19 Tahun Otsus Bergulir, Tarsis Rahailyaan : Mari kita berdialog

0
Tarsis Rahailyaan (2)

Tarsis Rahailyaan

Merauke, PSP – Salah satu tokoh masyarakat Merauke, Tarsis Rahailyaan, yang turut ikut menandatangani persetujuan undang – undang otonomi khusus (Otsus) Jilid I diawal tahun 2001 mengajak semua pihak secara khusus pemerintah daerah dan tokoh masyarakat untuk membahas mengenai pergolakan otsus Jilid I maupun Jilid II nanti.

Dikatakan Tarsis, dirinya salah satu tokoh yang bertanggung jawab secara moral menjaga kestabilan khusus di wilayah Merauke.

“Otsus jilid pertama, saya turut menandatangani itu, waktu itu di rumah saya. Maka saya salah satu tokoh adat masyarakat Marind yang punya tanggung jawab moral untuk bagaimana menjaga kestabilan di daerah ini. Karena sekarang, dengan adanya (Otsus) yang ditawarkan pemerintah pusat , dan ada beberapa saudara – saudara di daerah lain dan di Merauke juga menolak. Bagi saya, sah – sah saja, tetapi disisi lain kita memiliki tanggung jawab bagaimana menyelamatkan masyarakat Papua di tingkat bawah,” jelas Tarsis kepada wartawan di salah satu cafe di Merauke, Rabu (12/8).

Menurut dia, tidak perlu pihak – pihak lain menciptakan situasi yang bisa saja menimbulkan gejolak dan justru menyusahkan masyarakat ditingkat bawah.

“Cukup sudah tahun 2000 banyak korban. Elit politik begitu menciptakan situasi yang kurang bagus kemudian melarikan diri dan masyarakat menjadi korban. Karena, 19 tahun saya ikuti, saya masih bingung dengan skema pemberdayaan orang Papua sampai sejauh mana,” kata Tarsis.

Bagi Tarsis, otsus jilid II sedianya perlu dipertimbangkan, tentunya dengan mengevaluasi otsus jilid pertama.

“Bagi saya jilid dua dipertimbangkan, elit – elit politik dan birokrat jangan menciptakan hal yang akan menyusahkan orang di bawah. Mari kita duduk bersama dan bijak melihat ini, kita orang beriman. Yang adalah fungsi kontrol bagi kehidupan manusia sehari – hari, dan saya yakin berdasarkan iman kita dan pemerintah pusat bisa mencarikan solusi terbaik untuk keselamatan orang Papua,” tutur Tarsis.

Ia juga menghimbau, bagi pihak yang menolak jilid II, agar sebaiknya menunjukkan diri, bukan mengumandangkan penolakan namun seolah memprovokasi masyarakat.

“Saya katakan, bagi siapa saja di Merauke, kalau memang tolak jilid II, nampakkan diri, jangan menciptakan situasi yang memprovokasi masyarakat. Saya tetap menghormati tokoh masyarakat Papua dan non Papua. Yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedamaian disini,” tandasnya.

Memang, menurut Tarsisi, otsus jilid pertama gagal. Kegagalan itu perlu diketahui mata persoalannya guna mencarikan solusi.

“Bagi saya otsus jilid pertama gagal. Nah, kegagalan ini apakah karena pemerintah pusat atau pemerintah Papua sendiri. Karena masyarakat awam merasakan belum ada sentuhan , sementara dana otsus selama 19 tahun sudah terlalu banyak,” katanya.

Ia mengajak, tokoh masyarakat baik kiranya mengumandangkan jeritan hati masyarakat. “Tokoh papua mari kita kumandangkan suara hati masyarakat. Kita sebagai tokoh masyarakat, mati ditembak atau dibunuh kemudian masyarakat yang menyimpan jenazahnya itu lebih terhormat, daripada kita sibuk huru-hara dan kemudian kita yang menyimpan masyarakat punya jenazah , satu hal yang tidak boleh terjadi lagi. Saya berharap, pemerintah daerah memfasilitasi semua ini untuk bertemu dengan presiden untuk berdialog,” pesan Tarsis. [ERS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *