Tanamkan Rasa Cinta NKRI Sejak Dini
Pertemuan BNPT RI dengan tokoh Agama, tokoh Masyarakat dan Forkopimda. Foto: PSP/JON
Merauke, PSP – Untuk menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap tanah air Indonesia perlu dilakukan sejak dini dan mulai dari anak-anak yang berada di tapal batas, hal tersebut sebagai disampaikan kepala Dinas Pendidikan kabupaten Merauke, Thiasony Betaubun saat melakukan dialog kebangsaan dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT, Komjen Pol. Boy Rafli Amar bertempat di Swiss-belHotel Merauke, Kamis (24/6).
“ Saya minta untuk para petugas di daerah tapal batas wawasan kebangsaan selalu dibangun disana karena itu garis depan. Karena kita punya distribusi itu semua ada di daerah tapal batas dan anak bangsa ada disekitar sana, ditanam dari sekarang,” ucap Sony sapaan akrabnya.
Ia mejelaskan, perlu adanya pemahaman yang diberikan berkaitan dengan ideologi negara kepada generasi-generasi muda yang ada di Papua terkhusus bagi yang berada di wilayah Tapal Batas.
“ Kami dibilang bahwa tugas-tugas belum dioptimalkan, paling tidak menjadwalkan sekolah-sekolah untuk memberikan wawasan kebangsaan itu diberjalan dari bawah. Sehingga generis dari anak-anak bangsa ini sudah memahami apa itu sebenarnya UUD 1945, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI harga mati. Itu harus sudah tertanam dari bawah,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BNPT Boy Rafli mengatakan bahwa perlu adanya upaya membangun dan menumbuhkan rasa kecintaan masyarakat terlebih generasi-generasi muda di Papua untuk cinta terhadap negara Indonesia.
“ Karena ini berkaitan dengan masalah nasionalisme, masalah keindonesian, masalah upaya membangun kecintaan kepada negara ini, karena kalau penduduknya tidak cinta kepada negaranya akhirnya tentu generasi muda kita akan disorientasi,” tuturnya.
Untuk itu perlu adanya praktek nyata yang dilakukan dengan berbagai macam pendekatan salah satunya dikemas dalam lomba-lomba yang mengakat tentang wawasan kebangsaan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD).
“ Itu harus dikenalkan dengan praktek-praktek yang tentunya pendekatan-pendekatannya bisa dirancang dengan permainan, mungkin juga bikin lomba-lomba dikalangan anak pelajar, orasi-orasi kebangsaan, membuat tulisan tentang apa itu Pancasila dikalangan anank-anak Sekolah Dasar (SD) dan SMP,” pungkasnya.[JON-NAL]
