Dinkes Perkirakan Kasus TB di Merauke Mencapai 2.000 Kasus Tiap Tahunnya

0
dr. Nevile Muskita

dr. Nevile Muskita

Merauke, PSP – Kepala dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Merauke, dr. Nevile Muskita mengungkapkan perkiraan kasus Tubercokulosis (TB) di kabupaten Merauke setiap tahunnya sekitar 2.000-an kasus.

Dirinya menjelaskan bahwa dalam upaya menurunkan angka TB tersebut, pihaknya aktif secara langsung melakukan screening kepada masyarakat melalui Puskesmas Keliling (Pusling) dan berbagai kegiatan lainnya.

“ Kalau screening pasiennya kita integrasikan dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya rutin dan juga secara aktif dilakukan melalui Pusling ke kampung-kampung,” katanya kepada media ini di kantor Bupati, Kamis (17/7).

Lebih lanjut, dr. Nevile menuturkan upaya tersebut perlu dilakukan agar pasien TB bisa cepat ditemukan dan segera diobati supaya lama-lama kasusnya menurun.

“ Misalnya kita temukan, kemudian kita obati dan bisa memutuskan rantai penularan sehingga penularan di masyarakat itu bisa diputus,” tuturnya.

Selain turun langsung, dirinya menghimbau agar masyarakat berpartisipasi dan kerjasama jika ada keluarganya yang memang bergejala atau mungkin batuk yang tidak sembuh-sembuh kemudian ada gejala yang mungkin mengarah ke TB harus segera memeriksakan diri agar ketika diperiksa ternyata positif TB kemudian diobati agar tidak menularkan minimal ke keluarga dan juga tetangga disekitar.

“ Sekarang kita di Tb itu ada pencegahan jadi misalnya ada keluarga yang positif TB, itu ada obat untuk pencegahan ke keluarganya meskipun keluarganya tidak positif saat diperiksa. Cuman terapi pencegahan itu masih informasi dari teman-teman di lapangan masih ada juga yang menolak dengan alasan kita tidak sakit kok minum obat, mungkin perlu edukasi lagi padahal itukan sebenarnya untuk pencegahan,” tambahnya.

Terlebih, untuk pengobatan pasien TB yang cukup lama, keluarga harus berperan aktif dalam mengawasi pasien selama masa pengobatan. “ Dari dulu memang kalau untuk pasien TB itu strategi pengobatannya jangka pendek dengan pengawasan, itu wajib kita lakukan untuk pengawasan tapi pengawasan itu juga tidak harus dari kita saja tapi harus dari keterlibatan masyarakat. Contoh misalnya ada salah satu anggota keluarga yang sakit TB, berarti anggota keluarga lain punya kewajiban untuk juga mengawasi dia minum obat atau tidak, kalau waktunya obat mau habis untuk ngambil obat juga,” pungkasnya.[JON-NAL]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *