25 Oktober 2021

Papua Selatan Pos

Berita harian pagi Papua Selatan Pos

Setujukah Distributor Miras Ditutup?

Ilustrasi

Minuman Keras yang kita singkat Miras atau minuman beralkohol  berpotensi menimbulkan kriminalitas, dan merusak kesehatan. Oleh karena itu alkoholisme tidak boleh dibiarkan merajalela di tengah masyarakat karena mengganggu keamanan dan ketertiban dalam masyarakat, sekaligus mengganggu stabilitas pembangunan daerah. Di Merauke sendiri ada dua jenis miras yang beredar di masyarakat, yang pertama Minuman lokal atau yang disebut milo. Milo sendiri diolah atau diproduksi dengan cara sederhana dengan  fermentasi, dan digunakan untuk usaha ekonomi rumah tangga oleh sebagian masyarakat untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi dengan kandungan alkoholnya dan jika dikonsumsi secara berlebihan efek milo bisa membuat seseorang mabuk dan kehilangan kesadaran, bahkan menimbulkan masalah bagi diri sendiri atau orang lain. Sampai saat ini, ada beberapa daerah yang melarang peredaran atau memproduksi Milo, bahkan ada perdanya. Tetapi, peraturan itu tidak menyurutkan peredaran Milo di masyarakat.

Kedua, minuman alkohol bermerek atau berlabel. Dari sisi dampaknya sama saja, tidak ada dampak baik. Meskipun dapat menyumbangkan pendapatan daerah, miras berlabel tetap saja berdampak negatif, bagi kehidupan sosial.  Penyalahgunaan minuman keras dapat menimbulkan tindak pidana kekerasan, antara lain penganiayaan, pencurian, zina/cabul/susila, pengrusakan, perkosaan, dan pembunuhan.

Oleh karena itu, apakah masyarakat setuju… untuk mencegah penyalahgunaan minuman keras yang dapat menimbulkan keresahan, distributor dan pemasok minuman keras berlabel  harus ditutup?

Berikut ini pendapat atau pandangan masyarakat, jika distributor atau pemasok miras yang resmi ditutup…

Lebih baik ditutup…

Thomas rembe

Thomas Rembe, Pensiunan Polisi dari Kimmam ini sangat setuju jika distributor miras ditutup. Ia menilai miras lokal atau berlabel tidak ada keuntungannya. Akibat miras, hampir tiap hari ada tindakan kejahatan. Ia akui, pajak miras berlabel cukup tinggi menyumbang untuk pendapatan daerah, tetapi ia meminta jangan hanya dilihat dari sisi keuntungan pendapatan tetapi kita harus melihat dampak dari miras itu. “Memang miras berlabel itu, menyumbang pendapatan daerah cukup tinggi, tetapi kita juga harus lihat dampak sosial karena miras. Jangan hanya karena keuntungan itu, tetapi masyarakat yang jadi korban,” ujarnya.(NAL)

Pemasok Miras Harus Dibatasi dan Diatur

Marthen luter Wambarop

Apakah setuju distributor pemasok miras resmi ditutup? Menanggapi itu’ Tokoh Pemuda Boven Digoel Marthen Luther Wambarop mengatakan setuju atau tidak terkait dengan tutupnya pemasok miras sifatnya relatif. Mengapa, demikian karena dilain sisi menambah Pendapatan Asli Daerah PAD,  sementara sisilain dampak miras menciptakan konflik di tengah masyarakat.  Untuk itu perlu adanya regulasi dan edukasi,  salah satunya pemasok miras harus di batasi dan diatur sekian rupa. selain itu juga perlu ada pendampingan kepada masyarakat artinya memberikan pemahaman sehingga masyarakat tidak salah presepsi bahwa ini proses pembunuhan yang dilakukan oleh negara kepada masyarakat melalui Miras. Jadi untuk menjawab apakah kita menolak miras atau menerima harus benahi regulasi yang ada.

“Terkait dengan miras kita tidak bisa melihat dari satu sisi,  melainkan Dua sisi, contoh sisi buruknya miras itu dapat membunuh karakter bangsa itu harus diakui, sementara sisi baiknya, ketika miras masuk di suatu daerah tentu ada izinnya, dan izinnya itu bisa membantu pemerintah daerah dalam hal ini penambahan PAD, dan itu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.” Katanya. Dikatakan Luther untuk Kabupaten Boven Digoel sudah ada Perda 01 Tahun 2020 tentang pelarangan miras, namun yang terjadi miras masih beredar dengan cara masyarakat sendiri. Untuk itu regulasi dan Edukasi ini harus di perlakukan, artinya mereka yang menjual miras,  saat ditanya kenapa harus jual miras,  jawabannya apa anaknya sekolah bahkan ada yang menjawab untuk kebutuhan keluarga, Ini fakta dilapangan. [VER-NAL]

Tutup Saja, Bikin Resah Masyarakat

Dekki

Dekki salah satu mahasiswa di Perguruan Tinggi Merauke ini mengatakan peredaran Minuman Keras (MIRAS) jenis apapun termasuk Miras resmi yang beredar di kabupaten Merauke lebih baik di tutup saja. Ia beralasan bahwa dampak dari orang mengkonsumsi Miras sangat meresahkan.

“ Kalau lihat dari sisi negatifnya, seharusnya semua jenis minuma keras mau itu miras lokal kah atau yang berlabel itu peredarannya dibatasi, bahkan kalau perlu peredarannya di dilarang karena kalau orang sudah mabuk karena miras itu kita juga jadi takut,” ujar Dekki.[JON]

Kalau Hanya Penjual, Tapi Distributor Dibiarkan Maka Salah Sasran

Ust Abubakar Akhyar

Imam Besar Masjid Raya Al-Aqsa, Ustad Abubakar Akhyar menilai bahwa miras harus diberantas dari hulu sampai kehilir. Pasalnya, apabila hanya ditingkat tertentu saja yang ditertibkan, namun ditingkat lain dibiarkan, maka upaya pemberantasan akan percuma

“Saya setuju, jikalau minuman ini diberantas dari mulai hulu sampai kehilir. Kalau yang hanya dilarang hanya penjualnya, kemudian distributornya dengan segala seluk beluknya dibiarkan, maka ini akan tidak kena sasaran,” katanya di Kampung Waninggap Kai, Distrik Tanah Miring, Kamis (29/04/2021).

Agar upaya penindakan membuahkan hasil, Akhyar menilai bahwa pemerintah terkait harus bahu membahu dalam mengawal, baik dalam memberikan larangan melalui peraturan yang dibuat, maupun melalui penindakan secara tegas dilapangan. 

“Kalau negara melihatnya setelah kita berpuluh-puluh tahun tentang kantibmas ini salah satunya adalah karena miras. Maka sudah saatnya mulai dari eksekuitif, yudikatif, bahkan pengambil kebijakan ditingkat bawah pun harus mengambil kebijakan usulan kepada pemerintah pusat, bahwa itu efeknya sangat dasyat,” ujarnya.

Bahkan, Akhyar menilai bahwa aksi penolakan miras sejatinya berangkat dari mama-mama papua. yang mana, seringkali mereka menjadi korban, akibat suami dan keluarganya menenggak minimal terlarang. “Justru yang mengangkat bendera miras itu mama-mama Papua. karena korban miras, dari sudut pandang sosial-kemasyarakatan dan keluarga, jutru orang mabuk dia tidak pandang istrinya, anaknya, justru jadi korban,” pungkasnya. [WEND]

Semua Pihak Harus Sepakat

Gabriel Ndawi Ndiken,SH.,MH

Menurut Advokat Hukum berdarah marind Gabriel Ndawi Ndiken,SH.,MH , adanya miras menjadi sesuatu yang memprihatinkan dan merupakan penyakit penghancur bagi OAP. “Tanggung jawab pemda merauke untuk mengatasi ini. Terlepas dari adanya regulasi yang mengaturnya. Pemda Merauke dan semua pihak terkait dengan Miras harus membuat satu KESEPAKATAN yang menjadi dasar hukum untuk menolak masuknya miras. Pintu masuk miras harus ditutup dan tidak diperbolehkan untuk diperjualbelikan, merusak manusia, khususnya OAP,” kata Gabriel. [ERS]

error: Content is protected !!