Pemilihan Ketua RT Diwarnai Aksi ‘Walk Out’

0
Pemilihan Ketua RT 19,Kelurahan Samkai, Distrik Merauke, kemarin.

Pemilihan Ketua RT 19,Kelurahan Samkai, Distrik Merauke, kemarin. Foto: PSP/FHS

Merauke, PSP – Walk Out atau memilih meninggalkan ruangan bukan hanya terjadi di ruang Parlement saja. Pemandangan ini, bisa pula terjadi sampai pada Pemilihan Ketua Rukun Tetangga (RT). Kejadian ini, terjadi di RT 19, Kelurahan Samkai, Kabupaten Merauke. Pemilihan tersebut semula berjalan lancar, namun tiba-tiba  sebagian warga memilih ‘walk out’, Jumat (19/2). Puluhan warga meninggalkan lokasi pemilihan dan kembali ke kediaman masing-masing. Meski begitu, pemilihan tetap dilanjutkan dan Matias, jadi Ketua RT, atas kesepakatan warga yang tersisa.

Menurut salah satu warga yang tidak ikut memberikan hak pilihnya, menyampaikan, bila ada pemillihan seharusnya ada pemberitahuan, siapa yang berhak memilih dan siapa saja  kandidat yang akan  dipilih warga. Tujuannya, agar masyarakat bisa memilih, siapa yang dinilai yang terbaik. “Alasan sebagian warga memilih pulang, minta maaf ya, mungkin karena ketidakpuasan,” ujarnya.

Dia menambahkan, kemuan warga hadir dalam pemilihan itu untuk memilih pemimpin yang bisa membimbing warga.

Hal serupa juga disampaikan warga lainnya. Menurutnya, siapa pun yang terilih jadi Ketua RT, diharapkan yang bisa membimbing warganya, tanpa terkecuali.

Kepala Kelurahan Samkai, Amelia Ester Padwa, mengatakan pemilihan itu dilakukan, karena Ketua RT sebelumnya mengundurkan diri, karena merasa tidak mampu menjalankan tugasnya. Maka, dari Kelurahan warga setempat menunjuk Matias jadi RT, sesuai dengan kurun waktu yang ditentukan aturan. Maka, setelah batas waktunya habis, dilakukan pemilihan.

“Memang sampai siang ini tidak ada lagi kandidat. Kami hanya mendapat satu calon,” terangnya.

Berdasarkan keputusan suara terbanyak, sebutnya, warga kembali memilih Matias untuk memimpin RT 19. Ia akan memimpin RT tersebut selama lima tahun ke depan. Namun, jika dalam perjalanan tugas ada halangan yang berkaitan dengan kriminalitas maupun kesehatan, maka dari Kelurahan berhak untuk melakukan pemilihan kembali.

Ditanya soal  sebagian warga memilih pulang dan tidak ikut memilih, Amelia menyebut itu mungkin ada masalah pribadi atau miskomunikasi. “Yang pulang tadi, sudah kami putuskan bersama, itu suara terkecil,” ucapnya. Kembali ditanya, soal penyampain warga yang mengaku tidak ada pemberitahuan sebelumnya, Amelia menyebut pihaknya bekerja secara professional. Undangan itu, bukan harus dari Lurah yang menyampaikannya. Karena, RT merupakan bagian dari kelurahan. “Kami sudah menyampaikan ke RT. Kegiatan ini semua difasilitasi oleh RT yang menjabat,” kata Amelia.[FHS-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *