Sepiring Nasi dan Seteguk Susu “Dariku” Untukmu Anakku
Anak-anak di ujung timur Indonesia mendapat asupan gizi berupa susu dan makanan dari program MBG.
“Biasanya itu jam 10 pagi sudah ada yang izin untuk pulang, alasannya karna lemas dan lapar, sejak ada MBG ini anak-anak juga semangat belajar sampai jam sekolah selesai,”
Merauke – Suasana pagi, Selasa (10/1) di SD Inpres Gudang Arang, Merauke, terasa lebih hidup dari biasanya.
Di sejumlah ruangan kelas murid-murid tampak seksama mendengarkan guru menyampaikan materi pembelajaran. Ada murid yang merespon guru ketika bertanya mengenai materi, ada juga yang diam seolah menyimak dengan wajah datar.
Pagi itu pukul 09.00 WIT. Setengah jam lagi lonceng istirahat akan berbunyi. SD Inpres Gudang Arang merupakan sekolah yang berada di sudut Kota Merauke. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat kota.
Menurut data sekolah, ada 277 total murid, 90 persen diantaranya anak bangsa Indonesia bersuku Papua menimba ilmu ditempat ini.
Lonceng istirahat sudah berbunyi. Guru menyudahi materinya seraya bertanya siapa gerangan murid-murid itu yang saat berangkat sekolah belum makan dari rumah.
Setidaknya ada 20-an murid mengangkat tangannya sembari tersenyum . Isi satu ruangan kelas ada 30 murid.
“Baik, kalau begitu semuanya mencuci tangan di depan kelas,” ujar sang guru mengarahkan para murid ke depan kelas yang sudah tersedia keran air.
Para murid kegirangan dan berlomba mencuci tangan. Rupanya sebentar lagi mereka akan disuguhi makanan yang sudah disediakan di dalam ompreng di sebelah sana.
Sang guru mulai membagikan setiap ompreng berisi makanan ada susu kemasan juga di dalam nya. Mereka tidak lupa berdoa. Selesainya berdoa, ada yang makan di dalam kelas ada juga yang duduk melantai di depan kelas.
Ompreng itu berisikan nasi ditemani sepotong daging ayam, ikan, sayuran, susu kemasan dan pisang.
Mataku tertuju ke seorang murid di dalam kelas. Ia makan dengan lahap. Sesekali bercerita dengan teman disebelah nya.
Namanya Magdalena murid kelas IV di sekolah itu.
Jauh sebelum hari itu, tepatnya bulan November tahun 2024, Magdalena murid yang sempat menangis di pelukan Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk.
Saat itu, Wamendagri Ribka Haluk melakukan kunjungan kerja ke Merauke sekaligus melakukan uji coba program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
SD Inpres Gudang Arang salah satu sekolah di Merauke yang mendapat MBG sampai dengan saat ini.
“Siapa yang tidak makan dari rumah,” tanya Wamendagri kala itu.
Banyak murid yang mengangkat tangan. Lalu murid Magdalena berlari dari kursinya dan memeluk Wamendagri Ribka Haluk sambil menangis.
“Ko belum makan,” tanya Wamendagri yang juga menangis. “Iya” jawab Magdalena menangis tersedu-sedu.
“Kenapa ko belum makan,” lanjut Wamendagri, namun Murid perempuan itu terus memeluknya dan menangis.
Situasi itu, membuat seisi kelas yang dihadiri sejumlah pihak termasuk para guru terharu dan ada yang menangis.
“Ini persoalannya, di rumah tangga masing-masing punya masalah, kita mengajar mereka di sekolah tapi anak tidak bisa berpikir secara efektif, ilmu tidak bisa masuk karena tidak ada asupan gizi,” kata Wamendagri Ribka seraya terus memeluk murid perempuan itu.
Wamendagri Ribka, mengatakan betapa pentingnya pemberian makan dan minum bergizi gratis bagi anak. Lantaran sangat disadari diseluruh Indonesia umumnya pada aspek rendahnya sumber daya manusia masih sangat tinggi, sehingga belum bisa bersaing dengan negara-negara lain.
“Bapak Presiden Prabowo betul-betul mempunyai tekad selama lima tahun kedepan, kita harus memperbaiki asupan gizi bagi anak-anak yang akan melanjutkan program Indonesia emas di 2045,”kata Wamendagri.
Sekarang berbeda, Magdalena dan teman-teman nya tidak khawatir lagi akan makanan dan minuman. Program makanan bergizi gratis sampai hari ini masih terealisasi di sekolahnya.
Murid Magdalena menyebut, bahagia dengan adanya makanan di sekolah, sebab dirinya sering belum makan dari rumah saat hendak pergi ke sekolah. Apalagi untuk meminum susu, tak pernah ada.
“Senang (ada makan gratis,red). Kadang makan supermi pakai nasi dari rumah. Tidak ada susu di rumah. (Kadang) tidak makan,” ujar Magdalena saat ditanya penulis ini.
Lonceng masuk kelas kembali berbunyi. Para murid memasuki ruangan. Beberapa murid masih ada menyedot susu kemasan. Begitupun guru mulai menyampaikan materi. Tampak raut wajah para murid lebih segar dalam mendengarkan guru, meski sejumlah murid terlihat seolah kurang bersemangat.
Kepala SD Inpres Gudang Arang, Natalia Maria Remetwa, S.Pd, mengatakan semenjak program MBG terealisasi di sekolah yang dipimpinnya jumlah siswa yang hadir ke sekolah semakin bertambah dari hari ke hari. Ia menyebut kehadiran program makan gratis memicu semangat anak-anak untuk datang ke sekolah.
“Biasanya ada saja anak yang tidak masuk karena belum sarapan atau alasan lain seperti lemas. Tapi sejak ada program ini jumlah siswa yang hadir juga meningkat, ada susu kemasan juga di dalam ompreng, mereka senang,” kata Natalia saat ditemui di sela kegiatan belajar mengajar itu.
Kondisi serupa juga dirasakan di SMP Negeri Gudang Arang. Walaupun baru menerima program MBG dampaknya langsung terlihat.
Kepala sekolah SMP Gudang Arang Merauke, Marinus Paskalis Rettob bilang, anak-anak sekarang ini kelihatan lebih semangat dan aktif selama di kelas. Terlebih ada susu kemasan yang juga disuguhkan.
“Secara energi pasti anak-anak lebih semangat karena susu yang masuk ke tubuhnya. Anak-anak jadi lebih fokus belajar. Kita bisa lihat langsung perubahan sikap mereka. Biasanya itu jam 10 pagi sudah ada yang izin untuk pulang, alasannya karna lapar dan lemas, sejak ada MBG ini anak-anak juga semangat belajar sampai jam sekolah selesai,” ujar Marinus.
Penanggung jawab Yayasan Lagenggo Multi Dimensi yang menaungi sejumlah dapur di Provinsi Papua Selatan mencakup 4 kabupaten Merauke, Mappi, Boven Digoel dan Asmat, Yovi mengatakan, menyangkut kebutuhan susu dalam program MBG, mereka menyertakan susu kemasan aseptik untuk mendukung gizi penerima manfaat.
“Hasil koordinasi dengan pihak mitra dan SPPG untuk kebutuhan susu yang disertakan dalam menu MBG menggunakan susu kemasan aseptik seperti Omela, Ultra Milk maupun Frisian Flag Omega Nutribrain berjenis plain atau susu putih yang rendah gula. Karena masa kadaluarsa nya lebih lama,” tutur Yovi.

Yovi bilang, mengingat distribusi barang ke wilayah Merauke cukup lama penting memilih kemasan susu yang tahan lama.
“Sejauh ini sih tidak ada masalah dengan susu kemasan yang kami gunakan,” kata Yovi.
Koordinator BGN Wilayah Merauke Khoirun Nisaa mengatakan seluruh SPPG di Papua Selatan diarahkan memakai susu kemasan berjenis plain. Yang memiliki masa tahan kualitas lebih lama.
“Semua SPPG kami arahkan untuk tidak memakai susu kemasan berasa, hanya boleh susu kemasan Plain/full cream. Kami pakai Frisian Flag omega kecil, dan Ultra Milk, karena masa kadaluarsa lebih lama, karena kita di ujung Indonesia, lagipula itu stok yang ada di toko – toko,” jelas Nissa.
Susu kemasan itu, merupakan kemasan aseptik salah satunya dikemas PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia), produsen kemasan aseptik terkemuka. Perusahaan ini mendorong Integrasi Program Susu Gratis dalam MBG demi Indonesia Emas 2045.
Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, menjelaskan LamiPak Indonesia berkomitmen menyediakan solusi kemasan aseptik berkualitas tinggi yang mampu menjaga sterilitas susu tanpa memerlukan bahan pengawet.
“Logistik di Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan suhu dan waktu. Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap utuh meski didistribusikan ke wilayah pelosok tanpa rantai dingin (cold chain). Kami ingin memastikan bahwa ‘Satu Kotak Susu’ yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” tutur Ahmad Rizalmi dalam keterangan tertulisnya, (20/1).

Sementara, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan sudah melakukan pembagian dan sosialisasi manfaat susu sekaligus telur untuk meningkatkan kecerdasan dan mencegah stunting kepada anak-anak di Sekolah Dasar orang asli Papua.
Sekolah yang menjadi sasaran adalah SD Torai, SD YPPK Erambu ditambah siswa SMP Erambu, SD Negeri 1 Wasur dan SMP 1 Atap karena sedikitnya siswa di SD, SD Kampung Baru, SD YPK Tarsisius Biankuk, SD St. Theresia Buti, dan SD St. Maria Fatima dan SD Mangga Dua Merauke.
Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Selatan, Drh Retno Palupi Handayani, M.Ec.Dev menyampaikan menyuguhkan telur dan susu UHT sangat penting untuk tumbuh kembang anak.
“Susu kemasannya warna putih rendah gula karena manfaatnya sangat bagus untuk tumbuh kembang anak. Kita mengedukasi anak bagaimana minum susu yang sehat dan telur yang baik untuk dikonsumsi, karena manfaatnya dapat meningkatkan kecerdasan mereka,” pungkasnya.
Selain itu, kata Retno, memberikan susu dan telur adalah bagian dari tindakan pencegahan stunting mengingat angka stunting di Papua Selatan harus bisa mencapai target nasional turun ke angka 14 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Selatan dr. Benedicta Herlina Rahanggiar mengatakan tingkat stunting di Papua Selatan secara rata-rata mencapai 19 persen.
“19 persen. Kita optimis ke depan target stunting turun hingga 14 persen,” kata Herlina singkat.
Ketua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Provinsi Papua Selatan yang juga merangkap penanggung jawab SPPG Kabupaten Merauke, Anisa Amalia, mengatakan program ini menyasar 3.960 penerima manfaat.
“Kami mulai dari SD Inpres Gudang Arang, dan selanjutnya menjangkau lebih banyak lagi sekolah lainnya yang telah ditetapkan. Iya terkait menu kami sertakan di dalam nya susu berupa kemasan,” kata Anisa.
“Sepiring Nasi dan Seteguk Susu “Dariku” untukmu Anakku” kalimat ini boleh menggambarkan hati pemerintah Indonesia yang saat ini dikendalikan Presiden Prabowo Subianto. Meski tidak secara langsung tangan Prabowo Subianto menyerahkannya. Sebab Pelaksanaan MBG seperti di Merauke melibatkan lintas instansi, pihak perusahaan terkait, Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM), termasuk Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Kodim 1707/Merauke.
“Program ini diharapkan tetap bisa memberi dampak nyata, terutama dalam upaya peningkatan gizi anak sekolah dan masyarakat rentan di Papua Selatan,” tutup Annisa.

Kepala Loka POM Merauke, Minarto mengatakan beberapa upaya dilakukan guna memastikan makanan dan minuman yang diberikan kepada anak sekolah dalam program MBG ini aman, salah satunya dengan melakukan kitchen inspeksi dapur sehat.
“Kitchen inspeksi yang kami lakukan adalah kesiapan sarana-prasarana, alur proses produksinya, penyimpanan bahan bakunya seperti apa, pengolahan bahan bakunya yang segar seperti apa, sanitasi, kita lakukan inspeksi. Itu dimaksudkan untuk mencegah Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan,” kata Winarto.
Sejatinya, sekolah dikemas bukan lagi tempat asing yang menakutkan bagi anak. Dengan sentuhan pemerintah lewat program MBG, sekolah adalah tempat anak-anak tumbuh menjadi pribadi hebat dengan cinta, kesehatan, dan semangat belajar yang menyala.
“Menurut saya program MBG bagus. Kadang anak saya tidak makan buah, tidak minum susu di rumah, di sekolah dia minum susu dan makan buah.Dilanjutkan saja (MBG,red),” ujar Agustinus salah satu orangtua murid yang anaknya bersekolah di SD Inpres Gudang Arang Merauke.
Dikutip dari www.radarbanten.co.id Dewan Pakar Gerakan Nasional Gizi (BGN), Prof. Epi Taufik, dalam sebuah diskusi panel di IPB University Bogor pada 27 November lalu, menyampaikan bahwa kemasan aseptik untuk susu UHT merupakan solusi paling realistis untuk mendukung keberlanjutan program susu sekolah MBG dalam skala nasional.
“Teknologi ini mampu menjawab tantangan besar distribusi di Indonesia, terutama ke ribuan sekolah yang tidak memiliki fasilitas pendingin,” ujar Prof Epi Kamis, 11 Desember 2025.
Menurut Prof. Epi, susu UHT dalam kemasan aseptik memiliki masa simpan panjang, yakni enam hingga dua belas bulan selama kemasan tidak dibuka atau mengalami kerusakan.
“Teknologi ini memungkinkan pengiriman dalam volume besar dengan risiko kontaminasi yang sangat rendah, serta biaya logistik yang lebih efisien,” jelasnya.
Prof. Epi menegaskan aseptic packaging adalah teknologi strategis untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Susu dapat bertahan di suhu ruang, mudah disalurkan ke wilayah terpencil, dan lebih aman secara higienis.
Hal ini diyakini dapat mempercepat pemerataan akses gizi, termasuk untuk daerah 3T, dan memperkuat keberhasilan program pemerintah yang membutuhkan suplai susu dalam jumlah besar.
Sementara, Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, turut menyoroti kebutuhan akan kemasan pangan yang fungsional, higienis, dan aman, seiring dengan meningkatnya tuntutan konsumen.
Ia menilai tren ini semakin relevan bagi program distribusi pangan berskala nasional seperti MBG, yang membutuhkan jaminan keamanan produk dari pabrik hingga ke tangan siswa. [ERON SIMBOLON]
