Insiden Warga Asmat Ditembak Mati oleh Diduga KKB, Apolo Safanpo : Pemerintah daerah berkomitmen untuk membantu aparat keamanan di lapangan.
Apolo Safanpo.
Merauke, PSP – Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo bilang pemerintah daerah berkomitmen untuk membantu aparat keamanan di lapangan. Menyusul kejadian tewasnya warga sipil di kampung Ulakin, Distrik Kold Braza, Asmat, Minggu pekan lalu.
“Pemerintah daerah berkomitmen untuk membantu aparat keamanan di lapangan,” kata Gubernur Safanpo kepada wartawan di Kantor DPRP Papua Selatan, Kamis (25/9)
Menurut dia, masyarakat tidak boleh mengambil tindakan sendiri jika menemukan pelanggaran hukum, melainkan harus menyerahkannya kepada pihak berwenang.
“Kalau ada pelanggaran hukum, jangan main hakim sendiri. Serahkan kepada aparat,” tegasnya.
Menurutnya, hingga saat ini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Pangdam dan Kapolda terkait kebutuhan di lapangan, termasuk perkembangan penyelidikan atas insiden penembakan warga sipil di Kabupaten Asmat.
“Kami masih tunggu hasil penyelidikan. Informasi di lapangan bisa simpang siur, jadi kita harus berpatokan pada data resmi dari aparat,” katanya.
“Kita masih tetap berkoordinasi dengan Pangdam dan Kapolda terkait hal-hal apa yang dibutuhkan oleh prajurit kita dilapangan,”ujarnya.
Terkait itu, kata dia, hingga kini Pangdam dan Kapolda masih terus melakukan penyelidikan terkait peristiwa penembakan tersebut.
Seperti diketahui, Seorang warga sipil dilaporkan tewas akibat tertembak di Provinsi Papua Selatan tepatnya di Kampung Ulakin, Distrik Kolf Braza, Kabupaten Asmat, Minggu (21/9).
Kapolres Asmat, AKBP Wahyu Basuki, S.I.K membenarkan informasi tersebut saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Senin malam (22/9).
“Korban sipil tewas tertembak,” kata AKBP Wahyu singkat.
Kasi Humas Polres Asmat, Ipda Agung Raka, S.H, mengkonfirmasi korban adalah warga sipil, dan pelaku penembakan diduga kuat berasal dari kelompok kriminal bersenjata (KKB).
“Iya benar korban ditembak dan itu warga sipil. Pelaku diduga kelompok KKB,” tegasnya.
Selain itu, delapan orang guru juga telah berhasil dievakuasi ke Agats guna menghindari potensi ancaman lanjutan. “8 orang nakes termasuk guru sudah dievakuasi ke Agats,” kata Ipda Agung. [ERS-NAL]
