Demo Tuntut Rektor Harus OAP, Massa Bersitegang Dengan Security Unmus
Koordinator massa aksi demo di Unmus terkait rektor bersitegang dengan penjagaan. Foto: PSP/ERS
Merauke, PSP – Forum Solidaritas Pemerhati Mahasiswa, Pemuda dan Masyarakat Papua serta Saudara Nusantara di Kabupaten Merauke, kembali menggelar unjuk rasa terkait tidak adanya keterbukaan publik tentang pemilihan rektor di Kampus Universitas Negeri Musamus (Unmus) Merauke, Jumat (7/5).
Aksi yang di koordinatori Nikodemus Wedua ini, sempat bersitegang leher dengan pihak penjagaan gerbang UNMUS lantaran wartawan yang ingin meliput aksi untuk menyuarakan aspirasi mereka tidak diperbolehkan masuk.
“Kenapa media tidak bisa masuk, ada apa di dalam ini,”teriak Nikodemus Wedua kepada security yang diikuti suara massa.
Salah seorang yang diduga keamanan kampus menjawab, “Ini SOP dari kampus kami, ini arahan pimpinan kami”. Jawaban itu disampaikan pihak keamanan kampus atas pertanyaan Koordinator aksi.
Kurang lebih setengah jam massa bersitegang dengan pihak penjagaan kampus, akhirnya perwakilan massa diperbolehkan masuk membawa aspirasi. Namun, tanpa di ikuti sejumlah wartawan.
Hasil liputan media ini dari lokasi aksi, dalam aksi unjuk rasa itu, Forum Solidaeitas menyuarakan tuntutan, antara lain meminta Presiden RI, Ir.H Joko Widodo segera menindaklanjuti masalah Pemilihan Rektor Unmus Merauke. Massa meminta pula Dirjen Dikti segera mengakomodir Orang Asli Papua (OAP) sebagai Rektor Unmus.
Massa aksi meminta pula agar Rektor Unmus harus OAP yang sudah siap secara persyaratan sebagaimana yang diajukan Panitia Pengangkatan Rektor Unmus periode 2021-2025 dan juga memenuhi syarat Permendikti.
Mereka juga meminta kepada Senat Unmus untuk mendukung OAP jadi Rektor Unmus periode 2021-2025. Apabila Rektor Unmus bukan OAP, maka massa akan kembali menduduki Kampus Musamus Merauke tanggal 2 Juli 2021. “Kami tolak Rektor Unmus bukan OAP,” ditegaskan dalam poin orasi massa aksi. “Pada tanggal 29 Apri 2021 gelombang pertama pendaftaran calon rektor dan sudah ditutup. Dari tanggal 29 April-6 Mei 2021 itu gelombang kedua. Sampai hari ini, belum mengeluarkan secara resmi calon rektor yang akan bertarung. Oleh sebab itu pada hari ini, kami datang kesini untuk menanyakan kepada pihak rektorat dan panitia. Kami minta kejelasan dan klarifikasi, kenapa proses ini bisa ditutup-tutupi. Tidak ada transparansi,” kata Nikodemus Wedua. [WEND/ERS-NAL]
