24 Juni 2024

Tahun ini Dinsos Alokasikan Dana untuk Bina 40 Anak Aibon

0

Kepala dinas Sosial kabupaten Merauke, Gentur E. Pranowo.

Merauke, PSP – Dinas Sosial kabupaten Merauke terus berupaya untuk menangani persoalan sosial yang terjadi di Merauke salah satunya terkait penanganan anak-anak aibon.

Kepala dinas Sosial kabupaten Merauke, Gentur E. Pranowo mengatakan untuk tahun ini pihaknya telah mengalokasikan anggaran melalui dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk penanganan anak aibon di kabupaten Merauke.

” Penanganan anak aibon tahun ini rencana kita melakukan pembinaan untuk 2 gelombang bersumber dari dana Otsus, jadi kami masih menunggu alokasi Otsus apabila sudah keluar akan kami laksanakan,” katanya saat ditemui media ini di kantornya, Senin (8/5).

Dana Otsus yang akan digelontorkan dalam penanganan anak-anak aibon di Merauke mencapai Rp. 600 juta yang akan dibagi menjadi 2 gelombang dengan masing-masing gelombang akan membina 20 anak aibon.

Kalau untuk dana Otsus kita siapkan mulai dari pakaian, sepatu segala macam itu sekitar Rp. 600 juta untuk kegiatan selama 4 bulan untuk pembinaan di Merauke. Setiap gelombangnya itu kita membina anak-anak aibon sekitar 20 orang selama 2 bulan, jadi nanti rencananya mungkin 2 gelombang sekitar 40 anak selama 4 bulan,” jelasnya.

Rencananya 40 anak aibon itu akan dibina terlebih dahulu di Merauke, selama pembinaan tersebut pihaknya akan melakukan asesmen kira-kira mana yang sudah termasuk kategori yang agak parah dan sulit ditangani akan di kirim ke panti rehabilitasi ke Makassar.

” Karena di sana (Makassar) itu sudah ada pendamping sosial yang memang khusus menangani anak-anak yang bermasalah seperti ini, sementara sampai saat ini di Merauke belum ada pantinya,” ungkapnya.

Nantinya anak-anak aibon yang akan dibina lebih berfokus kepada anak-anak yang masih usia sekolah, sehingga diharapkan dengan pembinaan tersebut anak-anak aibon tersebut bisa kembali melanjutkan sekolahnya dan terlepas dari zat-zat adiktif tersebut.

” Khusus anak-anak yang usia sekolah, yang mereka mungkin kurang kasih sayang dari orang tua, tempat tinggalnya kurang layak sehingga mereka sering ada di depan emperan-emperan toko,” pungkasnya.[JON-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *