Beras Tidak Terserap, Ini Solusi Hermes

0
Hermes saat menjelaskan visi misinya kepada masyarakat

Hermes saat menjelaskan visi misinya kepada masyarakat. Foto: PSP/WEND

Merauke, PSP – Sebagai Lumbung Pangan Nasional saat ini Merauke sedang dihadapkan dengan permasalahan penyerapan beras. Akibat sulitnya penyerapan beras itu, mengakibatkan petani mengalami segudang permasalahan. Selain hasil panen yang menumpuk tidak terjual, para petani harus dihadapkan dengan persoalan lainnya, seperti pembayaran cicilan ke Bank.

Sebagai mata pencaharian utamanya, para petani membutuhkan solusi agar beras mereka terserap dengan baik, agar mereka menjadi petani sejahtera. Dibutuhkan program yang tepat sasaran, agar tidak ada lagi Petani susah diatas panennya sendiri atau istilahnya ‘Tikus Mati di dalam Lumbung Padi’.

Calon Bupati Merauke, Hendrikus Mahuse dan Calon Wakil Bupati Merauke, Edi Santosa menawarkan solusi untuk penyerapan beras petani Merauke. Menurut Hendrik, dengan membentuk Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) di setiap kampung, kemudian dengan didukung fasilitas dan program yang baik, maka akan mampu membantu menyerap hasil panen para petani. 

“Salah satu solusinya adalah kita akan bentuk Badan Usaha Milik Kampung. Pertama, dia akan membeli hasil panen petani. Nanti BUMK itu punya gudang sendiri. Kemudian disepakati setiap kampung penyertaan modalnya berapa, misalnya 200 juta, dikalikan seluruh kampung di Kurik, berarti ada sekitar 2,6 milyar. Itu akan bisa membantu membeli beras petani,” ujarnya kepada Papua Selatan Pos saat disela-sela anjang sana, di Kampung Salor 2 Distrik Kurik, Selasa (6/10/2020).

Selain untuk membeli beras, Imbuh Hendrik, nantinya BUMK juga dapat menjalankan program simpan pinjam bagi petani dengan bunga yang rendah. Sehingga tidak lagi memberatkan petani dalam membayar tagihan. 

“Program apa saja yang mau dijalankan, salah satunya simpan pinjam. Bapak ibu tidak usah pinjam ke bank, tinggal pinjam ke BUMK. Tentunya bunga dari BUMK di bawah bunga dari Bank. Karena BUMK punya masyarakat,” ujarnya.

Selain BUMK, nantinya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) juga perlu dibentuk. Ini untuk memback up ketika BUMK tidak lagi mampu menyerap beras petani. 

“Kita juga punya BUMD milik Kabupaten. Ketika BUMK sudah tidak bisa menyerap beras petani, maka buanglah ke kabupaten. Kabupaten akan memback up semua, uang kita ada kok 50 milyar,” sebutnya.

Dalam memaksimalkan perannya, nantinya ia akan membangun BUMD di 3 distrik. Di masing-masing BUMD, akan dilengkapi dengan alat pengering, sehingga petani tidak lagi harus menjemur padi, namun bisa menghasilkan beras premium.

“Komitmen kami akan bangun BUMD ditiga sentral. Kurik, Tanah Miring, dan Semangga. Gunanya untuk memback up semua hasil panen. Besok begitu panen, langsung jual ke BUMD, dan digiling jadi beras premium tidak perlu lagi dijemur. Uang kita ada 2,3 trilyun. Saya beli mesin cangih itu cuma 6 milyar, kalau 3 mesin Cuma berapa. Itulah solusi yang akan kita tawarkan,” ujarnya.

Lanjut Hendrikus Mashuse, untuk para petani Merauke, Hermes menawarkan Kartu Tani Ku. Dengan Kartu Taniku, nantinya masyarakat akan memperoleh kemudahan-kemudahan.

“Dengan kartu tani akan memperoleh 3 manfaat. Pertama, kita akan susbsidi Pupuk untuk satu petani 2 hektar. Kedua, kita memberikan subsidi BBM, jadi tinggal bawa kartu, nanti donk ambil BBM berapa liter yang dibutuhkan. Ketiga, subsidi benih. Jadi benih padi itu sangat penting. Supaya kalau dong penen, beras yang didapat itu beras bagus,” kata Hermes seraya berjanji akan memperbaiki jalan poros dari distrik Kurik sampai Malind yang sementara ini kondisinya sangat memprihatinkan. “Kita akan bikin jalan halus dari Salor sampai Kumbe, ini komitmen kami,” pungkasnya. [WEND-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *