Diperkirakan Musim Kemarau akan Terjadi Akhir Mei
Penjelasan Prakiraan Musim Kemarau Oleh BMKG Tahun 2021. Foto: PSP/WEND
Merauke, PSP – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Merauke sebut bahwa musim kemarau akan mulai terjadi pada akhir Mei mendatang. Hal ini ditegaskan dalam Konferensi Pers Prakiraan Musim Kemarau 2021 di Kantor Stasiun Meteorologi, Senin (29/3/2021).
Kepala Stasiun Klimatologi Tanah Miring, Sulaiman mengatakan bahwa pada awal musim kemarau nantinya dipastikan masih akan ada hujan. Bahkan menurutnya, intensitasnya lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
“Diperkirakan wilayah Merauke memasuki musim kemarau pada akhir bulan Mei minggu ketiga. Sifat hujan diawal musim kemarau itu atas normal. Jadi curah hujan selama musim kemarau akan tetap ada dan jumlahnya sedikit lebih banyak dari biasanya,” terangnya kemarin.
Sulaiman menambahkan, bahwa yang disebut dengan musim kemarau bukan berarti sama sekali tidak akan ada hujan. Namun menurutnya, hujan tetap saja bisa terjadi, namun intensitasnya berbeda dengan hujan pada musim penghujan.
“Jadi musim kemarau itu tidak serta merta menghilangkan hujan. Jadi musim kemarau itu kita menghitung jumlah hujan apabila rekapitulasi hujan selama sepuluh hari itu kurang dari 50 (hujan), itu dikatakan musim kamarau. Apabila dalam satu bulan itu dibawah 150, itu masih kita katakana musim kemarau. Jadi hujan akan tetap ada, tetapi jumlahnya akan sangat kurang,” terangnya.
Sementara itu, ia memprediksi bahwa puncak musim kemarau akan terjadi pada Juni hingga Agustus mendatang. “Puncak musim kemarau, kita memprediksi pada bulan Juni. karena kita memprediksi jumlah curah hujan lebih sedikit dari bulan-bulan sebelumnya,” tambahnya.
Sulaiman juga menyinggung beberapa dampak positif dan negatif yang secara umum terjadi pada musim kemarau. Oleh karenannya, ia meminta kepada masyarakat agar waspada dan berhati-hati apabila salah satu dampak negatif terjadi disekitar wilayahnya. “Pengaruh positifnya lancarnya transportasi baik darat, laut maupun udara, dan hama tanaman yang sensitif terhadap kondisi lembab menurun. Sementara negatifnya kurangnya asupan air untuk pertanian, meningkatnya kualitas udara khususnya bagi kesehatan (penyakit ISPA dan Dehidrasi) dan Waspada karhutla,” pungkasnya. [WEND-NAL]
