Mahasiswa Unmus Titip Harapan untuk Rektor Baru
Merauke, PSP – Pemilihan rektor Universitas Negeri Musamus (Unmus) Merauke tinggal menghitung hari. Di tengah riuhnya proses suksesi, mahasiswa tak tinggal diam. Mereka mulai menyuarakan harapan—bukan soal siapa yang terpilih, tapi seperti apa wajah kepemimpinan yang mereka impikan untuk lima tahun ke depan.
Presiden Mahasiswa Unmus, Yoram, menyampaikan sejumlah catatan penting terkait Pilrek kali ini. Ia menyoroti absennya keterwakilan Orang Asli Papua (OAP) di antara tiga calon rektor yang kini tersisa.
“Kami dari BEM sudah sampaikan hal ini saat pemaparan visi-misi para calon. Harapan kami, proses kaderisasi ke depan bisa dipersiapkan lebih matang, agar lima tahun ke depan ada anak Papua yang siap maju jadi rektor,” kata Yoram dari balik ponselnya, Kamis (26/06).
Ia juga mendorong agar kampus lebih serius memfasilitasi alumni Unmus untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3. Menurutnya, penguatan SDM dari dalam kampus merupakan kunci agar Unmus bisa lebih mandiri dan kompetitif di masa depan.
Fasilitas kampus pun tak luput dari perhatiannya. Ia menilai sarana penunjang akademik, seperti laboratorium, masih belum memadai dan perlu pembenahan.
Tapi, bagi Yoram, ada satu hal yang menjadi harapan utama mahasiswa, “Kami ingin rektor yang terbuka, yang mau merangkul semua unsur di dalam Universitas Negeri Musamus. Itu saja,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua BEM Fakultas Hukum, Heldiaman Ndruru, turut menyampaikan tujuh poin harapan dari mahasiswa hukum. Dalam wawancara yang juga dilakukan lewat telepon, ia menyoroti pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan kampus, peningkatan fasilitas belajar, serta percepatan pembangunan auditorium yang hingga kini masih mangkrak.
Ia juga berharap agar rektor baru nanti memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan kemahasiswaan, baik dalam hal dukungan anggaran maupun penghargaan terhadap mahasiswa berprestasi.
“Kami juga ingin kampus terbuka terhadap ruang diskusi publik, termasuk memberi kesempatan bagi organisasi mahasiswa menghadirkan calon eksekutif ke mimbar akademik, terutama saat pemilu. Itu bagian dari pendidikan politik yang sehat,” ujarnya.
Tak kalah penting, Heldiaman menekankan perlunya ketegasan rektor dalam menangani dosen yang tidak profesional, baik dalam bentuk pelecehan, diskriminasi, maupun kelalaian dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Lewat berbagai suara ini, mahasiswa ingin menegaskan bahwa Pilrek bukan sekadar pergantian jabatan. Tapi sebuah momentum pembenahan menuju kampus yang lebih inklusif, lebih maju, dan benar-benar berpihak pada seluruh sivitas akademika Unmus.[CR1-NAL]
