Jauh di Timur, Ada Kelas ku Ruang Digital ku

0
Pembelajaran menggunakan layar cerdas di SD YPPK Kimaam dan SD Budi Mulia Merauke. (Guru tampak menggendong murid untuk menyentuh layar cerdas)

Pembelajaran menggunakan layar cerdas di SD YPPK Kimaam dan SD Budi Mulia Merauke. (Guru tampak menggendong murid untuk menyentuh layar cerdas)

Merauke, PSP – Layar cerdas sudah memberitahukan anak-anak di Kampung Kimaam bahwa layar itu bukan sebatas televisi. Tapi mereka bisa menjelajah ilmu pengetahuan dibimbing ibu guru lewat layar cerdas.

Pagi itu di SD YPPK Kimaam  Kampung Kimaam, Distrik Kimaam – Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, murid-murid melangkahkan kaki memasuki kelas. Berbekal tas di pundak berisikan alat tulis.

Kampung Kimaam, merupakan salah satu kampung dari 179 kampung di Kabupaten Merauke. Ia berada di pulau terluar, makanya orang Merauke menyebutnya Pulau Kimaam.

Untuk bisa sampai di Kimaam, boleh menggunakan kapal dengan waktu tempuh 18 jam. Boleh juga menggunakan pesawat kecil 45 menit, atau melalui jalur darat hingga berhari-hari melewati jalanan rusak. Ah, sudahlah kita bukan hendak membahas itu. Sebab, kalau mau menghantarkan kebaikan bagi negeri dan bangsa, keadaan itu kita kesampingkan sejenak.

Di SD Kimaam, terdapat 6 rombel (rombongan belajar) setiap rombel diisi 60 orang murid, ada juga 2 rombel darurat  yang ditempati murid kelas 1 dengan total keseluruhan 365 murid. Sekolah ini semuanya diisi anak – anak bangsa Indonesia.

Di dalam ruang kelas empat sekolah itu, murid-murid sudah disambut monitor berukuran 1,5×1 meter terpampang berdiri tegak di depan kelas. Mereka riang berlarian ke kursi kelas. Ada murid melirik ke monitor yang belum dinyalakan itu, ada pula yang berdiri mendekat memperhatikan detil tiap sudut monitor.

“Halo selamat pagi,” terdengar suara ibu guru Anna sang wali kelas berucap memasuki pintu kelas.

“Pagi Bu guru,” sahut para murid, seraya berlarian ke kursi masing-masing.

Bu guru Anna menyalakan monitor dan tak lupa meminta salah seorang murid membawakan doa lebih dulu.

“Hari ini kita belajar di televisi cerdas ya,” lanjut bu guru Anna usai berdoa. “Iya bu guru,” sambung para murid.

Memulai pengajarannya, bu guru Anna mencari lagu pembuka penyemangat di monitor.

Berbunyi, “murid kelas empat apa kabarnya” ucap Bu guru Anna melagukan mengikuti irama musik. “Baik” sahut para murid. “Sudah siap untuk belajar sekarang” lanjut Bu guru. “Sudah”jawab para murid. Setelahnya, bu guru Anna mengabsen para murid menyebut satu-persatu nama dan menceklis nya di monitor.

Di monitor itu, sang guru membuka platform bernama Jelajah Ilmu. Diperhatikan seksama oleh para murid. Di dalam nya terdapat kuis bergambar. “Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini,” tanya Bu guru Anna. “Lambang dari sila pertama adalah” tanya Bu guru Anna lagi.

Spontan para murid bereaksi mengangkat tangan dan hendak berlari menuju monitor yang memunculkan kuis bergambar lambang-lambang Pancasila. Di monitor itu terdapat 3 pilihan yakni Bintang, Rantai, dan Padi/Kapas.

“Tunggu, harus antri, ibu guru pilih siapa yang menjawab,” timpal bu guru Anna. “Coba Yosep,” kata bu guru menyebut salah seorang murid. Yosep berlari dari kursinya dan mengklik gambar Bintang. Seisi ruangan dipenuhi tepuk tangan. “Lagi bu guru lagi,” kata para murid. Sembari mencari materi kuis lainnya, bu guru Anna berucap “Kalau anak-anak pakai televisi internet begini, harus cari kuis-kuis begini ya, karena televisi ini cerdas, kamu juga harus cerdas ya,’’ kata bu Anna. “Iya bu guruu’’ jawab mereka.

“Tidak boleh cari yang lain-lain nanti polisi tangkap kamu, mengerti,” tegas Bu Anna. “Mengerti bu guru,” jawab mereka.

Monitor itu adalah Layar Cerdas yang boleh terkoneksi langsung ke jaringan internet. Sejak bulan Agustus 2025 lalu SD YPPK Kimaam sudah belajar menggunakan perangkat layar cerdas dalam proses belajar mengajar. Layar Cerdas itu merupakan bantuan CSR (Corporate Sosial Responsibility) Acer Indonesia, sebagai upaya mendekatkan dan mendorong teknologi pembelajaran kepada guru dan siswa di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Inilah salah satu upaya menggendong murid-murid di pelosok mengenal apa itu tehnologi serta cara penggunaannya. Dan ini juga adalah bentuk keadilan. Sekarang, anak-anak di sekolah itu meski jauh di timur Indonesia, berjarak 185 kilometer dari kota Merauke dapat melihat, mendengar dan menyentuh dunia dari layar cerdas dibimbing oleh guru sekolah.

“Minggu ketiga bulan Agustus 2025 lalu perangkat ini diantarkan ke sekolah kami. Dulunya, proses belajar mengajar hanya guru yang berbicara di depan kelas menggunakan papan tulis banyak murid yang bosan dan ribut di kelas. Tapi setelah ada layar cerdas ini anak-anak lebih responsif,” ujar Bu guru Anna.

Meski hanya satu perangkat, dan dibantu dengan starlink yang dibeli untuk kebutuhan sekolah, anak-anak di setiap ruangan terkhusus kelas 4, 5 dan 6 secara bergantian menggunakan perangkat layar cerdas. Dalam hal materi, pada malam hari para guru sudah mempersiapkan hal-hal materi apa yang akan diberikan, sehingga pada saat proses belajar mengajar tujuan dan materi pembelajaran sudah terpampang di layar cerdas.

“Di awal saat baru penggunaan perangkat layar cerdas kemarin, kami beri pengenalan dulu tentang layar cerdas karena murid kaget dikira itu sebatas televisi. Kami pun sudah konsep, seperti video misalnya kami sudah siapkan nanti tinggal cari di platform Jelajah Ilmu, bisa juga di YouTube pada saat pembelajaran. Jadi mereka sangat antusias, tingkat kehadiran pun meningkat. Anak-anak di sekolah ini tidak ada yang memiliki handphone. Orang tua saja masih ada yang belum memiliki handphone. Kami juga memberikan ruang dan kesempatan kepada murid untuk menyentuh layar cerdas, misalnya menjawab pertanyaan dengan langsung menulis di layar, mencari video berbau edukasi kami arahkan. Karena ditempat kami juga ada murid yang belum bisa membaca, menulis dan menghitung. Jadi kami mengijinkan mereka menyentuh, supaya ini juga memancing dan memotivasi mereka agar lebih aktif,” ungkap Anna.

Kehadiran layar cerdas disana, membuka jendela pengetahuan dan pehamanan bagi para murid, bahwa televisi sekarang bisa menelusuri ilmu. Meski meja – meja kelas di SD YPPK Kimaam agak sedikit terlihat lusuh, namun suasana di ruangan – ruangan kelas sekolah itu mendadak lebih hidup berkat kehadiran layar cerdas, menjadi menyenangkan dan mendidik.

“Kami sebagai guru menyambut baik pembelajaran digital, lebih cepat mencari materi di internet semisal ada hal kebutuhan materi di luar materi yang sudah kami siapkan. Dengan adanya layar cerdas ini, kami yang mengarahkan dan membimbing mereka masuk ke digitalisasi dengan fitur ilmu yang ada di dalam, misalnya mencari materi pembelajaran, kadang kami gendong  karena layar cerdas ini tinggi kan.

Kalau kendala tetap masih ada, karena ini hal baru untuk mereka, dan kami sebagai guru dengan pengetahuan digitalisasi yang kami punya kami ajarkan ke mereka. Mereka senang, mereka fokus, kami rasa ini sebuah langkah maju, menggunakan layar cerdas,” tutur bu guru Anna.

Selain itu, kehadiran Layar Cerdas di sekolah yang berada di kota yakni SD Budi Mulia Merauke mendorong sekolah membuat himbauan dan aturan tidak boleh murid membawa handphone ke sekolah.

Kepala SD Budi Mulia Merauke Yulianti Sipayung membenarkan sejumlah murid di sekolah nya memiliki handphone. Ada juga yang tidak memiliki sama sekali. Namun, handphone boleh dibawa ke sekolah ketika ada permintaan dari pihak sekolah. Itupun para guru berkoordinasi lebih dulu dengan orangtua. Ini mengingat sudah terciptanya akun ID belajar anak disitu.

“Jika ada keperluan penting (membawa handphone), kami koordinasi dengan orangtua, sebab kami tidak memperbolehkan anak membawa handphone ke sekolah. Ketika kami meminta baru lah dibawa, itupun sebelum memasuki kelas handphone terlebih dahulu dikumpulkan di meja wali kelas. Biasanya, kami meminta membawa handphone bagi yang memiliki, untuk mengecek akun ID belajar itu. karena ada juga banyak murid yang tidak punya ponsel. Selanjutnya, kami berkoordinasi dengan para orangtua, supaya di rumah sedapat mungkin dipantau. Ini untuk menghindari penggunaan ponsel berlebihan terutama untuk hal yang bersifat negatif. Sebab di sekolah sudah ada layar cerdas, jaringan internet juga mendukung disini,” kata Kepsek Yulianti.

Pembelajaran menggunakan layar cerdas di SD Budi Mulia berhasil membuat para anak lebih bereaksi. “Respon mereka meningkat. Semisal guru memberikan kuis di layar cerdas, beberapa anak mengangkat tangan, guru menunjuk murid untuk menjawab dengan menyentuh layar, nah ketika kuis berikut anak yang tadinya tidak mengangkat tangan, sudah mulai mengangkat tangan untuk segera ke depan menyentuh layar cerdas,’’ terang Yulianti.

Saat ini, guru-guru di SD Budi Mulia tengah belajar untuk lebih bersahabat dengan layar cerdas. Memahami semua fitur di dalam nya, sebab ada akun ID belajar murid yang mesti dijaga.

Layar Cerdas Menggunakan Platform Jelajah Ilmu dengan Metode Pembelajaran Kontekstual

Pemerhati Pendidikan di Merauke Pascalis Tethool merupakan salah satu insan yang memperjuangkan hadirnya layar cerdas di beberapa sekolah Merauke termasuk satu sekolah di wilayah terjauh Kimaam. Ia punya mimpi mengentaskan permasalahan pendidikan.

Seolah semesta mendukungnya, ia dipercaya menjadi brand ambasador perusahaan tehnologi itu.

Awalnya, berangkat dari persoalan pendidikan yang begitu kompleks di wilayah terjauh, seperti terbatas sampai ketidakhadiran guru di tempat tugas, selanjutnya anak-anak dalam hal belajar di sekolah kebanyakan bolos dan lari dari sekolah.

Menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke setidaknya ada 130 guru yang mendapat sanksi penghentian gaji sementara di tahun 2025 ini, mereka terbukti tidak melaksanakan tugas mengajar. Guru yang dikenai sanksi rata-rata tidak melaksanakan tugas selama lebih dari satu bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

“Rata-rata (guru) di sekolah pedalaman dan beberapa sekolah di pinggiran kota kami beri sanksi yang sama,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merauke Romanus Kahol.

Sedangkan, dalam rapat koordinasi  pemberantasan korupsi terintegrasi Papua Selatan beberapa waktu lalu, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menyebut puluhan ribu anak dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK di Papua Selatan tidak bersekolah.

Data jumlah ini merupakan akumulasi 4 kabupaten yang dibeberkan Satuan Tugas Koordinasi dan Supervisi KPK RI Wilayah V dihadapan pemerintah Provinsi Papua Selatan maupun pemerintah kabupaten yang turut dihadiri para bupati.

Kasatgas Dian Patria menjelaskan, di wilayah Merauke sendiri yang masuk kategori SD yang harusnya mengenyam pendidikan namun tidak disentuh pendidikan ada mencapai 11.545 anak, Mappi 13.758, Boven Digoel 2.592 dan Asmat 10.618.

Sementara kategori anak yang seharusnya mengenyam pendidikan SMP di Merauke 14.384 anak, Mappi 9.609, Boven Digoel 3.280, sedang di Asmat 7.043. Jenjang SMA/ SMK di Merauke 10.232 anak, Mappi 3.416, Boven Digoel 2.418 sedangkan di Asmat 4.273 anak.

Hal ini diungkapkan Dian Patria supaya menjadi perhatian seluruh pihak begitupun pemerintah agar sebaik – baiknya dana yang ada dipergunakan dengan semestinya.

Dian Patria berpesan, para pihak dan pemerintah jangan sebegitu teganya melihat anak – anak yang seharusnya mengenyam pendidikan dimasa pertumbuhan mereka namun tidak mendapatkannya.

“Banyak yang tidak sekolah mencapai 93.000 anak, kenapa kita tega banyak tidak sekolah. Data ini kami peroleh dari Akademisi Universitas Papua Agus Sumule hasil survei yang diterbitkan pada tahun 2020 dan juga berdasarkan data BPS,” ucap Dian Patria.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan Aloysius Jopeng membenarkan hal itu.

“Kami punya data itu (data anak tidak sekolah mencapai 93.000). Anak yang putus sekolah juga tinggi, di Merauke saja anak putus sekolah 32 ribu di jenjang SD, jenjang SMP diangka 12 ribu. Kalau angka ini dibandingkan, ini sangat jauh sekali, kami menyebutnya angka transisi,” kata Jopeng tahun 2024 lalu.

Dalam diskusi Pascalis tahun 2024 dengan Acer, disepakati bahwa dana CSR Acer Indonesia diberikan ke Merauke dalam bentuk 6 unit layar cerdas dan 150 chromebook dan 200 akun belajar Jelajah Ilmu.

Sekolah itu, SMP Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Yohanes 23 Merauke, SMA YPPK Yohanes 23 Merauke, SD YPPK Don Bosco Budi Mulia Merauke, Sekolah Dasar (SD) YPPK Kimaam, SMP Negeri Buti Merauke, dan SMP Al-Ma’arif  NU Merauke.

“Apabila menggunakan infokus atau proyektor cuma satu arah dan ini hanya lah layar kecil yaitu laptop, nah kemudian bagaimana supaya ini bisa dua arah dan kemudian muncul lah layar cerdas ini. Lewat bantuan CSR Acer ke Merauke dan kami menunjuk 6 sekolah untuk menerimanya ,” ujar Pascalis.

Inovasi pembelajaran khusus diciptakan ketika layar cerdas sudah ada di sekolah terjauh Kimaam. Yaitu menciptakan kurikulum gotong royong yang sedikit berbeda dengan kurikulum nasional, tetapi tetap dalam kontekstualisasi kurikulum nasional yang direalisasikan menurut budaya setempat. Salah satu adanya terciptanya pembelajaran jarak jauh. Sebab dari raport pendidikan di Merauke, sejak dulu sampai sekarang permasalahan Calistung dan ketidakhadiran guru masih menjadi masalah.

“Nah, sekarang dengan layar cerdas yang bisa dua arah, guru di kota bisa mengajar ke sekolah terjauh jika tidak ada guru. Dan kami sudah uji ini. Tentunya ketiadaan guru ini menjadi PR bagi pemerintah ya. Dengan pembelajaran jarak jauh dari Merauke – Kimaam, kami melihat dan bisa pastikan dalam waktu 6 bulan yang penting ada layar cerdas dan modulnya kontekstual yang kami rancang, maka terjadi lompatan, murid-murid bisa Calistung lewat digital dan kehadiran murid ramai di sekolah,” kata mantan kepala SMP Buti Merauke ini.

Platform pembelajaran Jelajah Ilmu memiliki tujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas belajar mengajar melalui perubahan praktik dan metode pendidikan dari metode konvensional menjadi metode pembelajaran digital, yang dilengkapi fitur-fitur canggih dan relevan dengan kebutuhan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan terkini.

Di dalam platform Jelajah Ilmu, mencakup materi belajar untuk siswa, latihan-latihan soal, soal ujian, pembahasan soal ujian, serta laporan aktifitas siswa di sekolah. Seluruh materi tersebut bisa diakses dengan menggunakan berbagai aplikasi, seperti Whatssapp, Telegram, Email, e-Book, Zoom meeting.

SMP Buti Merauke, salah satu sekolah yang mendapat sentuhan layar cerdas dan platform Jelajah Ilmu mampu menaikkan nilai raport murid dan meningkatkan kehadiran murid di sekolah. Sebelum adanya layar cerdas, nilai raport rata-rata murid di SMP Buti berada diangka 6 dan 7, namun setelahnya naik keangka 8,5.

“Ini mampu membuat raport anak-anak di sekolah SMP Buti yang pernah kami pimpin tidak ada lagi bernilai merah, tingkat kehadiran, kelas tambah ramai. Jadi ini  tidak hanya untuk mengejar ketertinggalan, tetapi melakukan lompatan inovasi hingga anak-anak mendapat multifungsi, ilmu nya dapat, seperti apa itu digitalisasi mereka tau,” ungkap Pascalis.

Jelajah Ilmu juga platform edukasi digital terpadu yang meliputi platform pembelajaran secara online dan offline. Konten pendidikan seperti buku digital dari penerbit ternama, laboratorium virtual, materi presentasi pengajaran harian, dan termasuk bank soal.

Melalui layar cerdas ini, guru dapat meningkatkan keterampilan digital, memahami cara memanfaatkan perangkat teknologi secara optimal, serta mengadopsi pendekatan pembelajaran inovatif yang relevan dengan kebutuhan zaman yang kemudian menyalurkannya ke murid.

Sementara itu, siswa maupun murid dapat mengakses materi pembelajaran digital yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan kurikulum dengan tetap dibimbing pendidik. Siapapun yang memiliki kepedulian untuk berbagi ilmu, juga dapat berpartisipasi dalam hal ini untuk menjadi pengajar atau kontributor materi.

“Jadi kalau tidak ada guru, kita bisa latih orangtua maupun pegawai distrik, kampung yang ada, untuk bagaimana menyalakan dan membuka materi di monitor. Kami siap untuk ini, (memberikan pelatihan) menyiapkan fasilitator,” tegas Pascalis.

Persoalan yang ada itu terus mendorong Pascalis memperjuangkan kehadiran layar cerdas di sekolah- sekolah terutama di wilayah terjauh. Kondisi itu pula yang menjadi alasan Paskalis menggaet sejumlah pihak yang seyogyanya bertanggung jawab menggendong anak-anak mengenyam pendidikan layak dan sepantasnya dalam era digitalisasi. Diantaranya akademisi Universitas Musamus, lembaga Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan, pemerintah Provinsi Papua Selatan, sektor swasta dan insan-insan peduli pendidikan anak.

“Daripada kita mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin,” begitu prinsip Pascalis.

Terbentuknya Sebuah Yayasan

Sebuah yayasan dengan nama Yayasan “Rumah Cerdas Papua” mulai terbentuk pada tanggal 27 Agustus 2025.

Dalam pembentukannya dihadiri pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Merauke untuk mengembangkan pemanfaatan akun platform pembelajaran digital Jelajah Ilmu melalui Layar Cerdas.

Ada Akademisi dari Universitas Musamus yang diwakili oleh Wakil Rektor III Yosehi Mikiew, perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui Staf Khusus Gubernur Papua Selatan Boy Imam Santoso, serta Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Selatan Antoneta Mokom Metemko, ada juga Senator DPD RI Rudy Tirtayana serta Frans Leonard sebagai pihak swasta.

Ini, sebagai bentuk komitmen pengembangan pembelajaran digital menggunakan platform Jelajah Ilmu dan kurikulum gotong royong pembelajaran jarak jauh kalau guru tidak ada di kelas.

Domisili yayasan ini sudah dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten Merauke tertanggal 30 September 2025. Estafet dengan itu, pengurus yayasan juga tengah berjuang terus berkoordinasi ke para pihak untuk memperkuat kolaborasi baik institusi pendidikan, pemerintah, dan sektor swasta dalam mendukung transformasi pembelajaran ke digital di sektor pendidikan, khususnya di Provinsi Papua Selatan.

Berbuah hasil, pada 03 Oktober 2025 Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo memberikan disposisi kepada yayasan untuk selanjutnya berkoordinasi dengan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan.

“Yayasan ini lebih fokus kepada pembelajaran digitalisasi menggunakan layar cerdas, makanya kami berkomunikasi dengan pemerintah dan menggandeng beberapa pihak, supaya meletakkan layar cerdas di wilayah 3 T yang kadang-kadang guru tidak ada disana. Supaya dilengkapi juga dengan starlink, solar sel dan sebagainya. Jadi ini butuh kolaborasi semua pihak. Ada ruang bagi murid, ketika guru menulis di layar cerdas mereka jawab di arah berbeda. Dan ada metode yang kami buat,yaitu dengar, ucap, baca dan tulis. Ini ramah anak, kami siapkan semua lagu, kemudian kiusis – kuisis. Jadi keberanian anak untuk interaktif itu sudah dipupuk sejak awal,” terang Pascalis.

Menyangkut jaringan internet, tahun 2021 lalu Kementerian Kominfo membangunan jaringan BTS (Base Transceiver Station) dan 4G di wilayah Merauke jumlahnya ada di 75 titik termasuk distrik Kimaam.

“Jaringan internet di Kimaam sudah tersedia, 4G juga sudah ada.Itu semua bantuan Kominfo sejak tahun 2021 jadi masih digunakan sampai sekarang. Untuk kekukatan Mbps nya lumayan kuat, satu unit BTS bisa digunakan 30 sampai 50 orang. Pembangunan BTS di kampung – kampung terjauh lainnya juga tengah dilakukan, karena BTS ini pembangunannya bertahap,’’ ujar Kepala Diskominfo Kabupaten Merauke Thomas Kimko.

Menghadirkan Layar Cerdas di Sekolah adalah Solusi

Menghadirkan layar cerdas di sekolah – sekolah dengan akun platform Jelajah Ilmu dan metode pembelajaran kontekstual diyakini mampu memutus mata rantai ketidakhadiran murid maupun siswa di sekolah. Terlebih di sekolah-sekolah 3 T. Sebab, mereka juga adalah tunas bangsa yang belum terpapar media sosial, dan konten negatif lainnya. Dalam tas di pundak mereka hanya berisi alat tulis, sekali lagi cuma alat tulis bukan handphone.

Layar cerdas, menumbuhkan minat hingga reaksi mereka terhadap ilmu pengetahuan. Pendidik dalam hal ini guru di sekolah menjadi ujung tombak dalam ruang kelas, menyalurkan hingga mendoktrin penggunaan tehnologi dengan semestinya kepada murid sejak dini.

“Ini solusi (layar cerdas). Platform jelajah ilmu sebenarnya platform yang sangat lengkap dan aman, karena dipakai di 20 negara sebab semua fungsi proses belajar mengajar ada di dalam,” kata Pascalis.

Sebagai upaya proteksi, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas), yang bertujuan melindungi anak-anak dari bahaya di ruang digital seperti media sosial dan game daring. Peraturan ini mengatur berbagai hal, termasuk pembatasan usia, perlindungan data pribadi anak, klasifikasi risiko platform digital, kewajiban platform untuk menyediakan fitur aman dan ramah anak, serta sanksi bagi pelanggaran yang dilakukan.

Mulai hukuman non pidana yang dikenakan kepada PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) yang melanggar ketentuan. Seperti peringatan, denda, pembatasan akses, atau pemutusan layanan.

Regulasi yang ditetapkan pada 28 Maret 2025 dan mulai berlaku pada 1 April 2025 ini menjadi dasar hukum kuat bagi negara untuk menghadirkan ruang digital yang aman, sehat, dan berkeadilan.

Dilansir dari laman komdigi.go.id Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menegaskan PP TUNAS adalah respons strategis pemerintah secara sistematis untuk mengatasi persoalan pesatnya arus informasi, yang menjadi ancaman terhadap kelompok rentan terutama anak-anak.

Paparan konten berbahaya, manipulatif, hingga eksploitasi digital telah menjadi keresahan bersama.

“Kami di Komdigi tidak hanya melihat dampaknya (ruang digital) terhadap anak-anak, tetapi kepada keseluruhan. Bagaimana ruang digital ini berdampak kepada seluruh warga negara yang menggunakan,” ujar Meutya Hafid dalam Podcast Merdekast di Jakarta Selatan, Jumat (2/5/2025).

PP TUNAS secara khusus mewajibkan setiap Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk menyaring konten yang berpotensi membahayakan anak-anak, menyediakan mekanisme pelaporan yang mudah diakses, serta memastikan proses remediasi yang cepat dan transparan. Selain itu, PP ini mengatur kewajiban PSE untuk memverifikasi usia pengguna dan menerapkan pengamanan teknis yang dapat memitigasi risiko paparan konten negatif. Bagi pelanggar, PP TUNAS menetapkan sanksi administratif hingga pemutusan akses terhadap platform yang tidak patuh.

“Kita melihat ada aplikasi-aplikasi yang memang nakal. Ini bukan semata hasil algoritma yang menyesuaikan minat pengguna, tapi ada kecenderungan konten-konten ini memang sengaja diarahkan ke kelompok rentan termasuk anak-anak,” tegas Meutya.

Data terbaru menunjukkan bahwa 48 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun, menjadikan regulasi ini sangat mendesak. Meutya menekankan bahwa PP TUNAS tidak hanya melindungi anak-anak, tetapi menciptakan ruang digital yang aman untuk semua pengguna.

“Ketika keamanan ekosistem digital diperkuat, yang diuntungkan bukan hanya anak-anak tapi juga semua orang yang berada di ranah digital. Kita ingin semua pihak nyaman, karena aturannya jelas seperti aturan main di pasar,” jelas Meutya.

Meutya juga menyoroti bahwa PP TUNAS lahir untuk memperkuat kolaborasi pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan digital. Pemerintah membuka ruang dialog untuk penyempurnaan regulasi dan mendorong komitmen kolektif dari seluruh platform digital.

“Platform digital harus siap menerima kritik. Banyak dari mereka yang niatnya baik dan kita hargai itu. Tapi negara tetap harus hadir mengatur ketika ada yang menyalahgunakan ruang digital,” tandasnya.

Dengan dasar hukum yang jelas dan mekanisme pengawasan yang diperkuat, PP TUNAS diharapkan menjadi pondasi bagi ekosistem digital Indonesia yang lebih aman, beretika, dan berpihak kepada kepentingan nasional. [JUNEDI ERON HAMONANGAN SIMBOLON]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *