24 Juni 2024

Patahkan Stigma Papua Tempat Terpencil “PLN Berikan Cahaya di PLBN Pintu Gerbang Perbatasan RI – PNG”

0

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) RI - PNG di Yetetkun kabupaten Boven Digoel tampak dari jauh.

Warga Perbatasan : Dulu takut lewat perbatasan, sekarang tidak lagi

Merauke, PSP – Bagi sebagian masyarakat Indonesia di bagian barat, wilayah Papua masih dianggap sebagai wilayah pedalaman yang masih bersuasana hutan. Tidak ada nya jalan aspal, lampu merah, listrik, gedung seperti pusat perbelanjaan dan sebagainya.

Bahkan masih ada anggapan, bagi mereka yang belum menginjakkan kaki di Papua bahwa orang – orang asli Papua masih jauh dari teknologi, tidak menggunakan motor, mobil, maupun alat telekomunikasi.

Namun tidak demikian. Daerah pemekaran Provinsi Papua yaitu Provinsi Papua Selatan dengan undang – undang 14 Tahun 2022 mencakup 4 kabupaten baik Asmat, Mappi, Boven Digoel dan Merauke.

Dua kabupaten diantaranya memiliki wilayah perbatasan antara Republik Indonesia dan Papua Nugini. Di perbatasan itu, negara hadir dengan mendirikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) bersamaan dengan pengadaan seluruh fasilitasnya, seperti listrik. Kabupaten itu adalah Boven Digoel dan Merauke.

Di kabupaten Boven Digoel pemerintah menamai PLBN Yetetkun karena bertepatan berada di kampung Yetetkun Distrik Ninati. Sementara, di kabupaten Merauke pemerintah menamai PLBN Sota karena perbatasan bertepatan berada di kampung Sota Distrik Sota.

PLBN dua kabupaten tersebut berdiri kokoh nan megah dibangun, keindahan semakin terlihat kokoh dengan adanya lampu temaram dialiri listrik menerangi wilayah perbatasan RI – PNG itu.

Pasokan listrik ke wilayah perbatasan tidak lepas dari gerak cepat PLN yang langsung menyusul menyalurkan energi listrik setelah PLBN selesai dibangun.

Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIW Papua dan Papua Barat Djalaludin mengatakan, PLN UIW Papua dan Papua Barat telah melistriki 3 (tiga) lokasi PLBN di Papua yaitu, PLBN Sota, Yetetkun dan Skouw.

Hal ini dilakukan menyadari PLN UIW Papua merupakan ujung tombak pelayanan kelistrikan di wilayah timur Republik Indonesia.

PLBN Sota di Merauke dan PLBN Yetetkun di Boven Digoel masuk wilayah penanganan PLN UP3 Merauke.

“Sedangkan PLBN Skouw masuk wilayah penanganan PLN UP3 Jayapura, ketiga PLBN itu seluruhnya sudah teraliri listrik,” ujar Djalaludin melalui sambungan selulernya, Sabtu (30/12).

Diungkapkan Djalal, daya yang terpasang di PLBN Yetetkun sebesar 147 kVA, sementara wilayah PLBN Sota PLN memasang daya sebesar 147 kVA dan 41,5 kVA.

Untuk PLBN Skouw, lanjut Djalal, dengan fasilitas dan kapasitas yang lebih besar dengan ramainya penduduk yang melintasi perbatasan untuk melakukan perdagangan, dipasok daya lebih besar dari dua PLBN di Papua Selatan.

“Tercatat ada 8 pelanggan PLN pada lokasi PLBN Skouw. Bangunan Utama PLBN Skouw terpasang daya 1,1 MVA merupakan pelanggan tegangan menengah dengan suplai tegangan 20 kV. Selain itu PLN juga mensuplai pasar Skouw dengan suplai daya 555 kVA dan 345 kVA,” sebutnya.

Untuk terus menerangi wilayah perbatasan, PLN berkomitmen memberikan perhatian khusus ke wilayah PLBN yang adalah beranda terdepan Indonesia. Hal ini sejalan dengan program PLN memberikan cahaya hingga pelosok Negri dengan program Papua Terang.

“Kesinambungan penyaluran energi listrik di PLBN menjadi perhatian khusus dari PLN, masing-masing Unit Layanan Pelanggan yang melayani langsung di lapangan telah menjalin komunikasi antar manajemen maupun petugas tekniknya sehingga bilamana terjadi kendala dapat segera ditindak lanjuti,” kata Djalal.

Kepala PLBN Sota Ni Luh Puspa Jayaningsih mengatakan, sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi pada bulan Oktober 2021 lalu aliran listrik ke kawasan perbatasan disuplai langsung oleh PLN.

“Di area Sota memang kadang kala lampu padam, tapi di PLBN sudah pula ada cadangan genset, jadi untuk kelistrikan aman untuk melakukan pelayanan lintas batas,” singkat Puspa di Sota, Rabu (27/12).

Disebutkan Puspa, sejauh ini belum ada kabel listrik ke arah wilayah PNG tempat permulaan para pedagang Papua berjualan sebelum PLBN dan segala bentuk fasilitasnya diisi.

“Kabel listrik ke arah PNG sementara belum ada, kalau di Skouw sempat sudah MoU terkait listrik cuma sampai sekarang ada  sebagian anggota parlemen PNG yg tidak setuju jadi akhirnya tertunda lagi. Dan untuk Sota belum ada perjanjian dengan pihak sebelah dalam hal ini Western Province,” terang Puspa.

Hal senada disampaikan Kepala PLBN Yetetkun Isak Jeverson saat dijumpai di PLBN Yetetkun, Minggu (10/12).

Bahwa sejak dinyatakan pembangunan PLBN selesai pada akhir tahun 2022 lalu, yang tinggal menunggu peresmian oleh Presiden, PLN langsung menyusul mengalirkan listrik ke wilayah PLBN yang menyusul bermanfaat ke kampung se-Distrik Ninati yang mencakup 5 kampung, yaitu Ninati, Kawaktembut, Tembutka, Timka, dan Yetetkun.

“Setelah pembangunan dinyatakan selesai, dari situ kelistrikan sudah aman. Dan kini masyarakat di 5 kampung dalam distrik Ninati juga mendapatkan manfaat, dulunya listrik belum 24 jam, tapi sekarang penerangan sudah 24 jam,” ungkap Isak.

Isak berharap, kestabilan kelistrikan terus dapat ditingkatkan mengingat adanya fasilitas mesin X – Ray di PLBN yang mengandalkan kestabilan energi listrik guna memeriksa barang bawaan para pelintas batas.

“Daya ke PLBN sudah memadai, hanya saja beberapa saat lalu itu daya listriknya sempat tidak stabil. Seperti mesin X – Ray, itu kelistrikan harus stabil,” ujarnya.

PLN awalnya melakukan pembangunan jaringan listrik tegangan menengah (JTM) sepanjang 20,34 kms, penambahan 1 gardu serta pembangunan jaringan listrik tegangan rendah (JTR) guna menyalurkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Waropko.

Hal ini sebagaiman disampaikan Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Merauke, Abrar pada Maret 2022 lalu.

Masyarakat Mengenang Saat Perbatasan Masih Gelap Gulita

Wilayah perbatasan baik Yetetkun maupun Sota berbanding terbalik, jauh sebelum PLBN didirikan.

Dimana, kala PLBN belum hadir dan listrik belum teralirkan, wilayah perbatasan hanya lah bersuasana hutan nan gelap gulita.

Namun, stigma wilayah Papua adalah tempat terpencil seolah terpatahkan dengan hadirnya penerangan cahaya listrik di perbatasan.

Tampak pula, jika beranjak dari Tanah Merah ibukota kabupaten Boven Digoel menuju PLBN Yetetkun yang berjarak 250 kilometer dengan 3 jam perjalanan menggunakan mobil, tiang – tiang listrik terpancang kokoh hingga ke PLBN Yetetkun.

Kepala Kampung Yetetkun Jeremias Jekrim mengungkapkan, sebelum adanya PLBN yang kini sudah dialiri listrik, masyarakat merasa ketakutan berjalan ke arah perbatasan.

“Dulu masyarakat takut kalau sudah sore mau jalan kemari (area PLBN) kan gelap. Sekarang apa mau ditakutkan lagi, sudah terang, dari kampung Yetetkun ke PLBN jaraknya 4 kilometer, dan kebiasaan kita disini berjalan kaki, itu tidak masalah karena sudah terang, walau hanya untuk duduk disini (PLBN) sambil bermain handphone,” ujar Jeremias di PLBN Yetetkun.

Kehadiran PLBN yang sudah teraliri listrik itu, Jeremias akui memiliki banyak manfaat. Pengelola PLBN Yetetkun membuka pasar di kawasan pada hari Rabu dan Minggu. Jadwal itu dipergunakan masyarakat dari Indonesia maupun PNG untuk saling membeli dan menjual hasil bumi dari masing – masing negara.

“Mencharger handphone sudah bisa, internet pun “lumayan” lancar, jadi kita sudah tau informasi dari luar seperti buka media sosial melalui handphone, sekarang puji Tuhan, manfaat banyak, di area PLBN, pasar kan ada, hari Rabu dan Minggu itu sampai malam masyarakat bisa berjualan, kalau dulu, gelap pak, cas handphone saja harus gantian,” lugas pria berperawakan pendek itu.

Di PLBN Sota, masyarakat pedagang yang berjualan di kawasan penunjang PLBN mengaku berterimakasih sudah diberikan tempat yang layak dengan fasilitas penerangan.

Margaret Naip merupakan salah satu pedagang di wilayah penunjang PLBN Sota. Tampak, di wilayah penunjang menuju pagar PLBN itu sudah disediakan kios – kios tempat beberapa orang asli Papua berjualan seperti jualan sembako dan cendramata.

“Kami dipindahkan dari wilayah penyangga diluar PLBN ke wilayah penunjang. Dulunya kami di belakang arah patok situ, lampu pun dulu kan tidak ada disitu, dipindahkan kesini, sudah ada listrik. Kios ini juga tidak bayar sewa, ya terima kasih,” kata Margaretha di PLBN Sota, Sabtu (9/12).

Cahaya di perbatasan antara RI – PNG melalui PLBN itu, satu bentuk dari upaya PLN untuk menerangi seluruh pelosok Negara Kesatuan Republik Indonesia. [Eron Simbolon]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *