Kongres Perdana IDAPS Digelar, Wadah Dosen Asli Papua Selatan

0

Merauke, PSP – Ikatan Dosen Asli Papua Selatan (IDAPS) resmi menggelar Kongres I di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Senin (15/6).

Dalam kesempatan itu, Pemerintah Provinsi Papua Selatan menyatakan komitmennya mendukung organisasi tersebut dengan menyiapkan bantuan sebesar Rp100 juta setelah kepengurusan definitif terbentuk.

Kongres perdana yang mengusung tema “Memperkuat Peran Dosen Asli Papua Selatan Dalam Membangun Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berdaya Saing” dibuka oleh Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, dan dihadiri sekitar 250 peserta dari 13 perguruan tinggi di wilayah Papua Selatan.

Dalam sambutannya, Apolo Safanpo menegaskan bahwa dosen memiliki peran strategis sebagai pendidik profesional sekaligus ilmuwan yang bertugas mengembangkan, mentransformasikan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni kepada masyarakat.

Menurutnya, seorang dosen tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan pengajaran, tetapi juga penelitian serta pengabdian kepada masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Generasi muda asli Papua Selatan tidak hanya perlu berkiprah sebagai aparatur pemerintah atau politisi, tetapi juga harus mengambil peran sebagai ilmuwan yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni,” kata Apolo.

Ia mengapresiasi inisiatif pembentukan IDAPS karena dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia dan keilmuan Orang Asli Papua (OAP) di Papua Selatan.

“Pemerintah Provinsi Papua Selatan berkomitmen untuk terus memberikan dukungan kepada Ikatan Dosen Asli Papua Selatan. Setelah kepengurusan definitif terbentuk, pemerintah provinsi akan memberikan bantuan sebesar Rp100 juta untuk mendukung program-program organisasi,” ujarnya.

Ketua Panitia Kongres I IDAPS, Lambertus Ayiriga, mengatakan pembentukan organisasi tersebut dilatarbelakangi belum adanya wadah resmi yang menghimpun dosen asli Papua Selatan dalam satu organisasi profesi.

Berangkat dari kesepakatan para inisiator dari Kabupaten Merauke, Mappi, Asmat, dan Boven Digoel, IDAPS dibentuk sebagai rumah bersama bagi dosen asli Papua Selatan sekaligus sarana memperkuat kontribusi mereka dalam pembangunan sumber daya manusia.

“Kami mencoba mempersatukan dosen-dosen dari seluruh Papua Selatan agar terorganisir dengan baik dan dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia orang asli Papua,” katanya.Lambertus mengungkapkan jumlah dosen asli Papua Selatan saat ini masih sangat terbatas. Berdasarkan pendataan panitia, hanya sekitar 25 dosen asli Papua Selatan yang teridentifikasi di seluruh wilayah provinsi tersebut.

Di Universitas Musamus yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi negeri di Papua Selatan, terdapat 485 dosen, namun hanya 16 orang yang merupakan dosen asli Papua Selatan. Sementara di sejumlah perguruan tinggi swasta terdata sekitar 13 dosen asli Papua Selatan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama dibentuknya IDAPS untuk memperkuat jaringan, pendataan, serta kaderisasi dosen asli Papua Selatan di masa mendatang.

Selain membentuk organisasi secara resmi, kongres juga bertujuan merumuskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), memilih pengurus definitif, memperkuat kerja sama lintas kabupaten, serta mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal Papua Selatan.

Sementara itu, Asisten I Setda Kabupaten Merauke, Yanuarius Katmo, mengatakan kehadiran IDAPS diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam pengembangan sumber daya manusia melalui berbagai program pendidikan dan akademik.

“Dengan adanya organisasi ini, akses terhadap sumber daya manusia, baik dosen, tenaga kependidikan maupun mahasiswa akan semakin mudah,” ujarnya.

Kongres I IDAPS diikuti dosen dari berbagai perguruan tinggi di Papua Selatan, antara lain Universitas Musamus, STIE Setia Karya Merauke, STISIPOL Yaleka Maro Merauke, Akademi Kebidanan Yaleka Maro Merauke, STK Santo Yakobus Merauke, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya di wilayah Papua Selatan. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *