Asisten I Setda Papua Selatan: Banyak Warga di Tanah Papua Masih Makan Sekali Sehari

0
Orientasi tata laksana dan sosialisasi standar produk pangan terapi gizi di Papua Selatan.

Orientasi tata laksana dan sosialisasi standar produk pangan terapi gizi di Papua Selatan.

Merauke, PSP – Asisten I Setda Provinsi Papua Selatan Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Agustinus Joko Guritno, mengungkapkan masih banyak masyarakat di Tanah Papua yang mengalami kekurangan gizi karena keterbatasan pola makan.

Hal itu disampaikan Guritno saat mewakili Gubernur Apolo Safanpo membuka kegiatan orientasi tata laksana dan sosialisasi standar produk pangan terapi gizi bagi balita gizi buruk di Hotel Corein, Merauke, Selasa (10/3).

Ia bilang, sebagian masyarakat di wilayah Papua masih mengonsumsi makanan hanya satu kali dalam sehari karena sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk berkebun dan meramu sagu.

“Masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan gizi. Sebagian besar dalam sehari hanya makan satu kali lantaran menghabiskan waktu untuk berkebun dan meramu sagu,” ujarnya.

Padahal, menurutnya, sumber pangan di Papua sangat melimpah, baik dari hasil alam maupun produk lokal seperti ikan, sayur-mayur, sagu, daging, dan buah-buahan yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat.

Guritno menegaskan masalah gizi buruk, terutama pada balita, harus mendapat perhatian serius karena berkaitan erat dengan persoalan stunting yang hingga kini masih menjadi isu nasional.

“Karena ini ada hubungan erat dengan stunting. Ini merupakan isu nasional yang belum berakhir sampai hari ini,” katanya.

Katanya, penanganan gizi buruk membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, khususnya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pola makan dan pola hidup sehat.

Pada kesempatan tersebut, Guritno juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Cenderawasih dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) yang telah berkolaborasi menyelenggarakan kegiatan tersebut.

Menurutnya, kerja sama dengan berbagai pihak sangat penting mengingat pemerintah memiliki keterbatasan dalam memberikan pelayanan secara komprehensif kepada seluruh masyarakat.

Ia mengingatkan para Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan dan gizi, agar aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan sumber pangan lokal untuk meningkatkan gizi balita.

“Tenaga kesehatan yang pernah bertugas di kampung-kampung tentu mengetahui bagaimana pola hidup masyarakat. Karena itu perlu memberikan edukasi agar masyarakat memanfaatkan sumber daya alam yang ada untuk meningkatkan gizi keluarga,” ujarnya.

Guritno mengungkapkan pola makan masyarakat di kampung yang umumnya masih mengandalkan metode memasak dengan cara direbus atau dibakar, serta kurangnya perhatian orang tua terhadap pola makan anak.

Selain itu, ia menilai pola hidup masyarakat yang kurang sehat, seperti kebiasaan tidur di dekat tungku api dalam jangka panjang, berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Karena itu, sambungnya, penting penyuluhan yang komprehensif kepada masyarakat, mulai dari pola makan, kebersihan lingkungan, hingga penyediaan fasilitas sanitasi seperti MCK.

“Hal ini juga perlu disampaikan kepada pemerintah agar dapat membangun fasilitas MCK umum bagi masyarakat,” katanya.

Guritno berharap para peserta kegiatan dapat mengikuti orientasi dengan baik, berbagi pengalaman sesuai bidang keahlian masing-masing, serta menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di Provinsi Papua Selatan. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *