SKIPM : Insang Tidak Menjadi Patokan Ikan Segar
Ainul Djarod,S.PKP
Merauke, PSP – Beredarnya video oknum penjual ikan mujair mengoleskan sesuatu di insang ikan di salah satu pasar di Merauke membuat resah masyarakat. Pasalnya, akibat perbuatan oknum penjual ikan tersebut banyak pihak yang dirugikan.
Bahkan, menurut penuturan pedagang ikan lainnya, semenjak beredarnya video tersebut, konsumen seolah enggan untuk membeli ikan mujair yang khusus diikat dengan tali.
Salah seorang ibu rumah tangga yang enggan menyebutkan namanya pun, mengaku sudah merasa enggan membeli ikan mujair yang di ikat – ikat.
“Iya menjijikan sekali, jualan tapi tidak sportif, mending saya beli ikan ke mama – mama Papua masih segar hidup lagi,” kata IRT itu.
Ternyata, mengenai beredarnya video tersebut pun sudah langsung dikroscek oleh Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (SKIPM) Kabupaten Merauke.
Kepala Sub Seksi Bidang Pelayanan Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (SKIPM) Merauke Ainul Djarod,S.PKP mengatakan, sudah sempat melakukan kolaborasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Merauke dan BPOM untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut.
“Dalam kegiatan kami untuk memonitoring kesegaran ikan, kandungan residu maupun bahan berbahaya untuk tahun 2020 agendanya sebanyak 4 kali. Ada namanya tim monitoring kesegaran ikan kandungan residu dan bahan berbahaya. Termasuk juga penyalahgunaan bahan tambahan yang digunakan salah satu oknum pedagang di pasar beberapa waktu lalu,” kata Ainul di kantornya, Senin (31/8).
Memang, kata Ainul, sesuai dengan tugas pokok fungsi SKIPM sebagai pengawas, belum menanyakan langsung ke bersangkutan bahan yang dibubuhkan ke ikan tersebut guna mensiasati konsumen.
“Kami memang belum menanyai langsung ke orangnya, sebab tidak kedapatan langsung.
Akan tetapi dari Dinas Perikanan atas penjelasan Kepala Bidang PDS katanya sudah ditindaklanjuti dan sudah ditegur. Dari situ kami kolaborasi dan sampel yang diuji, kami minta tolong ke BPOM untuk mengecek bahan tambahan. Apakah itu rodamin maupun perwarna. Kebetulan yang di cek itu bahan tambahan lebih ke rodaminnya,” kata Ainul.
Ainul mengungkapkan, dari hasil investigasi yang pernah dilakukan, pedagang ikan di pasar memoles insang ikan menggunakan darah sapi maupun saos.
“Bahan tambahan ke ikan, yang pernah kami lakukan sesi bertanya ke pelaku usaha mereka menggunakan darah sapi maupun saos untuk mensiasati kesegaran ikan khususnya di bagian insang,” Ainul menerangkan.
Kalau dari segi mutu, sebutnya, sudah barang tentu setelah darah sapi digunakan akan muncul bakteri salmonella aetokoli.
“Cuma untuk tindakan yang terjadi di pasar itu, kami belum tahu pasti pelaku menambahkan bahan apa kedalam. Cuma kami sudah ke pasar dan bertanya ke pedagang, untuk mengelabui konsumen ditambahkan darah sapi maupun saos,” tuturnya.
Dikatakan, adapun indikator ikan segar ada yang boleh dilihat oleh konsumen, baik dilihat dari mata yang masih cembung dan cerah, insang memerah, kulit yang berlendir, daging yang tidak lembek, aroma serta tekstur. “Aromanya spesifik bukan bau busuk, masih berlendir. Insang tidak menjadi patokan ikan segar,” sebut Ainul.
Dikatakan Ainul, sedianya pelaku yang melakukan cara – cara demikian terlebih dahulu dilakukan pembinaan
“Diawal membina dulu, nanti rekomendasinya dari dinas terkait, karena kami hanya mengawasi saja,” katanya.
Ainul bilang, SKIPM telah melakukan pengawasan terhadap kesegaran ikan selama 6 tahun terakhir. Dan dari data hasil pengawasan, kesegaran ikan di Merauke jumlahnya relatif naik turun
“Kami sudah melakukan pengawasan ikan selama 6 tahun. Kalau kesegaran ikan di Merauke relatif naik turun. Tergantung rantai dingin yang dibuat sejak pengangkatan ikan dari dalam air. Selama pengawasan kami bel ada ditemukam kandungan formalin didalam ikan,” tandasnya. Terkait dengan jaminan kesegaran ikan terhadap masyarakat, tambah dia, sedianya diperlukan uji laboratorium terlebih dahulu. [ERS-NAL]
