Membelah Ombak Hingga ke Senggo
Tampak seseorang tengah memuat barang ke KMP. Bambit di pelabuhan Kelapa Lima Merauke.
Merauke, PSP – Namanya Yosoa Ada, pria 32 tahun yang sedang merantau di ibu kota provinsi Papua Selatan yakni Merauke.
Provinsi Papua Selatan, sekarang menjadi daerah otonomi baru (DOB) setelah ditetapkan pemerintah melalui undang-undang 14 tahun 2022, mencakup 4 kabupaten di dalamnya, Asmat, Boven Digoel, Mappi dan Merauke.
Yosoa berada di Merauke sejak tahun 2016. Ia lahir dan datang dari sebuah kampung di kabupaten Mappi, bernama kampung Senggo distrik Citak Mitak. Distrik ini mencakup 7 kampung yakni Bidnew, Kumasma, Womin, Tamanin, Epem, Abau dan Senggo menjadi ibu kota distrik.
Untuk sampai di Merauke, Yosoa kala itu harus berjibaku. Beranjak dari Senggo dengan menggunakan ketingting, menyusuri sungai dan melewati Kampung Kopi serta Kampung Aboge, hingga akhirnya tiba di Distrik Asgon kabupaten Mappi.
Dari Asgon, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menggunakan mobil penumpang menuju Kepi, ibu kota Kabupaten Mappi. Setibanya di Kepi, perjalanan diteruskan ke Distrik Mur juga menggunakan transportasi darat, ojek motor.
Dari Mur, perjalanan berlanjut dengan menaiki Kapal Arwana, menyusuri aliran sungai menuju Distrik Bade. Dari Bade, perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut menuju Asiki, sebuah kawasan di Kabupaten Boven Digoel. Setelah itu, Yosoa melanjutkan perjalanan terakhirnya dengan transportasi darat menuju Merauke.
“Empat hari saya di perjalanan baru sampai di Merauke, capek minta ampun. Waktu itu, sa pu kaka kasi uang 700 ribu, semua habis di perjalanan, sisa 50 ribu,” kisah Yosoa saat diwawancarai di Merauke pertengahan bulan Agustus 2025 lalu.
Bukan tanpa alasan Yosoa pergi merantau ke Merauke. Selain ingin mencari pekerjaan, harga bahan pokok yang mahal di kampungnya menjadi faktor utama. Apalagi tidak punya pekerjaan, mana mungkin bisa membeli itu.
“Dulu di Senggo itu sulit kawan, bahan pokok terbatas, semua mahal, air mineral botol besar saja dulu satu karton Rp 120 ribu,” kisah nya lagi.
Semenjak berada di Merauke, Yosoa sudah berapa kali pulang kampung ke Senggo. Pertama sekali ia pulang pada akhir tahun 2018 lalu.
Yosoa sempat kaget. Ia mendapat informasi bahwa ada kapal dari Merauke menuju Senggo. Tanpa pikir panjang, ia langsung mencari tiket kapal dimaksud.
“Pertama saya mau pulang akhir tahun 2018, itu saya kaget. Katanya ada kapal dari Merauke langsung Senggo. Karena memang setau saya tidak ada kapal besar langsung ke Senggo. Sudah, saya langsung cari tiket, cuss berangkat, kalau tidak salah tiket waktu itu harga Rp 180 ribu.,” kata Yosoa dengan khas gaya Papua nya.
Sesampainya di Senggo setelah 3 hari dua malam perjalanan, Yosoa kembali dikagetkan dengan harga-harga bahan pokok yang sudah tidak mahal lagi.
“Ih saya kaget sampai di kampung , air mineral satu karton Rp 80 ribu, rokok satu bungkus Rp 40 ribu. Saya lihat memang waktu turun dari kapal, selain penumpang yang turun, ada juga barang – barang kasih turun di dermaga situ, kayak supermi, beras, banyak lagi kawan ,” lanjut dia.
Yosoa bilang, satu bulan lamanya dia berada di kampung halaman Senggo, banyak yang berubah. Bahan pokok yang dulunya sulit didapatkan, dan mahal harganya, kini tidak lagi.
Tiba saatnya Yosoa hendak kembali ke Merauke. Setelah sebulan di kampung, kapal yang ia tumpangi sewaktu dari Merauke kembali sandar di dermaga Senggo. “Kita di kampung tidak susah lagi kawan. Sebulan saya di kampung, kapal yang waktu itu antar saya ke Senggo KMP. Bambit dia sandar lagi di dermaga, kasih turun penumpang sama barang-barang, kemudian penumpang baru dari Senggo berangkat menuju Merauke. Kita mau pulang kampung su tidak takut lagi, ada kapal ke Senggo,” terang Yosoa.
Kepala Distrik Citak Mitak, Kosmas mengatakan KMP. Bambit menjadi kapal primadona bagi warga di distrik nya.
“Luar biasa, ada kapal ASDP KMP. Bambit yang sering keluar masuk ke Senggo setiap bulan pasti dia masuk. Dia jadi primadona di Senggo,” kata Kosmas saat dihubungi dari Merauke awal September 2025 lalu.
Distribusi bahan pokok yang semakin lancar, walau hanya satu bulan satu kali, berpengaruh pada disparitas harga barang-barang pokok di Senggo
“Masyarakat kami sangat terbantu. Kapal itu membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok, karena membawa barang dari Merauke itu pasti kapal Bambit anak mudanya. Begitupun untuk membawa masyarakat yang hendak berkuliah di Merauke. Harga bahan pokok sekarang sudah terjangkau. Sebelum ada kapal, dulu tahun-tahun 80an, 90an, sampai tahun 2000 keatas itu harga mahal karena bahan pokok kan terbatas. Sekarang beras perkilo 15 ribu sampai 20 ribu, air mineral botol besar 10 ribu, yang sedang 5 ribu. Dan menurut saya itu sudah harga wajar. Ya kita harus akui ekonomi bertumbuh di sini,” tuturnya.
Kosmas mengungkapkan, barang-barang bahan pokok yang turun dari kapal Bambit di Senggo juga terdistribusi ke kampung wilayah distrik Citak Mitak.
“Iya, barang turun dari kapal Bambit di dermaga Senggo kemudian juga didistribusi juga ke kampung lainnya. Ada pedagang yang mempunyai barang diturunkan dari kapal, dan para pedagang menggunakan ketingting juga mendistribusikan ke kampung sebelah,” ungkap Kosmas.
PT. ASDP Cabang Merauke sampai saat ini tetap melayani Senggo sesuai penugasan dari Kementrian Perhubungan untuk melayani wilayah-wilayah pedalaman di Provinsi Papua Selatan.
Plt. Manager Usaha dan Tehnik PT. ASDP Cabang Merauke Burhanuddin menyatakan KMP. Bambit milik ASDP sampai saat ini melayani masyarakat dari Merauke ke Senggo dan sebaliknya dengan rute Merauke – Atsi – Agats – Atsi – Senggo.
“Sedianya kami melayani masyarakat sesuai dengan penugasan kementerian. Terlebih kapal ini kan di subsidi oleh pemerintah. Jadi dia bisa mengangkut barang juga penumpang. Dan boleh saya katakan inilah salah satu bentuk kehadiran negara kepada masyarakat,” ujar Burhanuddin di kantor ASDP Cabang Merauke, Senin (8/8).
Hadirnya KMP. Bambit membelah ganasnya ombak laut Arafura hingga ke Senggo membuat wilayah ini sekarang terasa berada di depan mata. Yang senantiasa dinantikan masyarakat kehadirannya.
Harga bahan pokok semakin terjangkau, aksesibilitas ke Senggo semakin mudah bermuara pada pertumbuhan ekonomi dan tidak sulit seperti dulu lagi. Pengembangan sarana dan prasarana transportasi di Papua juga sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di wilayah Papua. [ERS-NAL]
