Tiga Kampus Bergandeng Tangan Hadirkan Air Bersih untuk Warga Telaga Sari

0

Merauke, PSP — Setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Harapan akan ketersediaan air bersih akhirnya datang lewat kerja sama tiga perguruan tinggi: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Musamus (Unmus) Merauke.

Selama ini, masyarakat Telaga Sari hidup di kawasan dataran rendah dengan ketinggian hanya sekitar satu meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis itu membuat sumber air tanah sulit dijangkau dan kualitasnya pun kurang layak untuk dikonsumsi. Satu-satunya harapan warga hanyalah air hujan yang ditampung di embung.

Melihat kenyataan tersebut, tim gabungan dari tiga kampus turun langsung ke lapangan pada 9–13 Oktober 2025. Program yang mereka jalankan berjudul “Integrasi Data Geospasial dan Teknologi Filtrasi Tepat Guna untuk Penyediaan Air Bersih Berbasis Air Hujan.” Tujuannya sederhana tapi bermakna besar: membantu warga memiliki sistem penyaringan air yang mudah dibuat, murah, dan bisa digunakan dalam jangka panjang.

Dari Peta ke Saringan Air

Ketua tim, Miga Magenika Julian, S.T., M.T., dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, menjelaskan bahwa program ini menggabungkan dua bidang ilmu—pemetaan geospasial dan teknologi tepat guna.

“Pertama, kami menganalisis kondisi wilayah dan daerah aliran sungainya supaya tahu di mana lokasi-lokasi yang paling berpotensi menampung air hujan,” ujar Miga.

“Setelah itu, kami ajarkan warga membuat alat penyaring air sederhana yang bisa mereka rakit sendiri dengan bahan yang mudah didapat di sekitar,” tambahnya.

Sistem penyaringan tersebut menggunakan drum plastik berkapasitas 110 liter yang diisi dengan beberapa lapisan bahan seperti kapas, zeolit, pasir silika, cangkang kerang, dan arang aktif. Setiap lapisan punya fungsi berbeda—mulai dari menyaring kotoran, lumpur, hingga menghilangkan bau tak sedap dari air.

Inovasi ini bukan hanya praktis, tapi juga ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan alami dan limbah rumah tangga seperti cangkang kerang yang banyak tersedia di pesisir Merauke. Dengan semangat gotong royong, kolaborasi ITB, UB, dan Unmus diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turun tangan bersama membangun desa-desa perbatasan di Tanah Papua.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *