Angkutan Publik dan Monitoring Evaluasi Sistem Pelayaran dan Ketahanan Pangan pada Transportasi Laut di Kabupaten Merauke di Swiss-Bell Hotel beberapa waktu lalu.
“Peluang ketahanan pangan disini, sangat besar sekali diberdayakan ke daerah lain. Saya gembira karena banyak beras disini, tetapi, saya sedih mendengar kalau mengeluarkannya susah. Apalagi saya ada mendengar sampai ada yang bunuh diri, panennya banyak jualnya susah, tapi harus bayar hutang,” kata Buyung Lalana.
Staf khusus menegaskan, tidak ingin mendengar peristiwa sama terulang kembali.
“Berikutnya tidak ada lagi ya. Karena kehadiran saya disini membuka simpul – simpul semua. Karena kita punya Pelni, Damri, ada regultor juga seperti KSOP jadi harus bisa,. Jangan sampai ada istilah petani mati dilumbung padi ya,” tegas dia.
Dia menyebutkan, memiliki data bahwa Merauke sebagai lumbung padi nasional namun kemudian biaya THC membuat mahal biaya bongkar muat. “Maka perlu ada MoU teknis, biaya angkut ke Jawa Timur sesuai dengan rutenya, ini semua harus diungkap bersama. Supaya bisa menyalurkan bedas ini ke daerah lain,” tegas dia.
Staf khusus juga meminta, sebagai insan perhubungan harus memiliki sensitifitas bagaimana cara penyularan beras ke wilayah lain.
Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Merauke Djabiruddin yang hadir pada kesempatan itu mengungkapkan, dari target 24.000 ton masih terealisasi penyerapan sebanyak 50 persen.
“Selain kami mengharapakan ada perintah penyerapan dari pusat, kami juga sebenarnya berharap mengenai biaya pengangkutan. Kalau dari Jatim ke Biak contohnya lebih murah tentunya mereka akan ambil dari Jawa Timur,” kata Djabiruddin. Dikatakan, penyerapan beras di Merauke akan maksimal diharapkan ada kebijakan dari Gubernur Provinsi Papua bahwa beras seluruh ASN di Papua dan Papua Barat bisa dari Merauke. “Saya yakin ini pasti jalan, dan petani pasti terbantu. Kalau beras mereka dari Jawa atau Sulse otomatis beras kita diam ditempat. Kalau ada regulasi itu, maka gudang bulog akan kosong dan pusat akan memerintahkan menyerap beras petani. Tetapi sampai sekarang beras tetap banyak dan belum digeser tetapi ini kebijakan dari kantor pusat,” pungkasnya. [ERS-NAL]
