Para Pemilik Kapal dan Nelayan Diminta Taat Aturan Berlayar
H. Riduwan
Merauke, PSP – Laut Indonesia masih punya banyak ikan, para nelayan diminta untuk tidak perlu harus mencari ke negara orang yang akhirnya berujung pada masalah. Para pemilik kapal dan nelayan, diminta untuk taat aturan, sehingga tercipta keselamatan bagi bagi kapal maupun anak buah kapal dan mendapatkan hasil melimpah.
“Pemerintah sudah memfasilitasi sedemikian rupa untuk bagaimana nelayan agar lebih maju. Potensi ikan harus bisa digali dengan teknologi. Makanya, pemilik kapal diminta untuk meningkatkan peralatan, mulai surat kapal, ijin berlayar hingga BPJS bagi ABK,” ujar Wakil bupati Merauke, H.Riduwan, kemarin.
Menurut orang nomor dua di jajaran Pemda Merauke itu masih ada nelayan yang tidak taat aturan. Maka lewat SLCN (Sekolah Lapang Cuaca Nelayan) yang dihelat oleh BMKG bisa memberikan informasi dan pemahaman untuk pemanfaatan produk informasi cuaca dan iklim maritim BMKG, karakterisitik cuaca perairan dan produk-produk terkait yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan untuk mendukung peningkatan kualitas hasil perikanan.
“Dengan SLCN diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai informasi cuaca maritim kepada nelayan dan instansi terkait untuk mendukung aktifitas melaut, mengurangi risiko kecelakaan, dan meningkatkan produktivitas tangkapan, serta mengubah paradigma mencari ikan menjadi menangkap ikan,” terangnya.
Wabup menambahkan nelayan di Merauke harus tau bahwa saat melaut itu bukan mencari ikan, melainkan mengambil ikan. Sebab, di wilayat laut arafura kaya akan hasil laut.
“Untuk itu, nelayan harus berkomitmen dalam melaut dan tidak memasuki wilayah negara orang,” pintanya dengan tegas.
Di samping itu, Wabup juga meminta agar dinas terkait untuk melakukan penertiban bagi nelayan maupun pemilik kapal, sehingga kejadian adanya nelayan RI yang sampai ke negara tetangga tidak terjadi lagi. Setiap kapal yang keluar berlayar harus diberangi surat yang lengkap.
“Seperti waktu penembakan nelayan di PNG beberapa waktu lalu, itu sudah lewat batas sekitar 50 mil. Itu ada kesengajaan. Ini jangan sampai terulang lagi dan ada korban. Ini harus menjadi komitmen kita bersama,” tutupnya.[FHS-NAL]
