8 Desember 2021

Papua Selatan Pos

Berita harian pagi Papua Selatan Pos

Polda Papua Barat : KNPB Dibalik Penyerangan Posramil Kisor

Sorong, PbP – Setelah melalui proses penyelidikan dan penyidikan oleh penyidik Satreskrim Polres Sorong Selatan diback up Direktorat Reskrim Umum Polda Papua Barat, akhirnya kasus penyerangan Pos rayon militer (Posramil) Kisor, Kodim 1809/Maybrat, Distrik Aifat Selatan yang dilanjutkan dengan penganiayaan mengakibatkan 4 prajurit TNI masing-masing Lettu Chb Dirman (Danposramil Kisor), Serda Apri Yudiman, Praka Mohammad Dhirmansyah, Pratu Sul Ansari Anwar meninggal dunia dan 2 lainnya yaitu Sertu Juliano Askusriandi dan Serda Imanuel Wenatubun menderita luka berat, Kamis (2/9) mulai terungkap para pelakunya.

Kepala bidang humas Polda Papua Barat Kombes Pol Adam Erwindi,S.I.K.,M.H saat menggelar konfrensi persnya di Press room Mapolda Papua Barat, Jumat (10/9) menegaskan bahwa otak dan eksekutor penyerangan Posramil Kisor, Kodim 1809/ Maybrat yang berlokasi di Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat itu adalah kelompok komite nasional papua barat (KNPB) dibawah kepemimpinan Silas Ki, Warga Kampung Imsum.

Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Sektor Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat Silas Ki diduga sebagai otak pembunuhan berencana 4 anggota TNI dan penyerangan Pos Ramil Kisor, Kodim 1809/Maybrat, Kamis (2/9/2021) lalu. Inisiasi dan keterlibatan Silas Ki ini diketahui dari keterangan MY dan MS yang juga berstatus tersangka dan dilakukan penahanan di Rutan Polres Sorong Selatan.

Aksi tersebut terwujud pada saat sebelum pelaksanaan aksi tak bertanggung jawab itu, kelompok KNPB wilayah Aifat tersebut melakukan pertemuan selama dua kali untuk mengatur strategi penyerangan terhadap posramil TNI kisor karena diduga sudah menjadi target kelompok KNPB sehingga niat pembunuhan terhadap prajurit TNI mulai direncanakan dalam rapat-rapat yang digelar secara diam-diam selama dua kali.

Menurut penjelasan tersangka MY dan MS bahwa pertemuan pertama yang diinisiasi tersangka Silas Ki berlangsung pada tanggal 3 juli 2021 di rumah salah satu warga kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan berinisial OK, strategi menyerang mulai diatur namun belum matang, pertemuan kedua kembali digelar di rumah Silas Ki yang merupakan markas KNPB pada tanggal 2 September 2021, pukul 01.00 WIT.

Pertemuan berlangsung selama 3 jam, tepat pukul 03.00 WIT Silas Ki memimpin 18 rekannya lainnya menyerang Posramil Kisor yang tidak jauh dari markas KNPB dengan formasi tiga penjuru yaitu kiri, kanan dan depan. Hanya dengan bermodalkan tiga senjata rakitan yang dibawa oleh Manfred  Fatem, Silas Ki dan Musa Aifat serta alat tajam dipegang anggota KNPB lainnya dapat berhasil mengeksekusi aksi mereka yang sudah terencana itu.

“Karena melakukan penyerangan mereka sudah melakukan pertemuan dua kali sehingga pasal yang disangkakan kepada 19 tersangka pasal 340 subsider 338 jo pasal 55 ayat 1 ke 1E dan 56 ayat 1 ke 1E  KUHP tentang pembunuhan berencana, ini adalah tindak pidana murni sehingga ancaman hukumnnya hukuman mati, seumur hidup atau 20 tahun” tegas Kabid Humas Polda Papua Barat.

Awalnya kata Kabid Humas tim gabungan TNI/POLRI berhasil menangkap 2 militan KNPB wilayah Aifat yang diduga sebagai pelaku penyerangan Posramil Kisor berinisial MY (20) asal dari kampung boksu, MS (18) asal dari kampung Imsum, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat. Dari hasil pemeriksaan baik saksi maupun kedua tersangka tim penyidik Polres Sorong Selatan memperoleh informasi terkait kejadian tersebut sehingga didapatlah 17 nama pelaku lain serta perannya dalam kegiatan pembunuhan berancana tersebut

“Sehingga pada tanggal 9 September 2021 Polres Sorong Selatan mengeluarkan DPO terhadap 17 orang yaitu Silas Ki, Manfred Fatem, Musa Aifat, Setam Kaaf, Titus Sewa, Irian Ki, Alfin Fatem, Agus Kaaf, Melkias Ki, Melkias Same, Amos Ki, Yunus Ki, Moses Aifat, Martinus Aisnak, Yohanes Yaam, Agus Yaam dan Robi Yaam,” jelas Adam Erwindi

Dari 17 tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang ini 14 orang Kampung Imsum yaitu Silas Ki, Manfred Fatem, Musa Aifat, Setam Kaaf, Alfin Fatem,  Agus Kaaf, Melkias Ki, Melkias Same, Amos Ki, Yunus Ki, Moses Aifat, Yohanes Yaam, Agus Yaam dan Robi Yaam, kemudian 2 orang dari kampung Nisor yakni Titus Sewa dan Irian Ki serta Martinus Aisnak  dari kampung Aiysa, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat.

“Kami TNI/Polri akan terus memburu pelaku hingga pelaku tersebut menyerahkan diri atau di tangkap. Kepada masyarakat yang mengungsi kami himbau untuk kembali ke rumah masing-masing, beraktifitas seperti biasanya, Kami menjamin keamana dan ketertiban di Kabupaten Maybrat, kehadiran TNI-POLRI di sana bukanlah operasi militer, melainkan mencari para pelaku tindak pidana tersebut, ” himbau Kabid Humas.

Sementara itu Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari belum meyakini bahwa ke 17 warga sipil yang diumumkan Polda Papua Barat sebagai tersangka adalah benar secara hukum, karena aspek penetapan tersangka sangat membutuhkan kehati-hatian, dimana diperlukan alat bukti sebagai diatur dalam Pasal 184 UU No.8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Ada kurang lebih 5 (lima) alat bukti, yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa, sehingga penetapan 17 orang warga sipil sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) sedikit mengusik perasaan keadilan yang hidup dalam masyarakat.

“Bahkan nama-nama yang disebut terdapat satu orang yang masih termasuk kategori anak yaitu usia 11 tahun atas nama Roby Yaam, kami telah memperoleh informasi dari sumber kami di Distrik Aifat Selatan bahwa ke-17 nama-nama yang disampaikan Kabid Humas Polda Papua Adam Erwindi tersebut, 11 diantaranya sesungguhnya adalah warga sipil biasa yang tidak mengetahui peristiwa tragis di Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat (2/9),” ungkap Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari Yan Christian Warinussy melalui siaran persnya yang diterima Tabura Pos (Grup Papua Selatan Pos) ini, Sabtu (11/9).

Lebih lanjut dijelaskan Warinussy bahwa 11 orang tersebut adalah Melkias Ki (24) pekerjaan petani asal Kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 2.Anis Ki (22) Pelajar, kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 3.Irian Ku (18) petani, Kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 4.Yohanis Yaam (19) pelajar SMP, kampung Imsun; 5.Agus Kaaf (21) petani, kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 6.Roby Yaam (11) pelajar SMP, kampung Buohsa, Distrik Aifat Selatan; 7.Musa Aifat(25) petani, kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 8.Moses Aifat (25) petani, Kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 9.Moses Woraid (17); 10.Yunus Ki (26) petani, Kampung Imsun, Distrik Aifat Selatan; 11.Alfin Fatem (20) petani, kampung Buohsa, Distrik Aifat Selatan.

LP3BH Manokwari meminta aparat penyidik Polda Papua Barat bersama Polres Sorong Selatan dapat berkoordinasi secara baik mengenai data tersebut. Sehingga menolong penyidik Polres Sorong Selatan melalui Kapolres dan Kasat Reskrimnya untuk dapat menemukan siapa sesungguhnya pelaku penyerangan terhadap Posramil Kisor tersebut segera.

“Kami telah mendapatkan permintaan tertulis dari orang tua dan keluarga tersangka MY untuk memberi bantuan hukum kepadanya sesuai amanat pasal 69, pasal 70 dan pasal 71 UU No.8 Tahun 1981 Tentang KUHAP,” ujarnya.

Sedangkan Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) mendukung langkah yang diambil TNI/Polri untuk mencari pelaku dan otak dari penyerangan Posramil Kisor, Maybrat. Hal ini ditegaskan Ketua MRPB, Maxsi Nelson Ahoren saat berada di Kabupaten Maybrat, menghadiri Pelantikan Panitia Pelaksanaan Kegiatan Seminar dan Kongres I Suku Besar A3, Jumat (10/9) seperti dirilis humas MRPB yang diterima media ini, Jumat siang.

Namun menurut Maxsi, saat pengejaran yang dilakukan pihak aparat TNI-Polri jangan sampai berimbas pada rakyat. Sebab rakyat tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi saat ini. Maxsi meminta Pemerintah Provinsi Papua Barat maupun Pemerintah Kabupaten Maybrat untuk mengambil langkah tepat, dengan mengeluarkan instruksi kepada warga masyarakat empat distrik yang berada di hutan untuk segera kembali ke kota.

“Jangan lagi bersembunyi di hutan. Sebab dikhawatirkan jika terjadi kesalahpahaman antara TNI-Polri dengan masyarakat, dalam arti nantinya kalau mereka bertemu, malah dianggap mereka yang melakukan penyerangan, sehingga diharapkan warga yang lari ke hutan atau ke mana saja untuk segera kembali ke kota, “ kata Ketua MPRB Maxsi Nelson Ahoren. Maxsi berharap pemerintah harus mengambil langkah untuk merumahkan semua masyarakat  yang ada di Kabupaten Maybrat, terlebih khusus untuk mereka yang berada di  empat distrik dengan merumahkan mereka, maka Pemerintah Provinsi harus membantu Pemerintah Kabupaten untuk memikirkan bagaimana makan, minum warga, agar untuk sementara mereka tidak keluar untuk mencari atau berkebun. “Saya minta kepada Gubernur untuk segera mengambil langkah ini untuk bersama-sama membantu Bupati Maybrat untuk kita harus merumahkan yang hari ini terkena dampak ini yang berada di empat distrik, “ tandasnya.

[ARS/SF-NAL]

error: Content is protected !!