Pengunjuk Rasa Tolak UU Cipta Kerja Menolak Dirapid Test
Demo penolakan undang - undang Cipta Kerja di Libra kemarin. Foto: PSP/ERS
Merauke, PSP – Massa aksi penolakan Undang -Undang Cipta Kerja beberapa waktu lalu di Lingkarang Brawijaya (Libra) menolak di rapid tes oleh tim medis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke.
Koordinator Lapangan Alam Merah (Aliansi Rakyat Merauke), Ronny Rumboy saat dikonfirmasi dari balik selulernya, kemarin membenarkan bahwa massa aksi penolakan undang – undang Cipta Kerja menolak untuk di rapid tes.
“Iya kami menolak itu. Memang benar mereka (pihak kepolisian) menghimbau kami agar dilakukan rapid tes,” tegas Ronny Rumboy.
Rumboy mengatakan, penolakan itu atas dasar para massa sudah melakukan aksi sejak pagi hingga siang hari, yang memungkinkan daya tahan tubuh massa sudah tentu berkurang. “Kami sudah lakukan aksi sejak pagi hingga siang hari, otomatis kalau rapid tes dengan kondisi dibawah terik matahari maka bisa disimpulkan kawan – kawan akan reaktif,” kata Rumboy.
Rumboy menambahkan, audiensi terkait penolakan terhadap undang – undang Cipta Kerja di DPRD Merauke terus didorong. “Kami sedang upaya dorong agar dilakukan audiensi sebab waktu aksi perwakilan DPRD menyampaikan aspirasi kami untuk audiensi bisa diterima dan kami masih berharap audiensi itu berlangsung,” kata Rumboy.
Karena, lanjut Rumboy, pihak pengunjuk rasa hingga kini masih tetap konsisten terhadap apa yang dituntut mengenai penolakan undang – undang Cipta Kerja itu.
“Kami tetao konsisten dengan apa yang kami tuntut. Karena ada beberapa poin – poin dalam undang – undang yang menjadi kajian kami,” tandasnya.
Kepala Bidang dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, Titiek Kartiningsih yang menjadi tim medis rapid tes pengunjuk rasa mengatakan, rapid tes itu merupakan permintaan dari Kapolres Merauke.
“Iya ini permintaan dari pak Kapolres. Tadi dimintanya 50 orang,” ujar Titik di lokasi unjuk rasa.
Dikatakan Titik, selain adanya permintaan dari pengawas Covid-19 di Merauke itu, hal itu juga merupakan salah satu kegiatan melaksanakan surfeilence. “Ini kegiatan surfeilence, karena dalam penurunan jumlah angka Covid-19 salah satunya meningkatkan surfeilence, tresing, tracking dan treatment kalau ditemukan kasus. Karena kalau kita lihat kan tidak jaga jarak, dan ada beberapa tidak memakai masker. Karena ada kecenderungan bahwa ini memiliki resiko tinggi. Jadi ini salah satu antisipasi untuk menurunkan angka covid,” ujar Titiek. [ERS-NAL]
