Pupuk Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan di Negeri Papan
Penanaman jagung oleh masyarakat, TNI-Polri dan pemerintah di Asmat sebagai upaya ketahanan pangan.
Merauke, PSP – Kabupaten Asmat. Meski tidak masuk dalam daftar kawasan proyek strategis nasional (PSN) sejumlah pihak berpangku dan bergandeng tangan menciptakan ketahanan pangan di wilayah ini.
Mengingat sebagian besar wilayah Asmat merupakan rawa-rawa dan hutan bakau. Masyarakat hidup dan beraktivitas di atas papan.
Kendati daerah ini dikenal dengan negeri papan, tak menyurutkan masyarakat menanam dan memanen demi ketahanan pangan.
Upaya itu selain untuk mewujudkan asta cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, juga berkaca dari peristiwa tahun 2018 lalu, Asmat sempat diselimuti kabut gelap dengan adanya kasus luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak bagi anak-anak.
Sulitnya mendapatkan pasokan makanan bergizi, hingga sulitnya transportasi ke Asmat menjadi penyebab KLB menerpa Asmat.
Sejumlah pihak, pemerintah, TNI, Polri bersama masyarakat tak ingin peristiwa kelam itu kembali terulang. Banyak merenggut nyawa anak-anak.
“Saya tidak ingin mengingat peristiwa itu (KLB Gizi Buruk) lagi,” kata Moses di Kampung Ayam (20/10).
Moses adalah warga di kampung Ayam Distrik Akat Kabupaten Asmat yang saat ini beraktivitas menanam palawija.
KLB gizi buruk di Asmat menjadi kisah kelam bagi dia. Anak dari adik perempuannya menjadi salah satu korban keganasan gizi buruk kala itu.
“Sekarang lebih baik berupaya satu menit daripada berdiam dan menyesali yang sudah terjadi. Dulu mau dapat makanan bergizi susah minta ampun,” kata Moses.
Atas peristiwa itu, Moses mulai menanam di lahan garapan yang disediakan pemerintah kabupaten Asmat. Mulai menanam jagung, cabai, tomat dan sayur kangkung.
Pemerintah gencar memberikan bantuan untuk menciptakan lingkungan menanam demi topangan pangan keluarga kepada masyarakat.
“Pemerintah kasih bantuan menggarap lahan, bantu bibit, dan pupuk. Setiap hari tinggal rawat saja, hasilnya sebagian bawa di rumah, sebagian bisa juga jual atau barter deng (dengan) orang lain,” ujar Moses.
Moses bilang, jauh sebelum peristiwa KLB campak terjadi warga sudah menanam seperti sayur kangkung, umbi-umbian dalam jumlah kecil di depan atau belakang rumah, wadahnya perahu-perahu bekas yang retak dan sarang ayam hutan sebagai media tanah.
“Tapi itu dulu, kita pakai sarang ayam hutan taruh di dalam perahu retak tapi tidak maksimal, bibit dia mati,” ungkap Moses.
Menanam di Asmat membutuhkan upaya yang luar biasa. Tantangannya, tanah berlumpur dan air pasang naik turun menyulitkan penanaman.
Sekarang berkat perhatian berbagai pihak begitupun pemerintah, mendorong masyarakat membuat pekarangan pangan lestari . Di Asmat disebut kebun gizi apung. Ada juga lahan-lahan tertentu yang memiliki daratan “agak” tinggi yang bisa digunakan untuk penanaman padi, palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang panjang pun umbi-umbian.
“Semua dibantu pemerintah, pupuk juga diberikan, jenisnya pupuk phonska plus. Sekarang hasilnya lumayan, hasilnya cukup baik,” lanjut dia.
Fransisko warga kampung Yepem distrik Agats juga tak mau tinggal diam jika mengingat kasus gizi buruk Asmat. Sisko sapaannya turut menekuni ladang padi seluas 2 hektar yang garapannya dibantu pemerintah daerah dengan segala distribusi bantuan.
“Kalau ingat dulu (kasus gizi buruk) sedih. Sekarang tanam padi dibantu sama pemerintah semua, dengan pupuk phonska juga. Disini kan cuma ada satu kali tanam saja, karena pasang surut air. Hasil panen hanya bisa 500 sampai 600 kilo,” tutur Sisko.
Hasil ladang padi itu digunakan Sisko sebagian untuk beras di rumah dan tak jarang untuk dijual.
“Hasilnya sedikit, sebagian bawa ke rumah untuk makan keluarga, sebagian jual. Itu cukup daripada tidak ada sama sekali dan terulang seperti dulu (gizi buruk), kita tidak harapkan to. Kita kerja juga dibantu sama bapak polisi dan tentara,” tandas Sisko.
Ketahanan pangan turut digalakkan dan dibantu oleh kepolisian resor Asmat.
Kapolres Asmat AKBP Wahyu Basuki, S.I.K., melalui Kasi Humas Polres Asmat, Ipda Agung Raka, S.H, menyebutkan kepolisian bersama pemerintah dan masyarakat terus berupaya menciptakan ketahanan pangan.
“Di setiap kampung ada beberapa lahan binaan kami. Disini tantangannya pasang surut air. Kami selalu bekerjasama dengan pemerintah untuk ketahanan pangan, pemerintah menyediakan bibit dan pupuk, Kami bina dan awasi bersama PPL,” ujar Ipda Agung.
Saat ini pemerintah daerah Asmat memiliki program cetak lahan seluas 110 hektar yang tersebar di 15 kampung. Pemerintah menyesuaikan lahan dengan kondisi wilayah mengingat masyarakat umumnya tinggal di rumah panggung.
“Disini kan rawa, jadi kami cari daratan yang “agak” tinggi lalu garap. Ada bantuan – bantuan yang kami berikan ke masyarakat, seperti benih padi kami gunakan varietas Inpari 32 dan ada juga benih palawija, bersama dengan pupuknya,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Kabupaten Asmat adalah Rudolf Noviarto di Agats.
Dalam satu tahun, padi ladang itu hanya dapat di panen satu kali dengan hasil 2 sampai 3 ton per hektar.
“Hasil panen hanya berkisar 2 sampai 3 ton per hektare. Kegiatan ini kami sosialisasikan sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan,” ungkapnya.
Pemerintah Asmat juga memiliki Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang difokuskan pada kampung yang memiliki angka Stunting. Dengan memanfaatkan pekarangan area sekitar rumah paling hanya 10 X 15 meter dengan komoditas palawija. “Kegiatan ini didampingi langsung oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL),” lanjut Rudolf.
Pemerintah Menganggarkan Dana untuk Pupuk Non Subsidi
Untuk pemupukan dalam rangka memaksimalkan hasil pertanian warga, pemerintah daerah sudah menganggarkan dana lewat Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Kabupaten Asmat untuk pembelian pupuk non subsidi.
Pupuk yang dibagikan ke masyarakat adalah jenis Phonska Plus 15-15-15 produk PT. Petrokimia Gresik anak usaha dari PT. Pupuk Indonesia.
“Pupuk kami gunakan non subsidi, Phonska Plus 15 banding 15 banding 15. (Iya) milik Pupuk Indonesia. Itu kami anggarkan, kadang juga kami mendapatkan bantuan pupuk dari pusat dan kami bagi-bagi ke masyarakat,” ujar Rudolf.
Rudolf menyebut, untuk distribusi pupuk non subsidi tersebut pemerintah daerah mendatangkan nya dari Surabaya dan tak jarang dari Makassar.
“Jadi semua ditanggung oleh APBD. Biasanya kami berhubungan dengan rekanan Surabaya atau Makassar, kami memesan spek yang kami inginkan, didistribusi lewat kapal nanti kan ada legalitas surat sehingga bisa turun ke Agats. Jadi pemerintah daerah menyediakan semua sarana produksi, masyarakat berkontribusi melalui tenaga, sehingga tetap tercipta pergerakan ekonomi disitu,” kata dia.
Sulit Menerapkan Pupuk Bersubsidi di Asmat
Menurut Rudolf, menerapkan pupuk bersubsidi di Asmat tidak efektif sebab dengan mekanisme berbayar.
“Kami pesimis jika pupuk subsidi diterapkan disini. Karena itu kan berbayar, harus membentuk kelompok tani. Sementara masyarakat sudah terbiasa bahwa seluruh kegiatan pertanian, baik itu alat, benih, pembukaan lahan, semua dibiayai pemerintah,” terangnya.
Perhitungan kebutuhan pupuk, tambah Rudolf, selalu disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia. “Selama ini, kami tidak pernah mengalami kekurangan pupuk, karena kan non subsidi
Seluruh perencanaan kegiatan dilakukan secara berjenjang, mulai dari Musrenbang Kampung, Distrik, hingga Kabupaten,”pungkas Rudolf.
Apapun Terjadi Indonesia Harus Ciptakan Ketahanan Pangan
Dikutip dari laman Setkab.go.id Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kedaulatan pangan sebagai syarat mutlak bagi kemerdekaan dan ketahanan bangsa. Presiden menyampaikan keyakinannya bahwa produksi pangan dalam negeri adalah fondasi utama bagi masa depan Indonesia.
“Sejak lama saya berkeyakinan bahwa apapun terjadi, bangsa kita akan aman kalau kita kuasai pangan kita. Kalau kita bisa amankan pangan kita, kita bisa jamin bahwa kita bisa beri makan kepada rakyat kita,” ujar Presiden Dalam pembukaan Sidang Kabinet Paripurna di Ruang Sidang Kabinet Paripurna, Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 6 Agustus 2025.
Presiden Prabowo menyampaikan rasa syukur atas capaian semua pihak saat ini dalam memperkuat sektor pangan nasional. Presiden mengapresiasi transisi pemerintahan yang mulus dari Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo, yang memungkinkan kesinambungan program secara efektif.
Presiden juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran yang bekerja sama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Kepala Negara menyoroti pentingnya kerja kolektif lintas sektor dalam menghadapi tantangan dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan sepihak.
“Ini juga hasil kerja sama, hasil teamwork. Menteri Pertanian dibantu oleh menteri-menteri lain, didorong oleh Menteri Keuangan, dibantu oleh TNI dan Polisi, juga kejaksaan,” imbuh Presiden. [ERS-NAL]
