SMP Negeri Buti Terapkan Kurikulum Adaptif
Merauke, PSP – SMP Negeri Buti menerapkan kurikulum adaptif dari kurikulum K13 yang dinamakan kurikulum gotong royong. Kurikulim ini dibuat dalam pentuk pembelajaran tematik kolaboratif, penerepan kurikulum adaptif ini digunakan dengan cara pengamatan dan mensharing lingkungan.
Kepala Sekolah SMP Negeri Buti, Pascalis Tethool mengatakan, dalam penerapan kurikulum gotong royong tentu pihak sekolah melibatkan orang tua wali murid, siswa dan guru sebagai mitra belajar. Pihak sekolah menggunakan sebutan mitra belajar, agar pendekatan antara guru dan siswa menjadi lebih dekat.
Pascalis menambahkan, setiap guru harus pertama – tama mengeluarkan kompentensi dasar bagi siswa kelas 7, 8 dan 9, untuk melihat kompentensi dasar guru menggabungkan 4 siswa dalam 1 kelompok untuk menghamati dan mesharing 1 tema yang di berikan oleh guru.
Pascalis menyampaikan, setelah memasuki tahun ajaran baru, tema pertama yang digunakan adalah ekosistem pantai, dan tema yang berikutnya adalah rumahku tempat belajarku. Proses pembelajaran ini dilakukan dengan cara, guru membuat modul materi secara sederhana serta melakukan kunjungan ke rumah – rumah siswa untuk menjelaskan materi.
Lanjut Pascalis, pembelajaran pertama pihak sekolah melakukan secara tatap muka dengan meminta siswa mengamati, mengambarkan dan menulis penjelasan tentang apa yang dilihat pada lingkungan pantai dan pertemuan berikutnya siswa diminta untuk mensharing penghamatan yang siswa lakukan dilingkungan pantai.
”pembelajaran ini akan membuat siswa aktif, karena siswa melihat langsung apa yang ada di seputar lingkungannya dan lingkungan sekitar mereka akan menjadi sumber belajar bagi siswa, oleh karena itu siswa akan menjadi aktif dan kreatif,” ungkap Pascalis saat diwawancara di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Pascalis menambahkan, untuk pertemuan selanjutnya guru akan menghubungan dengan kompentensi dasar dan siswa diminta untuk membawah hasil karyanya, penerapan kurikulim gotong yorong ini tentu sangat tepat untuk sekolah – sekolah yang berada dipinggiran dan pedalaman. Pascalis menjelaskan, selama ini yang terjadi, pembelajaran yang dilakukan dengan konsep – konsep serta prosedural, sehingga siswa tidak memahami. Tetapi saat ini anak – anak papua lebih cenderung belajar secara visual dan kinestetik, sehingga dari pihak sekolah menerapkan 2 konsep ini dalam proses pembelajaran, pungkas. [CR1-NAL]
