Setelah 21 Tahun Berjuang, Akhirnya Biji Kopi Muting bisa Dipasarkan

0
Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Muting bersama warga pemilik kebun kopi.

Anggota Bhabinkamtibmas Polsek Muting bersama warga pemilik kebun kopi. Foto: PSP/FHS

I Nengah : Terimakasih bapak Kapolsek dan Bhabinkamtibmas

Merauke, PSP – Kini warga Kampung Seed Agung, Distrik Muting, khususnya warga yang menanam kopi, bernapas lega. Pasalnya, setelah 21 tahun berjuang menanam kopi, akhirnya kopi mereka bisa dijual dipasaran, khususnya di kota Merauke. Harganya pun dinilai sangat layak, karena biji kopi bisa dijual Rp.30.000 per kilogramnya.

Kepala Kampung Seed Agung, I Nengah Sudiana mengemukakan, hasil kebun kopi mereka bisa dijual, setelah bertemu dengan Kapolsek Muting, Ipda Hamado dan Bhabinkamtibmas, Bripka Jasman.  Sejak kehadirannya di kampung tersebut tahun 1995/1996, sudah mulai menanam kopi dan sekitar tahun 1999, sudah panen. Hanya saja, hasilnya tidak bisa dijual, bahkan tidak laku dan tidak ada peminat. Akibatnya, warga banyak yang memilih untuk menebangnya dan mengganti dengan tanaman palawija, demi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Kabar baik itu baru datang sekitar bulan November 2020 lalu. Dimana, Kepala kampung bertemu dan berbincang bincang dengan Bripka Jasman, soal keberadaan kebun kopi milik masyarakat. Lantas, Bripka Jasman pun bersama Kapolsek mencoba menawarkannya ke sejumlah café di kota Merauke dan mendapat respon baik.

“Sudah banyak warga yang tebang. Dulu ada sekitar 25 hektar,” kata I Nengah, Sabtu (5/12).

Menurutnya, harga yang biji kopi Rp 30.000 per kilogramnya, sudah sangat layak. Maka itu, ia akan memotivasi warga untuk kembali menanamnya kembali. Sebab, hal ini merupakan potensi baru yang bisa dikembangkan.  Karena, semakin lama, rasa dan kualitas kopi warga Muting itu akan semakin dikenal di lingkungan masyarakat.

“Mudah-mudahan  ke depannya, kopi Muting bisa jadi produk unggulan Merauke,” ucapnya.

Manager Rumah Kopi D’waroeng (RKD), Feby, menyebut, awalnya pihaknya mendapat penawaran kopi asli local yakni dari Merauke, lalu mencoba menyajikan kepada para pengunjung. Melihat respon para penikmat kopi yang tinggi, akhirnya mereka melirik dan memesan kopi asal Muting tersebut untuk disajikan.

“Menurut para penikmat kopi, rasanya bagus dan cukup diminati. Makanya, untuk tahap awal ini,  kami sudah ada pesan sekitar 100 kilogram,” kata wanita yang biasa dipanggil Eby itu.

Anggota bhabinkamtibmas, Bripka Jasman menyebut, sejak mengetahui adanya hasil kopi di masyarakat, ia mencoba berkomunikasi dengan rekan-rekan penikmat kopi maupun pemilik café. Dari sana,  para pemilik café mulai memesan untuk uji coba dan ternyata, café RKD, langsung merespon baik dan melakukan pemesanan.

“Semoga kehadiran, kami bisa membantu warga di kampung-kampung,” kata Bripka Jasman, dari balik ponselnya.

Kapolsek Muting, Ipda Hamado, mengapresiasi atas solusi yang telah dibuat anak buahnya itu. Dengan demikian, kehadirannya di tengah-tengah masyararakat, benar-benar membawa manfaat. Kapolsek juga, meminta Bripka Jasman, untuk bisa melirik potensi lain, demi membantu masyarakat. “Sudah seharusnya, keberadaan kita itu harus membawa perubahan di masyarakat. Kenapa? Karena kita digaji oleh rakyat. Semoga, ke depannya, masih ada hal-hal lain yang bisa kami lakukan untuk masyarakat perbatasan ini,” tambah Ipda Hamado.[FHS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *