25 September 2021

Papua Selatan Pos

Berita harian pagi Papua Selatan Pos

Setujukah Beralih dari Minyak Tanah ke Gas Elpigi

Saat ini Merauke sedang krisis Minyak Tanah. Minyak Tanah yang dijadikan sebagai kebutuhan pokok Rumah Tangga menjadi barang langka yang sangat sulit didapat. Tetapi menjadi suatu keanehan, Minyak Tanah yang langka justru menjadi ajanng bisnis bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana tidak, Minyak Tanah dengan mudahnya diperjual belikan di on line dan dipinggir jalan dengan harga diatas normal. Lama-lama kondisi terbut menjadi hal yang biasa, tetapi masyarakat yang menjadi susah.

Salah satu solusi untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah ialah beralihnya masyarakat ke bahan bakar Gas Elpigi. Nah, menurut kamu sudah tepat atau tidak jika Masyarakat merauke beralih dari Minyak Tanah ke Gas Elpigi? Nah berikut ini, jawaban dari warga merauke…[***-NAL]

Setuju, tetapi harus ada pengenalan

Lesme Simajuntak, Ibu rumah tangga dengan empat orang anak ini menyetujui jika ada peralihan dari Minyak tanah ke gas elpigi, asalkan ada sosialisasi dari pihak terkait. Gas elpiji ini barang baru, jadi masyarakat harus mengenal lebih dahulu apa itu elpigi. “ Masyrakat harus tahu dulu, gaskan barang berbahaya. Jangan sampai masyarakat yang tidak paham, baru coba-coba pasang dan taunya celaka lagi. Harus ada yang memberikan arahan dari pihak terkait seperti cara pasang selang gasnya, taua yang lainnya,” ujarnya.[NAL]

Setuju,  tapi bertahap

Merauke, PSP – Shandy Cristian,  sarjana muda ini menilai bahwa sebaiknya kenijakan pengantian minyak tanah ke tabung gas dilakukan secara bertahap.  Saat ini juga pemerintah perlu segera hadir dan memberikan solusi bagi masyarakat yang sedang kesulitan mendapatkan minyak tanah.

“sebaiknya pemerintah secara bertahap apabaila hendak menganti minyak tanah ke tabung gas elpiji.  Tidak seperti sekarang ini, masyarakat kesusahan mencari minyak tanah, namun pemerintah tidak hadir memberi solusi. Misalnya dengan memberikan tabung gas subsidi secara gratis dulu, supaya masyarakat yang susah tidak tambah susah,” ujar shandy, Minggu (4/10).[WEND]

Harus Ada Sosialisasi Dan Alternatif Dari Pemerintah

Elin Marlina

Merauke, PSP – Elin Marlina, Dosen disalah satu perguruan tinggi swasta di Merauke ini menilai bahwa jika ada wacana peralihan dari minyak tanah ke tabung gas elpiji, seyogianya ada sosialisasi dari pemerintah terlebih dahulu. Selain itu, setidak-tidaknya proses perubahan secara berlahan, misalnya dengan memberikan bantuan tabung gas elpiji 3 kilo secara gratis kepada masyarakat terlebih dahulu, sehingga tidak terkesan membebani masyarakat.

“kalau memang kondisi kelangkaan minyak tanah saat ini merupakan salah satu cara dari pihak pemerintah untuk penarikan minyak tanah dan dialihkan ke gas, kita masyarakat sangat kecewa karena menambah persoalan baru tanpa solusi. Terkecuali program pemerintah terlebih dahulu telah mensosialisakan dengan menyediakan gas 3 kg dan dibagi secara gratis. Kedepannya baru masyarakat menyesuaikan sesuai kebutuhan, baru minyak tanah bisa ditarik dari pasaran secara perlahan,” ungkapnya kepada Papua Selatan Pos belum lama ini. Lebih lanjut, ia juga mencontohkan kebijakan pemerintah pusat, dimana rencana peralihan dibarengi dengan adanya sosialisasi dan dilakukan secara berlahan.  “Macam dulu juga dijawa kan begitu setiap kelurahan diberikan gas 3 kg gratis. Malahan sama kompor gasnya dikasih gratis bagi yang kurang mampu. sehingga, warga punya pilihan mau bertahan dengan resiko beli minyak dengan harga mahal atau beralih dengan biaya terjangkau,” pungkasnya. [WEND]

Sudah Saatnya

Alny Mariani Sinaga

Bagi Alny Mariany Sinaga, Sudah saatnya beralih ke LPG agar masyarakat terbiasa dengan penggunaan Gas. “Sudah saatnya, tapi dengan catatan harga dikondisikan.Kalau harganya mahal, masyrakat akan tetap cari minyak tanah krn murah dan merasa aman memakainya,” katanya. [ERS]

Keduanya Harus Disediakan

Paulina Laimehriwa

Bagi Paulina Laimehriwa,  penyedian gas LPG sedianya hanya bisa menjadi alternatif. Dengan tidak mengurangi kuota minyak tanah.

“Saya setuju, apabila itu menjadi salah satu alternatif lainnya dari kebijakan pemerintah dalam pemenuhan bahan bakar kepada masyarakat,” kata Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Musamus ini. Apalagi, kata Paulina, saat ini teramat sulit mendapatkan minyak tanah.

Pengalihan minyak tanah ke gas LPG bisa saja  dilakukan kata dia, namun yang menjadi pertanyaanya, apakah gas LPG dapat didistribusikan secara merata pada masyarakat umum, ujar Paulina bertanya. “Jika bahan bakar gas suatu saat mengalami kelangkaan yang sama seperti minyak tanah, berarti sama saja. Nah, menurut saya bahan bakar gas LPG bisa saja dijadikan alternatif ke 2 setelah minyak tanah, jadi kedua bahan bakar ini harus ada, mengingat lagi masyarakat yang belum terbiasa menggunakan bahan bakar gas LPG,” jelasnya. [ERS]

Banyak Masyarakat Belum Mampu Beli LPG

Roy Tobing

Menurut Roy Tobing, sudah barang tentu banyak masyarakat belum setuju semisalnya ada peralihan minyak tanah ke gas.”Disatu sisi ekonomi masyarakat bawah masih belum mampu untuk membeli gas dengan kisaran harga diatas Rp.120 ribu dengan ukuran 5kg dan ukuran 12 kg seharga Rp.265 ribu. Sekarang pula, alam masih menyediakan kayu sebagai bahan bakar. Kalau dilihar lagi dari segi keamanan, masyarakat masih takut untuk menggunakan gas karena resiko kebakaran. Lagipula ketersediaan gas dipasaran pun masih terbatas. Jadi intinya masyarakat masih ketergantungan akan minyak tanah. Hanya sebagian kecil warga yang mampu  menggunakan gas elpiji,” kata Roy Tobing [ERS]