Pegadaian Hadir Bangkitkan Masyarakat Papua dari Keterpurukan Ekonomi Akibat Pandemi
Yakoba Wakman, Perempuan OAP Nasabah Pegadaian
Merauke, PSP – Bagi masyarakat asli Papua, Pegadaian menjadi semacam oase ditengah gersang dan keringnya sektor ekonomi akibat paparan pendemi covid-19 yang menggejala setahun terakhir. Masyarakat terenggah-enggah, setidaknya untuk bertahan hidup, akibat pemberlakuan pembatasan beraktifitas dan sulitnya memperoleh tambahan pendapatan, atau bahkan karena kehilangan pekerjaan.
Melalui gebrakan yang dilakukan pada beberapa programnya, Pegadaian hadir dengan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapai masyarakat Papua. Lebih dari itu, Pegadaian mengajak masyarakat Papua untuk menemukan kehidupan yang lebih baik lagi.
Pimpinan PT. Pegadaian Cabang Merauke, Welmy Nahuway mengatakan bahwa Pegadaian memiliki komitmen untuk menjadi salah satu mitra pemerintah yang konsern dalam membantu masyarakat Papua. Ia menyebutkan, pihaknya memiliki program-program yang sangat ramah bagi masyarakat Papua.
“Pegadaian punya misi dan visi jelas untuk membantu pemerintah. Dalam hal ini masyarakat menenggah kebawah, apalagi dimasa pandemi. Pegadaian telah meluncurkan salah satu produk, namanya Gadai Prima. Itu pinjamannya walaupun terkesan sedikit, tetapi sangat membantu. Karena pinjamannya dari 50 ribu sampai 500 ribu, dan itu pengembaliannya dalam waktu 5 bulan tanpa bunga. Jadi ambil 500 kembali pun 500. Makanya itu yang kita genjot untuk membantu masyarakat. Apalagi kita ditanah Papua, yang pasti kita harus membantu masyarakat Papua,” ujar Welmy, di ruang kerjanya, Selasa (30/3/2021).
Komitemen untuk membantu masyarakat Papua, Imbuh Welmy, juga diwudukan dengan berbagai kemudahan yang diberlakukan dalam program lainnya. Salah satunya adalah nasabah masyarakat Papua bisa memperoleh pinjaman walaupun tidak memiliki emas atau kendaraan sebagai anggunan. Selain itu, nasabah juga tidak dibebani dengan bunga pinjaman.
“Kita mengatakan bahwa disini bukan hanya emas, tetapi dengan elektronik, bapak ibu bisa dapat pinjaman. Jadi kita sasar dengan itu saja, dan mereka tidak terbebani. Karena tanpa bunga, dan hanya dalam jangka dua bulan. Kalau misal belum bisa tebus, bisa diperpanjang lagi. Produk itu kita sasar untuk masyarakat Papua,” imbuhnya.
Sementara bagi para pelaku usaha, Welmy menyebutkan bahwa pihaknya memiliki produk Pegadaian Kreasi Ultra Mikro. Melaui produk ini, nasbah masyarakat Papua yang mejadi pelaku usaha dapat memperoleh modal usaha tambahan, dengan BPKB kendaraan sebagai jaminan.
“Untuk pengusaha UMKM, kita punya produk namanya ultra mikro. Itu nasabah yang punya usaha, tapi butuh modal untuk mengembangkan, ya silahkan saja. Nanti pinjamannya sampai dengan 10 juta dengan angunan BPKB kendaraan,” pungkasnya.
Masyarakat Papua Puas
Sebagian besar nasabah dari masyarakat asli Papua mengaku sangat puas dengan berbagai program yang ditawarkan oleh Pegadaian. Yakoba Wakman, misalnya, perempaun asli Papua asal Merauke yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini memilih mengadaikan emas miliknya dari pada menjualnya ke toko emas. Ia menilai, harga gadai lebih tinggi dari pada harga jual. Sementara dengan gadai ia masih berkesempatan menebusnya kembali dikemudian hari.
“Sa (Saya) mau gadai cincin untuk keperluan anak bayar uang ujian sekolah sudah diujung, emergensi. Sa rasa puas sekali, yang tadi sa lihat hasil memang memuaskan. Tidak jauh harga dengan yang kita beli, hanya kurang mungkin 20 ribu. Tidak seperti kita kalau jual kembali, potonganya lebih besar,” ujarnya, di Kantor Pegadaian Merake, Senin (5/4/2021).
Senada dengan Yakoba, Wiliam gebze, petani padi asli Papua ini juga mengungkapkan hal yang sama. Wiliam mengaku sangat terbantu dengan program Pegadaian Kreasi Usaha Mikro guna membantunya memperoleh modal tambahan untuk menanam padi. Merasa sangat puas, Ia mengaku telah berulangkali menggunakan program ini.
“Saya sangat terbantu dengan adanya kehadiran pegadaian, saya perlu modal usaha bisa dibantu. Dengan bantuan modal itu, usaha saya bisa jalan, khususnya usaha pertanian. Karena saya kemarin pinjam untuk usaha pertanian sudah 3 kali. Jadi saya pinjam pelunasannya 6 bulan sekali bayar lunas begitu. Bunganya sangat kecil sekali, bagi saya tidak memberatkan,” katanya melalui sambungan telepon, Rabu (7/4/2021).
Demikian juga dengan Edoardus Bowel, Ia mengaku lebih suka menambung di Pegadaian daripada di Bank. Bahkan, karena kepuasannya, ia telah mengajak saudara dan kerabatnya untuk menabung juga di Pegadaian.
“Saya lebih senang berinfest kesitu, lebih baik dari pada saya menabung di Bank, lebih senang di Pegadaian begitu, karena lebih cocok dan lebih senang. Saya juga mengajak saudara-saudara saya, beberapa orang dan mereka menabung juga ke pegadaian,” ungkapnya, Rabu (7/4/2021).
Lebih jauh, Edo mengaku juga mempercayakan Pegadaian untuk membantunya dalam membangun rumah tempat tinggalnya. Menurutnya, cicilan dan bunganya tidak membebaninya. “Kalau menabungkan baru dibuka 2017. Tatapi kalau mengadai kan sudah dari 2013. Saya berterimakasih juga, dari situ sempat juga membangun rumah. Sementara sekarang masih ada cicil sedikit-sedikit dan berjalan. Bunganya tidak besar, dan sangat senang,” terangnya. [WEND-NAL]
